Bersepeda, Cara Menikmati Waktu Berkualitas dengan Si Kecil

Sebagai emak yang sehari-hari sudah berkutat dengan segala macam urusan domestik kok mau olah raga rasanya mager bener ya, buibu?
Kalau ada spare time rasanya mending kruntelan bobo-bobo cantik sama si bocil. Waktu masih batita sih anak bayik masih gampang diajak bobonya. Sekarang? boro-boro!

Si fabulous four ini matanya berbinar-binar kalau ngeliat pintu pagar terbuka. Begitu ada celah sedikit, langsung nyamber stang sepeda dan, whooosh! keluar sambil mengayuh pedal sepedanya kencang. Tinggal emaknya bengong doang ngeliatin.

ngebut naik sepeda

Alhamdulillah di rumah ada sepeda omnya, jadi sekarang emak ngangon bocah pake sepeda. Sejak Asaboy lancar naik sepeda, emak juga jadi hobi naik sepeda. Ya mau gimana lagi, kan? Manalah tenang hati mamak ini di rumah sementara anaknya mabur main sepeda di luar?

Positifnya sih, emak jadi olahraga juga. Cuma kadang si kecil nggak tahu waktu. Mau hujan, panas, mendung, cerah, tetaaaap aja maunya main sepeda. Jadi sekarang kami mulai menetapkan rules untuk bermain sepeda. Di antaranya adalah:
1. Bermain sepeda hanya boleh dilakukan sama mami/ papi. Nggak boleh nyucluk sendirian ke luar pagar. Parno? iyah. Zaman sekarang wis edan. Orang jahat kalo liat anak kecil macam liat emas. *amit2ketokmeja
2. Bermain sepeda hanya di pagi hari sebelum jam 9 atau sore ba'da ashar.
3. Pakai helm (nah, yang ini PR emak juga sih. Kadang emaknya suka malas pakai juga.. hahaha)

Rules ini coba kami terapkan secara perlahan. Ya, namanya juga anak-anak ya. Walaupun emak sama babenya udah nyerocos sampe berbusa, kadang ya tetap aja kalau lihat pintu pagar terbuka sedikit langsung aja cus ke taman dekat rumah. Sekejap aja kami meleng, langsung lah dia kabur. Makanya sekarang pintu pagar rumah selalu digembok untuk mencegah "tawanan kabur" Hahaha...

Yang saya salut, Asaboy terlihat sangat menikmati proses belajar mengendarai sepedanya.
It's amazing how time flies, isn't it? Perasaan baru aja kemarin kami lihat dia naik sepeda plastik roda tiga berkeranjang depan dengan bunyi klakson jingle anak-anak. Lalu sepeda di-upgrade ke sepeda besi seken yang kami "tukar guling" ke tukang bengkel sepeda. Jadilah Asa punya sepeda roda 4. Beberapa minggu lalu, kami lepas roda kecil di samping sepedanya supaya ia bisa naik sepeda roda 2 dengan lancar. Sampai encok2 papinya ngajarin dia supaya stabil naik sepeda.

Sekarang, sudah bisa seimbang dan menggowes sampai ngebut. Urusan jatuh sudah tak terhitung jumlahnya. Koleksi besat besot di lutut dan kakinya kian hari, kian bertambah. Tapi lucunya dia bangga. Setiap ada luka baru, dia akan lapor ke saya. "Mami, tadi mas jatoh kan ya. ini ada luka baru. Mas nggak nangis" Padahal sih perih, saya tahu. Tapi dia berusaha tegar, walaupun air mata sudah menggantung.

Dengan mendampinginya bermain sepeda, saya jadi tahu bahwa anak ini cukup berani tapi juga berhati-hati. Beberapa kali ia oleng, tapi bisa segera menguasai kondisi and get his feet on the ground. Jujur, saya bangga. Mungkin orang kalau liat saya sedang bersepeda berdua dengan si bocil, mereka berpikir saya rada-rada kali ya, soalnya selain bawel, kadang saya suka senyum sendiri, bahkan tertawa. Ya gimana nggak? Kadang lucu ngebayangin anak ini dulu waktu masih bayik kecil banget terus sekarang dah seru bener memacu sepedanya.

Semoga Allah masih berkenan memberikan kita waktu bersama ya, le. Karena, macam kata-kata mutiara di kartu undangan ulang tahun zaman jadul,
Tiada kesan tanpa kehadiranmu
Love you as always, 
Mamoy.


Comments

Popular posts from this blog

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) 2015

Meminta Maaf

Balada Stik Es Krim