Learning On Demand, A New Learning Concept?

June 28, 2017

Semakin besar seorang anak, maka semakin besar pula peran orang tua untuk terlibat langsung dalam proses pendidikannya. Awal menerapkan learning on demand dalam rangka proses home schooling Asaboy, saya sempat merasa menjadi ibu yang kurang bertanggung jawab dalam proses pendidikan anak sekolah rumah. 


Simply because I didn't prepare all of the learning resources. I didn't print the printables, I didn't make the lesson plan and everything needed for a "home schooler". Tapi lalu saya sadar bahwa konsep pre school homeschooling yang kami terapkan adalah learning on demand, jadi.. ya kami belajar secara spontan. Kami? Iya, kami. Saya, Asaboy dan papinya. Kami tidak sedang "memindahkan sekolah formal ke rumah". Kami sedang membangun budaya belajar mandiri, that is the true essence of learning on demand.

Semakin lama belajar, justru kita semakin tahu bahwa kita nggak tahu apa-apa, ya nggak?
Maka setelah beberapa bulan menerapkan konsep learning on demand ini (itu pun tanpa sengaja), maka kami menyadari bahwa inilah konsep belajar yang paling cocok untuk keluarga kami. 

Nanti ketika Asaboy mulai sekolah formal di usia 6,5 tahun, kami pun akan tetap memberlakukan sistem learning on demand di rumah. Ia akan belajar apa yang ia suka,kapan saja dan di mana saja, tanpa paksaan. Tugas kami sebagai orang tua adalah sebagai teman belajar sekaligus fasilitator. Lalu apa fungsi sekolah? ladang amal sekaligus ladang ujian. Ladang amal Asaboy untuk berbuat kebaikan dan ladang ujian pendidikan yang kami terapkan di rumah. :)

Terlihat sebagai konsep yang sangat menyenangkan tapi pastinya penuh tantangan. Sampai sekarang aja saya masih sering mangkel kalau Asaboy tiba-tiba mogok ketika saya masih semangat untuk menemaninya belajar. Kalau lagi eling, saya ingat bahwa rentang konsentrasi berbanding lurus dengan usia anak. Jadi, kalau Asaboy bisa berkonsentrasi di satu kegiatan selama 4,5 menit saja, itu sudah cukup. Tapi yaaa.. namanya juga emak, kadang kan suka mengharap lebih dari anak, hehehe.. padahal kan nggak boleh, ya?

Jadi kami sekarang sedang menikmati proses belajar bersama. Asaboy belajar semaunya, saya juga belajar semaunya. Papinya? jadi kepala sekolah yang juga sedang belajar memimpin kami semua agar bisa menjadi manusia yang lebih baik. Amin. 

Sebagai kepsek, beliaulah yang selalu memantau dan mengingatkan saya bahwa media belajar terbaik adalah orang tua. Anak akan belajar dari orang tua, dari segi perilaku, kata-kata dan cara bersosialisasi secara langsung. Jadi, nggak usah banyak cing cong dengan nasihat yang hanya akan masuk kuping kanan, keluar kuping kiri. Just do good



Gampaaaaang banget bacanya, tapi susaaaah banget melakukannya. Ya nggak?
Saya yang masih sering nggak sabaran ini berbanding terbalik sama papinya yang super sabar. Hahaha...
Kalau buat beliau mungkin gampang, tapi buat saya mah PR banget... -_-"

Makanya sekarang saya coba kurangi pelan-pelan segala contoh buruk dan memperbanyak contoh baik. Karena apa?
Children See, Children Do

You Might Also Like

0 comments