Kemoterapi, oh kemoterapi

June 20, 2016

Menyambung kisah kehamilan ektopik saya 8 bulan yang lalu disini, maka saya ingin berbagi tentang proses kemoterapi (ringan) yang saya alami dalam rangka menangani KEbT.

Dideteksi oleh dr. Fahmi kemudian dieksekusi pula oleh beliau. Setelah perjalanan yang panjang, lama dan melelahkan maka akhirnya saya pun mendapatkan terapi MTx.

Ah, akhirnya di-kemo juga. Lega, takut, khawatir dan sedih semua rasa bercampur aduk menjadi satu.

 Efek samping dari kemo yang paling saya khawatirkan adalah menurunnya daya tahan tubuh. Dengan jarak sekolah tempat saya mengajar yang cukup jauh dari rumah (kurleb 1 jam perjalanan dengan motor), saya khawatir nantinya saya akan lebih banyak izin meninggalkan kelas apabila kondisi badan ringkih.

Maka saya pun mempersiapkan mental dan berdoa semoga saja sel-sel tubuh saya yang sehat tidak terlalu drop selama proses kemoterapi.
Dari dua pilihan cara kemoterapi, dokter memutuskan untuk memberikannya via injeksi. Maka hari Selasa, 11 November 2015 itu, saya ikhlaskan b*k*ng saya untuk diinjeksi. :p

Diiringi basmallah yang dilafadzkan oleh sang dokter, ujung jarum yang dingin terasa menembus kulit, maka sah lah cairan Methotrexate itu masuk ke dalam tubuh saya. 
Beberapa detik pertama, saya berusaha meresapi proses demi proses yang terjadi. Cairan MTX yang dingin itu terasa menjalar perlahan tapi pasti ke seluruh badan. Sensasinya hampir sama dengan injeksi penguatan paru untuk janin yang saya dapatkan dulu saat hamil #Asaboy.


Menit selanjutnya, saya langsung bangkit dari tempat tidur yang kemudian langsung ditahan oleh dr. Fahmi.
"Bu, tiduran saja dulu ya. Kan masih observasi, jadi nggak boleh langsung bangun. Ibu nggak pusing?"
Malu, maka saya manut kembali ke posisi berbaring seraya menjawab "Nggak dok. Rasanya biasa aja." Gaya banget. Padahal saya nggak tahu sejuta rasa berikutnya yang menanti.

Lima belas menit kemudian saya pun dipersilakan bangkit dari ranjang kemudian turun dan berjalan perlahan ke kursi. Dokter yang baik itu pun menanyakan lagi apa yang saya rasakan, namun saya tidak merasakan hal yang janggal. Maka saya pun diperbolehkan pulang.

Seharian paska kemo, saya tidak merasa aneh sama sekali. Mungkin saking girangnya bisa mendapat MTX di tangan yang tepat. Nah, hari berikutnya perjuangan saya dimulai. Haha


Keesokan harinya saya merasa pusing luar biasa saat bangun tidur. Mual-mual tetapi tidak ada yang bisa dikeluarkan. Persis morning sickness. Hari itu dan beberapa hari berikutnya saya tepar. Badan serasa sakit-sakit, mood berantakan dan semua terasa salah. Alhamdulillah, papoy dengan sabarnya merawat dan membantu saya sebisanya. Perdarahan masih terus berlanjut hingga 2 minggu kemudian. Efek lainnya yang saya rasakan adalah rambut rontok, wajah kusam dan kulit sangat kering. Nafsu makan pun seperti menguap entah kemana. 

Kadang ingin sekali makan sesuatu, tapi begitu makanan ada di hadapan, dicolek pun tidak. Belum lagi dengan emosi yang sangat labil. Detik ini bahagia, beberapa menit kemudian saya murung luar biasa bahkan menangis sedih tanpa ada sebab yang jelas. I felt like a crazy old lady.

Oya, sebelum proses kemoterapi saya diwajibkan untuk melakukan tes kadar beta HcG kuantitatif untuk mengukur kadar hormon kehamilan tersebut.Tes ini lumayan mahal juga. Hampir setengah juta sekali tesnya. Maka tabungan pun semakin lama semakin menipis. Mungkin itu juga yang membuat saya semakin emosi, Dasar emak-emak! Hehe

Tes beta HcG saya lakukan sebelum dan berjangka per 7 hari kemudian. Sepanjang kemo itu saya langganan testpack! Dari yang paling murah sampai yang mahal. Toko obat dekat rumah sampai hafal, setiap kali saya kesana sang bapak penjualnya bilang "mau beli testpack berapa, bu?" Haha.. mungkin beliau pikir betapa saya terobsesi ingin hamil. Padahal, saat itu yang paling saya harapkan adalah semakin menipisnya dua garis pada strip testpack tersebut.

Sekitar 3 minggu setelah injeksi, maka saya pun kembali kontrol ke dr. Fahmi sambil membawa hasil testpack pagi itu. Masih ada dua garis, meskipun agak samar. Allah sayang saya. Ternyata menurut dr. Fahmi, saya tidak memerlukan tahapan injeksi berikutnya. Yes! Artinya saya sudah terbebas dari segala morning sickness abal abal. 

Alhamdulillah, semua indah pada saatnya. Hari itu kami keluar dari ruang periksa poli kandungan dengan hati riang. Dokter pun menyatakan bahwa saya masih bisa hamil lagi sekitar sebulan setelahnya. Lalu beliau menyarankan kami untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis program kehamilan agar kehamilan berikutnya lebih sehat dan terencana dengan baik. Amin.



You Might Also Like

4 comments