Si Papoy, Pahlawan Kesayangan Asaboy

November 16, 2017

Pertama kali melihatnya di kantin kampus, ia lewat dengan perawakannya yang besar, rambut gondrong dan selalu terlihat bersama dengan seorang senior. Awalnya malas banget mau negur dia. Nggak lain karena saya cuma pengen serius belajar, kuliah yang bener karena konon, beasiswa yang kami dapatkan itu awardee-nya diseleksi secara otomatis berdasarkan IPK dan skor TOEFL. Kuliah gratis yang lumayan berat untuk dilaksanakan. Haha.







Hingga kemudian takdir berkata lain, kami pun bertemu di kelas yang sama. Selanjutnya nggak cuma berteman, kami bersahabat. Dari persahabatan itu, kami pun kian dekat. Ia kerap menjemput saya di rumah sebelum berangkat kuliah. Tak jarang, ia terpaksa menunggu saya mandi dan bersiap karena saya baru pulang mengajar lalu lanjut berangkat kuliah. Nggak pernah terbersit sedikit pun bahwa lelaki ini akan menjadi pendamping hidup saya selamanya. 

Lalu sebagaimana persahabatan lelaki dan perempuan yang tak pernah bisa dipercaya, kami pun berpacaran. Dua tahun menjalin hubungan, melalui beberapa fase LDR, Tangerang-Bandung, Tangerang-Davao, dua kali putus-sambung, alhamdulillah kami menikah setelah saya selesai pendidikan di Bandung. Persis sebulan setelah wisuda. 

Bahagianya, jangan ditanya. Saat itu kami baru selesai LDR, jadi rasanya seperti PDKT lagi. 3 hari setelah menikah, kami pindah ke rumah kontrakan. Membangun keluarga seutuhnya, berdua. Memulai sebuah rumah tangga dari kontrakan berisi selembar kasur tipis dan sebuah laptop. Dua benda yang memang jadi "modal" :D

welcoming Asaboy to the world

Mulailah kami mengisi hari-hari bersama. Mengatur segalanya berdua. Saat itu ia masih kerja di Kemayoran. Dengan penghasilan yang jauh dari rate UMR saat itu. Tapi kami jalani semuanya dengan sabar dan percaya bahwa rejeki sudah diatur oleh-Nya. Ajaibnya, kami nggak pernah merasa kekurangan. Karena memang sejatinya, kekurangan atau kelebihan itu hanya masalah "rasa". Ya nggak?

Sama-sama memulai karir sebagai tenaga honorer (sampai sekarang). Saya guru dan ia tenaga administrasi di sebuah sekolah negeri. Darinya, saya belajar banyak hal. Mulai dari bagaimana mengelola keuangan rumah tangga (yang sampai sekarang masih kebanyakan bocor halusnya) sampai mengurus Asaboy. 
pura-pura tidur setelah mengajari Asaboy minum ASIP :P

Ia mengajari saya hampir tanpa kata-kata. Karena ia tahu, istrinya sangat keras kepala, maka ia ajari saya melalui perbuatan. Selama hamil Asaboy, saya sempat mengalami perdarahan. Ia yang menjaga kami berdua dengan sangat telaten. Ketika saya harus bedrest, ia dengan sabarnya memasak dan melakukan pekerjaan rumah sebelum berangkat kerja. Meletakkan semua makanan dan keperluan saya di samping tempat tidur, memastikan bahwa saya nggak perlu turun dari tempat tidur selangkah pun, kecuali untuk ke kamar mandi. 

papoy & asaboy

Setelah Asaboy lahir, "bakat pahlawannya" semakin mencuat. Apa itu suami siaga? Papanya Asa sudah melaksanakannya sebelum slogan itu bergaung di media. Ia yang stand by menjaga Asaboy ketika saya sudah terlelap. Kalau Asaboy bangun tengah malam karena ingin menyusu, dia yang akan membangunkan saya, menunggui, mengambilkan minum (karena biasanya saat menyusui pasti saya haus banget). Setelah memastikan kami aman dan nyaman, baru ia akan tidur kembali. Seingat saya, hampir tidak pernah saya dibiarkan menyusui sendirian tengah malam.

A post shared by Inne R.A. (@inne.ra) on

Kehidupan rumah tangga kami ada ritme naik-turun. Tentunya, rumah kami nggak selalu aman tentram bahagia penuh pelangi sya la la la dum dum. Suami saya pun cuma lelaki biasa. Ada kalanya kami bertengkar dan beradu pendapat. Prinsip kami, api nggak boleh dilawan sama api. Harus dilawan dengan air. Jadi, kalau kami sedang bersilang pendapat, kami memilih diam. Daripada harus melontarkan kata-kata yang akan kami sesali nanti.

Kami pun sepakat untuk sebisa mungkin menahan diri untuk tidak bertengkar di depan anak/ orang tua/ orang lain. Karena ini rumah tangga kami berdua, orang lain tidak perlu ikut campur. Nggak seindah teorinya, memang. Tapi alhamdulillah, sampai saat ini, betapa pun marahnya kami satu sama lain, komitmen ini selalu kami jaga.

Semoga papoy selalu sehat, ya. Bisa menjadi pahlawan keluarga kami, menjaga Asaboy dan adik-adiknya nanti. Amin










You Might Also Like

0 comments