Hamil Ektopik (4)

Disclaimer: Posting ini murni berisi kejadian yang saya alami dan tidak bermaksud untuk mendiskreditkan pihak-pihak tertentu. Semoga bermanfaat dan menjadi hikmah bagi para pembaca. 

Lanjutan dari posting ini

Sampai di RS Hermina, petugas melayani kami dengan baik. Setelah menunggu sekian lama untuk pengecekan berkas dan sebagainya, maka pihak RS menyampaikan kabar baik dan kabar buruk. Berita baiknya, kami bisa melakukan echo disini dan berita buruknya, pemeriksaan tersebut tidak ditanggung BPJS. Kenapa? karena secara prosedur, tidak mungkin dilakukan pemeriksaan echo di RS Hermina (sebagai faskes 2) dengan rujukan dari RS lain yang stratanya lebih tinggi (faskes 3). Well, cukup masuk akal. Maka kami pun mengambil keputusan untuk echo di RS ini dengan biaya sendiri karena sudah lelah hati, jiwa dan fisik jika harus beradu argumen lagi atau bahkan dikembalikan ke RS pemerintah tersebut. Toh pihak RS Hermina pun sudah melayani kami dan mengusahakan yang terbaik.

http://www.inne.web.id/2016/06/hamil-ektopik-4.html

Keesokan harinya, saya kembali ke RS untuk echo. Lucunya, ketika pemeriksaan EKG (prosedur standar sebelum konsultasi ke dokter jantung), perawat yang melayani saya menanyakan alasan saya echo. Maka saya pun menjawab karena akan kemoterapi. Si perawat menyatakan bahwa biasanya kalau kemoterapi untuk KEBT, tidak perlu echo. Nah lho?

Penasaran, saya pun mengkonfirmasi hal tersebut kepada dokter jantung. Beliau menjelaskan pro dan kontra echo untuk kondisi seperti saya. Beliau bilang sebaiknya echo dilakukan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Namun untuk kasus ini, echo masih bisa tidak dilakukan. NGOK!

Alhamdulillah, hasil echo menunjukkan hasil yang cukup baik dan saya pun dinyatakan lolos untuk dapat menerima terapi MTX tersebut. Biayanya? kurang lebih 1 juta rupiah untuk konsultasi, EKG dan echo cardiogram.

Maka kami pun kembali ke RS pemerintah untuk berkonsultas dengan dokter kandungan. Membawa segala berkas dan serangkaian hasil tes. Setelah diantar papoy selepas subuh kemudian beliau harus kembali ke kantor karena sudah izin selama seminggu. Maka mami menemani saya selepas jadwal mengajar beliau.

Saya pun menanti, menanti dan menanti antrian di depan pintu klinik dokter kandungan untuk konsultasi. Menurut staf di meja pendaftaran poli, saya harus mempersiapkan obat sebelum saya menemui dokter kandungan subspesialis tersebut. Berdasarkan arahan dari staf tersebut maka saya ke klinik kemoterapi yang letaknya di ujung koridor, masih pada lantai yang sama.

Staf di klinik tersebut menanyakan kenapa saya mendaftar ke poli kandungan? bukan klinik kemoterapi? karena yang akan melakukan tindakan kemoterapi bukanlah dokter kandungan, melainkan dokter di klinik kemoterapi.
Bingung, maka saya pun bertanya bagaimana prosedur seharusnya.
Sambil tertawa dan dilihat oleh beberapa pasien yang sedang mengantri, staf tersebut mengatakan,
"Mbak, besok pagi-pagi banget nih ya, daftar. Bilang, mau kemoterapi. Ngantri dulu loh, nggak nyelonong aja. Terus, mbak ambil dulu obatnya di farmasi. Gitu. Ngerti?"
"Oke, lalu sekarang saya harus kemana? Kan saya harus kemoterapi secepatnya, bu"
"Ya sabar! semua pasien juga harus kemo secepatnya. Tapi nggak bisa begitu, ada jadwalnya. Situ ambil aja dulu obat kemonya di apotik. Dah ditebus, belum?

Saya hanya menggeleng. Disusul senyum kecut dari staf tersebut.

Saat itu, saya terus mengingatkan diri ini untuk bersabar. Ditertawakan di depan umum bukanlah hal yang penting. Toh, saya yang membutuhkan pelayanan mereka. Maka saya membawa resep ke apotik. Setelah meletakkan resep di bak yang disediakan, kurang lebih satu jam kemudian nama saya dipanggil. Saya pun diarahkan ke bagian farmasi untuk mengambil obat (fyi, farmasi jaraknya 2 gedung dari apotik)

Menghemat waktu, saya pun berlari ke gedung farmasi. Dari lantai 1, saya diarahkan ke lantai 2. Ketika sampai di tempat yang dimaksud, saya bertemu dengan seorang lelaki muda yang kebingungan menghadapi saya. Ia bertanya apa kepentingan saya dan kenapa saya sendiri yang mengambil obat? Seharusnya saya tidak boleh ada di tempat itu. Maka saya pun lebih bingung. Malah si pemuda ini menyatakan kalau saya harus datang lagi besok pagi, mendaftar ke klinik kemoterapi untuk kemudian diinjeksi di klinik kemoterapi. Allah, apa lagi ini?

Lelah, saya melangkah gontai ke ruang tunggu yang ada di depan ruangan si pemuda tadi. Seketika pertahanan diri saya luluh lantak. Saya hanya mampu duduk gagu, menangis tergugu. Saya mencoba bersabar namun rasanya semua sia-sia. Maka saya pun pasrah...

Sepanjang perjalanan ke poli kandungan, saya mencoba menguatkan diri.
Berusaha tenang dan berpikir positif, tapi nampaknya diri ini kadung rontok.
Selepas konsultasi dengan dokter kandungan subspesialis yang akhirnya berhasil saya temui pada pukul 4 sore (setelah mengantri selama 10 jam), saya laporkan bahwa saya tidak berhasil mendapatkan MTX hari itu. Maka saya memohon untuk dikembalikan saja ke RS faskes 2 karena sudah tidak tahan. Sang dokter pun mengabulkan permintaan tersebut.

"Saya lelah, dok. Lelah jiwa, raga, hati dan pikiran."
Sang dokter hanya tersenyum. Senyum yang aneh sih, menurut saya.  Beliau menyayangkan saya memanfaatkan fasilitas BPJS karena menurut beliau prosedurnya berbelit dan tidak jelas. Lah, kalau dokternya saja tidak paham, apalagi saya yang hanya berstatus pasien??
Segala prosedur telah saya lakukan, namun karena minimnya informasi dan pengarahan alur yang jelas maka saya seperti tengah berputar di titik yang sama tanpa ada kepastian.

Maka akhirnya saya memilih untuk kemoterapi di RS Hermina Depok dengan biaya sendiri. Sungguh sebuah pengalaman berharga. Sakit fisiknya tidak seberapa, tetapi lelah hati, jiwa dan pikirannya luar biasa. :)

-END-

Just My Two Cents




Popular posts from this blog

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) 2015

Meminta Maaf

Balada Stik Es Krim