Membentuk Kebiasaan Baru

February 15, 2018



"We are what we repeatedly do. Excellence then, is not an act, but a habit."
-Aristoteles

Apa yang biasa kita lakukan, hal itulah yang akan membentuk kita di kemudian hari. Dari sekian banyak kebiasaan yang saya lakukan setiap hari, ada beberapa yang ingin sekali bisa saya ganti dengan kebiasaan yang lebih baik. Salah satunya, membeli barang sesuai kebutuhan, bukan keinginan.


Ya, kalau bicara belanja, perempuan mana sih yang nggak doyan? Walaupun benda yang dibelanjakan beragam. Ada yang doyan belanja baju, sepatu, makanan, bahkan liburan. Iya, liburan termasuk belanja. Karena sama-sama membutuhkan uang. Haha.
Menjelang akhir tahun 2017 kemarin, saya memaksakan memulai beberapa kebiasaan baru yang terbilang sulit saya lakukan sebelumnya. Tapi dengan dukungan suami, alhamdulillah, beberapa kebiasaan tersebut masih bisa saya lakukan sampai sekarang. Walaupun nggak mudah, tapi saya senang karena saya bisa sampai di titik ini sampai sekarang. 

Salah satu kebiasaan yang saya lakukan adalah mencatat pengeluaran keluarga kecil kami. Mungkin ini terlambat untuk dilakukan, tapi ini pun saya masih berjuang untuk melakukannya secara konsisten. Cih, lebay banget ya, nyatet pengeluaran aja dibilang perjuangan. Haha. Ya gimana dong, biasa mengandalkan kemampuan memori sendiri untuk mengingat semua transaksi, lalu tiba-tiba harus menuliskan semua pengeluaran tersebut, bahkan untuk yang cuma seratus perak. 

Sulit? Awalnya malah nggak. Tapi lama kelamaan, tergoda lagi untuk "mengandalkan memori saja", karena nggak sempat nulis lah, nggak sempat nyatet di notes di hp lah, lupa lah, dan semua alasan klise. 

Lalu kemudian saya berpikir lagi. Ini harus kami lakukan. Demi tujuan yang lebih besar, demi tujuan-tujuan finansial kami di masa depan. Jadi sebelum rasa malas, ngantuk ataupun lupa menyerang, saya paksa diri saya untuk mencatat sekecil apapun yang kami lakukan. 

Kalau nggak sempat nyatet, maka saya minta warung/ toko tempat kami belanja untuk membuatkan nota. Nyebelin, ya? Haha. 
Tapi biasanya mereka nggak keberatan kok memenuhi permintaan emak-emak rempong ini. Mereka mau kok nyatetin satu-satu item belanjaan saya, walaupun dalam secarik kertas bekas bungkus kardus atau apalah, yang penting dicatat. Lalu, nota sekadarnya itu saya simpan di dompet untuk kemudian direkap dalam file yang saya share bersama dengan suami. 

Ketika aktifitas harian sudah mulai mereda, masukin deh segala macam transaksi itu ke file rekap. 
Di akhir bulan, kami evaluasi bareng-bareng, deh. Awalnya memang canggung banget karena saya malu kok banyak jajannya. Tapi makin hari makin senang karena saya bangga gitu bisa menahan diri untuk nggak jajan atau sekadar ngopi cantik minum latte. Kemudian lapor ke suami pencapaian kecil saya hari itu. 

Intinya, setiap keberhasilan mengganti kebiasaan lama yang merugikan dengan kebiasaan baru yang menguntungkan itu harus diapresiasi. Nggak ribet banget sih bentuk apresiasinya, sekadar senyuman atau dengerin curhat bininya aja buat saya sudah cukup. 

Nggak apa-apalah pamrih sama suami sendiri, daripada pamrih sama suami orang, kan? #Amitamit. 

Jadi, kapan saya lemah dan mulai tergoda untuk jajan, belanja ini dan itu, saya ingat lagi tujuan kami mengawali semua ini. Back to basic, deh. Semoga konsisten. Semoga konsisten. Semoga konsisten. Amin!


#Day15
#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial





Image: Photo by Clique Images on Unsplash

You Might Also Like

0 comments