Mami Nggak Boleh Kerja!


Emak menggalau. Saat ini ada kebutuhan keluarga yang cukup besar dan rasanya saya akan dapat lebih meringankan beban suami apabila saya menambah jam kerja di luar rumah.
Dalam mengambil keputusan di dalam keluarga, kami selalu berusaha melibatkan si kecil. Apalagi, ini keputusan besar.
image: working mom, www.pexels.com

Selama ini saya yang beraktifitas di ranah publik sebagai seorang pengajar lepas dengan porsi 90 persen di rumah, 10 persen di luar rumah masih bisa diterima oleh Asaboy.
Beberapa hari ini saya mencoba untuk "melobi" si kecil agar saya bisa kembali bekerja di luar rumah. Hasilnya? selalu sama. "Mami nggak boleh kerja!"

Saya tanya, "kenapa mami nggak boleh kerja?
"Kalau mami kerja, nanti mas nangis. Kalau mami kerja, nanti mas sama siapa?" jawabnya.
Saya bilang, "nanti mas sama uwak (kakak ipar saya)"
Lalu ia misuh-misuh, keukeuh menahan saya agar saya bisa tetap menemaninya di rumah.
"oke, mami boleh kerja."
"bener?" tanya saya, nggak percaya.
Ia mengangguk dengan semangat sambil bilang "tapi mas ikut!"
Gubrak!!

Jujur, di satu sisi, saya ingin sekali bisa dapat meringankan beban suami sekaligus memanfaatkan ilmu yang saya miliki di ranah publik. Tapi di sisi lain, saya pun ragu apakah saya bisa legowo meninggalkan si kecil di rumah? Apa saya sanggup?
Kemarin aja waktu menitipkan Asaboy setengah hari karena ada acara di luar, saya bolak balik WA dan menelepon mama "mam, Asa lagi apa? sudah makan belum?". Sampe mama rada bete dan bilang "tenang aja sih, sama omanya ini" hahaha.. didamprat kan sama nyokap.

Lebay ya, bo? biarin. Dari kemarin ini edisi lebay..

Setahun setengah sudah saya habiskan almost full time di rumah bersama si kecil, gimana nanti saya bisa beradaptasi tanpanya, ya?
Duh, ini baru mau kerja doang padahal. Gimana nanti kalau sudah saatnya si kecil sekolah, kuliah atau bahkan bekerja di luar negeri, gitu?
Apa sanggup ngelepasnya, ya?

Well, balik lagi ke topik hari ini.
Apa saya harus bekerja (full time) kembali di ranah publik, atau ber-wirausaha saja dari rumah?
So far, suami mendukung apapun keputusan saya dengan mempertimbangkan kepentingan si bocil. Sementara Asaboy, he's stick to his opinion, "Mami nggak boleh kerja. Kalau mau kerja, mas ikut"
Wakwaw.
Lalu kemudian saya teringat dengan ungkapan dari Ibu Septi Peni Wulandari,
"Rezeki itu pasti, kemuliaanlah yang harus dicari"
Sementara ini saya tetap berusaha sambil berdoa agar diberikan jalan yang terbaik menurut Allah.
Wish us luck, buibu!






Comments

Popular posts from this blog

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) 2015

Meminta Maaf

Balada Stik Es Krim