Komunikasi Produktif Dengan Anak (Hari 12)

June 12, 2017

“Anak adalah kehidupan, mereka sekedar lahir
melaluimu tetapi bukan berasal darimu.
Walaupun bersamamu tetapi bukan milikmu,
curahkan kasih sayang tetapi bukan memaksakan pikiranmu
karena mereka dikaruniai pikirannya sendiri.

Berikan rumah untuk raganya, tetapi tidak jiwanya, karena
jiwanya milik masa mendatang, yang tak bisa kau datangi
bahkan dalam mimpi sekalipun.
Bisa saja mereka mirip dirimu, tetapi jangan pernah
menuntut mereka jadi seperti sepertimu.
Sebab kehidupan itu menuju ke depan, dan
tidak tenggelam di masa lampau.

Kaulah busur, dan anak-anakmulah anak panah yang melucur.
Sang Pemanah mahatahu sasaran bidikan keabadian.
Dia menentangmu dengan kekuasaanNya,
Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.
Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
Sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat
Sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap”.
(Puisi Kahlil Gibran dikutip dari: Wikimu)
Sebagai orang tua, saya sering kali lupa bahwa anak mempunya pikirannya sendiri. 
Terkadang, rasanya lebih mudah untuk "memerintah" saja atanpa memikirkan bagaimana perasaannya, tanpa memikirkan apa yang sebenarnya ia inginkan. Iya, gampang banget kayaknya kalau begitu. Terasa mudah tapi akan berakibat fatal. 
Kayaknya saya tidak perlu menjelaskan apa akibatnya, namun puisi Kahlil Gibran di atas cukup memberikan pandangan bahwa seorang anak membawa pribadinya sendiri ketika terlahir di dunia ini. Seorang pribadi yang butuh dipahami dan dihargai. 
Kayaknya lagi lempeng ini ya, buibu? Hahaha...
Sebelum mengikuti kelas Bunda Sayang IIP, saya sempat bingung kenapa Asaboy lebih betah untuk bermain dengan papanya dibandingkan dengan saya. Ternyata setelah belajar selama 12 hari ini, saya akhirnya paham bahwa apa yang papanya lakukan adalah memahami dan menghargai pikiran anaknya. That is awesome. Papanya jauuuh lebih sabar dibandingkan saya. Ketika berbeda pendapat dengan sang anak, ia akan berusaha untuk "bernegosiasi" secara halus ketimbang memaksakan kehendaknya.

Lalu kemarin, saya coba untuk mempraktikkan apa yang biasa papanya lakukan. Kemarin sore hujan deras dan seperti biasa, Asaboy merengek supaya dizinkan bermain hujan-hujanan. Awalnya tidak kami izinkan, tapi anaknya nekat dan langsung turun ke teras depan. 
Papanya santai, sayanya sudah mulai emosi. Pengennya sih marah-marah, tapi saya tahan. Saya memilih untuk duduk tenang dulu dan berpikir langkah apa yang akan saya lakukan. Kami biarkan ia bermain hujan di depan. Tapi sepertinya Asaboy juga merasa bahwa kami tidak begitu setuju, sehingga ia hanya berani bermain air di depan rumah.
Saya ingat kalau kami baru saja membeli buku aktifitas baru untuk Asaboy. Saya ke depan sambil membawa buku tersebut dan bertanya padanya kapan kami akan mengisi buku aktifitas tersebut. Awalnya, ia terlihat heran dan mungkin bingung kenapa saya nggak marah-marah. Hahaha.
Ia tidak menjawab pertanyaan saya namun malah bercerita tentang imajinasinya tentang banjir, air dan pemadam kebakaran. Saya mendengarkannya dengan antusias sambil mengambil selang di tangannya. Kami pun bermain pretend play. Saya sebagai pemadam kebakaran yang menyiramkan air ke badannya. Ternyata, asyik juga!
Memasuki pikiran anak-anak itu ternyata menyenangkan banget. Kami pun tertawa dan saling berbagi imajinasi tentang bagaimana pemadam kebakaran berusaha memadamkan api. Sambil bercanda, saya mengajaknya untuk mandi. Ia pun membuka bajunya dengan sukarela, no drama! 
Saya pikir akan sulit untuk mengakhiri mandi sore yang menyenangkan itu, ternyata nggak loh. Malah si bocah yang minta selesai. Amazing, no?
Thank you for teaching me another lesson, boy. Moy loves you so much.. :*

You Might Also Like

0 comments