Periksa Skoliosis Dengan BPJS (1)

Setelah sekian lamanya nggak periksa skoliosis, akhirnya saya terpaksa memeriksakan diri ke dokter lagi karena merasa sesak napas dan nyeri dada saat sedang berolahraga. Tadinya nggak curiga itu dari skoliosisnya, cuma karena memang dah lama juga nggak cek up kondisi skoliosis jadi ya.. nothing to lose lah, ya. Mengingat kami punya kartu BPJS Kesehatan (mandiri- alias bayar sendiri setiap bulan), maka kami coba untuk memanfaatkan fasilitas tersebut.

Jadi ceritanya per Agustus kemarin saya mulai rutin berolahraga lagi karena kok rasanya badan makin gempal dan kurang fit. Awalnya saya mulai dengan berenang. Ketika selesai berenang gaya bebas bolak balik, kok ada rasa nyeri menjalar dari punggung belikat kanan sampai ke dada bagian depan. Khawatir keram di tengah kolam, maka saya pun naik dan beristirahat. Minggu depannya, saya berenang lagi. Bahkan porsi pemanasan tubuh bagian atas saya tambah karena khawatir kejadian seperti minggu sebelumnya. Alas, nyeri-nya muncul lagi. Akhirnya saya stop berenang sementara.

Lalu saya beralih ke lari. Sebelum jogging, saya selalu awali dengan pemanasan. Setelah rutin jalan santai dan lari ringan selama seminggu, saya mulai menambah intensitas lari dan ternyata rasa sakit dan sesak yang saya alami saat berenang pun kembali muncul. Jarak tempuh lari pun cuma kuat 14 m. Cemen banget, ya.... 
Bingung campur khawatir, akhirnya saya beranikan diri untuk cek up lagi ke dokter memanfaatkan fasilitas BPJS.

Persyaratan yang diperlukan: berkas dan stok kesabaran yang buanyaaaak... :D


Senin, 17 Oktober 2016 (Hari 1 Minggu 1)


FASKES 1 (P*la Medik*, Depok)
Persyaratan administrasi (setoran berkas pertama):

  • Kartu BPJS (asli) 
  • KTP (asli) 
  • Kartu Keluarga (asli dan fotokopi)
Karena saya sudah pernah menggunakan fasilitas BPJS untuk hamil ektopik melalui faskes 1 ini, maka saya hanya perlu menunjukkan kartu BPJS asli yang digunakan resepsionis untuk mencari berkas rekam medis saya. 

Datang ke faskes 1. Optimis akan langsung dirujuk ke RS (karena di klinik tersebut nggak ada dokter spesialis tulang). Surat rujukan belum bisa diperoleh karena saya datang terlalu siang (sekitar jam 11). Menurut dokter, sekarang rujukan dari faskes ke RS ada kuotanya. Kalau sifatnya tidak urgent, maka surat rujukan bisa ditunda untuk keesokan hari. Saya pun disarankan untuk kembali ke faskes 1 besok pagi untuk sekadar ambil surat rujukan.

Selasa, 18 Oktober 2016 (Hari 2 Minggu 1)
Pukul 08.00 saya sudah sampai di faskes 1. Surat rujukan yang dijanjikan pun sudah di tangan.
Demi efisiensi (cieh..) maka saya menelepon RS. Hermina Depok untuk menanyakan jadual praktek dokter spesialis tulang. Dikarenakan padatnya jadual sang dokter, maka saya pun mendapat "jatah" konsultasi pada hari Rabu, 26 Oktober 2016. Artinya, saya harus menanti sampai seminggu ke depan. Saya pun menunggu hari tersebut dengan perasaan nggak karuan sebenernya. Nggak berani exercise apa-apa dulu daripada amsiong lagi. Hehe.. tapi ya kali ini saya ingin handle sampai tuntas. Nggak mau lagi menunda karena sepertinya skoliosisnya dah semakin nggak bisa diajak kerjasama.. haha

Rabu, 26 Oktober 2016 (Hari 1 Minggu 2)
FASKES 2 (RS Hermina Depok)
Persyaratan administrasi:
  • 1 lembar fotokopi kartu BPJS Kesehatan
  • 1 lembar fotokopi KTP
  • 1 lembar fotokopi Kartu Keluarga (KK)
  • 1 lembar fotokopi surat rujukan dari faskes tk. 1 
form untuk ke poli setelah semua persyaratan lengkap
Semua berkas asli (kecuali KK) wajib dibawa setiap berobat karena akan ditunjukkan ke loket pendaftaran BPJS. Untuk surat rujukan, biasanya terdiri dari dua lembar: 1 lembar surat rujukan dan 1 lembar rekomendasi DPJP. Nah, yang surat rujukan ini kita pegang aslinya aja. Biasanya pihak RS hanya butuh salinan. Untuk DPJP nanti akan diisi oleh dokter kalau memang kita harus kontrol balik ke dokter spesialis lagi, tanpa perlu minta surat rujukan dari faskes 1.
Setelah mendaftar, maka kita akan diberikan form dan berkas persyaratan untuk dibawa ke poli orthopaedi.

Menurut informasi dari staf pendaftaran, saya disarankan untuk datang pukul 12 siang untuk ketemu dokter pukul 2. Sampai di RS sekitar pukul 12.30, saya angsung ke loket pendaftaran BPJS di lantai dasar, di belakang gedung rawat jalan (pelayanan BPJS sore). Dapat antrian nomor 16 dan saya langsung diarahkan ke lantai 4, poliklinik orthopaedi.

Saya kabari #papoy dan bilang kalau dia bisa nyusul nanti sekitar jam 2 kalau dokternya sudah datang. Sampai di lantai 4, saya langsung ke nurse station untuk timbang badan dan tensi. Entah stress atau parno, tensi darah saya naik sampai 120/80, padahal biasanya tensi darah saya rendah, sekitar 90/70 -__-"
pacaran sambil nunggu antrian
Papoy datang jam 2.15 kemudian kami duduk di depan ruang tunggu sambil pacaran. Kami habiskan waktu dengan mengobrol dan main hp juga sih.. dengar musik barengan via satu earphone.  Sekitar jam 4 sore, nama saya dipanggil. Dokter yang bertugas hari itu adalah dr. Ray Hendry, Sp.OT

As a doctor, beliau ini asyik banget diajak konsultasinya. Masih muda dan gaul. Praktik pake running shoes! (oke, ini nggak penting :D) Saya yang tadinya cukup stress jadi agak rileks, sih. Walaupun masih gaga gugu waktu ditanya sama si dokter Ray. Setelah memeriksa kondisi fisik saya sekilas, akhirnya beliau menyarankan untuk rontgen dan ketemu lagi seminggu kemudian. Beliau memberikan dua surat pengantar rontgen; vert. thoracolumbal AP/Lat dan vert. Lumbosacral AP/Lat. Karena menggunakan fasilitas BPJS, maka saya tidak diperkenankan untuk difoto sekaligus apalagi selfie di hari yang sama, harus dipecah menjadi dua hari pelayanan. Maka sore itu juga saya rontgen yang pertama, kemudian minggu depan rontgen kedua.

Dari poli orthopaedi di lantai 4, maka kami pun turun ke lantai 2 ke bagian radiologi. Setelah daftar, staf radiologi mengarahkan kami ke kasir lantai 1 dulu kemudian baru bisa foto. Then we went to the 1st floor, loket BPJS dekat parkiran untuk menyerahkan berkas dan mendapat struk pembayaran rontgen untuk bukti pengambilan hasil nantinya. Lalu naik lagi ke lantai 2 untuk foto.

Saat rontgen saya masih agak ngos-ngosan karena mondar mandir, ditambah rada gugup juga sih, makanya hasil fotonya jadi kurang baik. Alhasil, saya harus mengulang foto sampai 3 kali take. fufu.. maaf ya mbak suster... untung susternya baik... hihi.. katanya "khan nggak sakit bu, di-rontgen". Emang nggak sih, sust. Cuma hayati nervous.. haha..

Oya, sebelum pulang malam itu kami sempatkan dulu untuk daftar kontrol selanjutnya ke dr. Ray. Bener aja, ternyata nggak bisa dapat hari Rabu depan. Jadi kami dapat jadual praktek hari Jumat, 4 November 2016.

Senin, 31 Oktober 2016 (Hari 2 Minggu 3)
... bersambung



Comments

Popular posts from this blog

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) 2015

Meminta Maaf

Balada Stik Es Krim