Komunikasi Produktif Dengan Anak (Hari 2)

June 02, 2017

Catatan komunikasi produktif dengan #Asaboy, hari ke-2.


Pada materi kelas Bunda Sayang IIP , kami belajar tentang bagaimana berkomunikasi dengan anak. Bagaimana cara menyampaikan informasi dan menghasilkan perbuatan sesuai dengan kesepakatan bersama. Menantang? sangat!
Saya yang biasanya cenderung mengancam ketika berkomunikasi dengan Asaboy, belakangan ini mulai menerapkan 5-second-rule ketika emosi mulai memuncak. Ya, apalagi bulan puasa gini kan ga boleh marah, ya? hehehe.. 
Jadi, kalau sudah rada-rada emosi, hitung mundur dalam hati, 5-4-3-2-1. "Hm, apa yang ingin saya sampaikan sebenarnya?" jangan sampai miskomunikasi gegara emosi. 

So, masalah yang saya temukan hari ini adalah masalah klasik antara emak dan anak. Apakah itu saudara saudara?

Shower head picture. taken from pixabay via pexels.com
(pexels.com)


M-A-N-D-I

Entah kenapa anak kecil tuh kadang susah banget disuruh mandi. Padahal biasanya kalau sudah di dalam kamar mandi malah ogah selesai. Ya nggak?

Jadi, sambil mengingat ilmu kelas bunda sayang, saya mencoba mempraktikkan 7-38-55
7 persen kata-kata dengan pola Keep Information Short and Simple
38 persen intonasi
55 persen bahasa tubuh.

Pagi ini, saya ajak #Asaboy mandi setelah ia selesai bermain sepeda di taman musola dekat rumah. 
Ketika akan saya ajak mandi, si kecil sedang bermain lego. 
(A: Asaboy, S: Saya)
S: (duduk di hadapannya dan menjaga kontak mata) "mas, lagi asyik main, ya?"
A: "iya, mami"
S: "boleh ngobrol sebentar, nggak?" (mengkondisikan anak untuk berkonsentrasi)
A:"kenapa?" (masih asyik main)
S: "ngobrol. boleh?"
A:"boleh" (mulai konsentrasi dan melihat saya)
S:"habis main sepeda, badan mas gerah, nggak?"
A: "hm, nggak" (pas disini saya pengin ngakak sih, tapi saya tahan. haha)
S:"okey. mulai gatal? kan berkeringat"
A: "iya, sih. tapi mas nggak apa-apa"
S:"biasanya nih mas, kalau keringat itu banyak kuman. Kalau dibiarkan dia nanti betah tinggal di badan mas" (memaparkan alasan, ini sambil modus juga sih sebenernya)
A:"oya?" (mulai tertarik. kami pernah membahas tentang kuman di sesi pillow talk)
S: "iya, kira-kira supaya kumannya pergi, kita harus apa ya?" (membangun critical thinking dengan pertanyaan.
A:"mandi" (YEeess!)
S: "nah, mau mandi sendiri atau dimandikan?"
A:"hm... tapi mas masih mau main"
S: (kasih liat jam) "oke, mas mau mandi saat jarum panjang di jam berhenti angka berapa? 8 atau 9?" (bantu memutuskan tapi tetap memberikan pilihan)
A: "di angka 9" (10 menit lagi)
S: "okey, nanti kalau sudah di angka 9 mami kasih tahu dan mandi, ya?"

Setelah 10 menit...
S: "mas, jarum panjang sudah di angka 9"
A:"oke mami" (langsung minta tolong dibukakan baju dan mandi sendiri)

Panjaaaang banget ya bujukin mandi doaaang. 
Lelah hayati.. haha..
Tapi saya rasa dengan cara ini, anak jadi tahu rasanya dihargai dan memutuskan sesuatu untuk hidupnya. Saya sendiri masih punya banyak PR dan harus lebih sabar serta telaten dalam membangun komunikasi produktif dengan anak dan pasangan. Insyaallah, selanjutnya akan menjadi terbiasa. Amiiin. 

Semangaaat! 

#tantangan10hari
#kelasBundaSayang
#Institut Ibu Profesional



You Might Also Like

0 comments