6 Alasan Kenapa Level 6 Begitu Berkesan

December 10, 2017



Selama belajar bersama di level 6 kelas Bunda Sayang, Institut Ibu Profesional ini, , kami terlibat se-keluarga dan merasa tergabung dalam sebuah tim yang makin hari makin erat. Semakin hari, semakin kompak.

Setelah melalui level 1 sampai 5, rasanya level 6 ini adalah level yang paling berkesan. Kenapa?
Here are the reasons:

1. Blog
Sejak hari pertama sampai dengan hari ke-17, kami selalu mendokumentasikan semua kegiatan di blog saya ini. Di level sebelumnya, kami mendokumentasikan kegiatan secara acak, di google docs, akun instagram, bahkan di akun twitter saya. Kenapa akhirnya saya memutuskan untuk menulisnya di blog? Karena begitu banyak hal yang perlu dicatat ketika kami mengerjakan kegiatan di level 6 ini. Rasanya space di akun media sosial demikian terbatas untuk menampung cerita kami. Hihi.  

2. Kegiatan Yang Beragam
Dengan mengerjakan level 6 ini, kami pun tersadarkan bahwa dalam mengajarkan matematika ke anak balita, bukan sekedar memperkenalkan satu, dua dan tiga. Yang kami kenalkan adalah konsep dan cara, sebuah proses bagaimana jumlah benda terkait dengan lambang bilangan. Kenapa dua butir telur disebut "dua", bukan tiga. Untuk membangun logical thinking Asaboy, kami ngoprek bersama, mulai dari dapur, peternakan, mal, kamar, di perjalanan, kami belajar di mana saja, kapan saja, bersama-sama. Kebersamaan yang melahirkan chemistry di antara kami bertiga.




3. Semakin Dekat, Semakin Erat
Saya dan Asaboy seringkali bertengkar. Mulai dari hal kecil sampai hal besar. Saya seringkali memaksakan kehendak dan mengancam kalau Asaboy tidak mau menuruti saya. 
Selama mengikuti tantangan di level 6 ini, secara perlahan saya belajar untuk menerima Asaboy apa adanya. Ajaibnya, anak ini pun belajar menerima saya apa adanya. Lucu, ya? Padahal materi di level 6 ini adalah Math Around Us, bukan Komunikasi Produktif. Ternyata dengan melakukan kegiatan bersama setiap hari secara berkualitas, menikmati kegiatan yang kami senangi bersama, malah membangun chemistry di antara kami berdua khususnya, bertiga pada umumnya. :D

4. Tak Kenal Maka Tak Sayang
Di level 6 ini, kami lebih membiarkan Asaboy untuk bereksplorasi sesuai dengan minatnya. Gaya belajar Asaboy yang cenderung visual kinestetik ternyata menjadi lebih terakomodir ketika kami menggali lebih dalam dan "menyambung-nyambungkan" antara kegiatan harian sederhana dengan matematika untuk membangun konsep berpikir logisnya. Di level 6 ini, saya merasa jauh lebih mengenal Asaboy dan jauh lebih menyayanginya dari sebelumnya (duh, ini ngetiknya sambil mbrebes mili). 
Ternyata Asaboy masih menyimpan banyak keajaiban yang kadang malah nggak "keluar" kalau kami "ulik". Ketika ia kami berikan kebebasan untuk memilih dan belajar memimpin kegiatan, ternyata Asaboy bisa mengarahkan kami untuk bagaimana memancing potensi dirinya sendiri. Kelas Bunda Sayang ini memang luar biasa, saya nggak pernah merasa sedekat ini dengan Asaboy sebelumnya sejak ia masih dalam kandungan dulu. I feel that I can see through his mind

5. Membangun Chemistry Keluarga
Saya dan papoynya adalah college sweethearts. Chemistry yang kami punya sudah terbangun sejak kami berdua masih bersahabat. Tapi beda urusannya dengan Asaboy. Saya dan Asaboy kerap kali bertengkar karena hal sepele, karena saya nggak paham maunya dia apa dan dia pun nggak paham mau emaknya apa. 
Uniknya, ketika mengerjakan tantangan level 6 ini, chemistry saya dan Asaboy malah terbangun, pelan tapi pasti. Saya juga nggak paham bagaimana prosesnya. Yang pasti, hubungan yang kami punya sekarang jauh lebih sweet daripada sebelumnya. Kami seperti sudah saling memahami, bahkan kadang tanpa kata-kata. Duh, ini susah ya ngejelasinnya. 
Contohnya gini, kalau saya sedang makan, tahu-tahu Asaboy ambil gelas, kemudian menyuguhkan saya segelas air minum. Isn't it so sweet? Ketika saya bilang saya mau mandi, Asaboy tergopoh-gopoh mengambil handuk dari belakang, kemudian diserahkannya kepada saya. 
Murni atas inisiatifnya sendiri, tanpa instruksi. 
Apa mungkin ini karena kami lebih banyak menghabiskan waktu berkualitas bersama, saya nggak ngerti juga sih. Bisa jadi karena itu juga. Tapi yang pasti, chemistry keluarga yang kami punya sekarang, jauh lebih kuat dari pada sebelumnya. 

6. Logic is Our Thing!
Si pembelajar visual kinestetik ini ternyata suka dengan segala hal yang berbau angka. Setelah mengerjakan tantangan level 6 ini, saya jadi tahu bahwa Asaboy sangat tertarik dengan hal-hal yang bersifat logis. Hm, mungkin terlalu dini untuk menarik kesimpulan tentang ketertarikan Asaboy, ya. Tapi paling tidak, kami menemukan bahwa Asaboy cukup tertarik dengan konsep how things work (ini mirip saya banget waktu kecil) dan ngoprek! 
Minimal ketika ia akan mempelajari sebuah materi baru, saya ada sedikit "bocoran" bagaimana cara mengenalkan materi tersebut ke si kecil kami ini. 

Overall, terima kasih IIP. Tanpa level 6 ini, mungkin saya dan Asaboy akan selalu gontok-gontokan setiap hari :D
Saya bersyukur sekali telah diberi kesempatan untuk belajar bersama di kelas Bunda Sayang ini. Semoga kami konsisten memperbaiki diri dan keluarga sehingga bisa memberikan manfaat untuk masyarakat. Amin. 
Tabik!






#AliranRasa
#Tantangan10hari
#Level6
#KuliahBunsayIIP
#ILoveMath
#MathAroundUs

Photo by Austris Augusts on Unsplash

You Might Also Like

4 comments

  1. sama mbak dengan ankku yang nomor tiga, kalau dilarang atau diminta untuk melakukan sesuatu alasannya harus masuk akal...

    ReplyDelete
  2. Iya, mbak. Kalau emaknya lagi eling sih, dijawab yang bener. Tapi kalo lagi hectic.. duh.. pengennya cepet-cepet aja jawabnya. hehehe

    ReplyDelete
  3. Aih saya baru level 2..
    Semakin semangat menuju level selanjutnya.
    Dan maunya bisa nulis sekece ini juga..MasyaAllah lengkap 😍😍

    ReplyDelete
  4. @mbak Yayan: Semangat, mbak.. semakin naik level, semakin terasa bahwa IIP memang sangat bermanfaat untuk kemaslahatan dan keharmonisan keluarga. Karena nggak sekadar teori, tapi praktik. Enaknya, kita bebas mengaplikasikan ilmu dari IIP sesuai dengan kondisi kita masing-masing. :) Thank you udah mampir ya, mbak :)

    ReplyDelete