Rangkuman Diskusi Matrikulasi Sesi-8: Misi Hidup dan Produktivitas


Diskusi 1 


30 menit lebih dekat dengan Ibu Septi Peni Wulandari, founder IIP

Profil Narasumber

SEPTI PENI WULANDANI

πŸ”…Ibu dari 3 orang anak. Baru menekuni passionnya di dunia anak dan keluarga saat membangun rumah tangga bersama sang suami.

πŸ†Peraih DANAMON AWARD sebagai individu pemberdaya masyarakat tahun 2006 ini selalu menggerakkan masyarakat lewat pendidikan ibu dan anak.

πŸ†Keinginan kuatnya untuk menjadi "agen perubahan" mendorongnya untuk mendapatkan prestasi sebagai TOKOH PILIHAN MAJALAH TEMPO tahun 2007.

πŸ†Akhir-akhir ini sedang menekuni dunia digital untuk pendidikan para ibu, dan komitmennya ini mendapatkan penghargaan dari Kemenkominfo 2013 sebagai Kartini Next Generation bidang pendidikan.


Sesi Tanya-Jawab:

πŸ™‹  Debbie Ryanata
1.Kurikulum HS yg diterapkan ibu Septi untuk anak2 seperti apa? Apakah jam belajar anak2 yg berbeda usia tetap sama?
❤ 
Mbak debbi, kurikulum HS yang kami pakai kurikulum fitrah mbak, alamiah saja, bahwa mulai dari bangun tidur sampai mau tidur lagi itu dimaknai sbg proses belajar. Tidak ada waktu khusus.
2. Adakah kiat2 agar kita tidak cepat merasa bosan ketika kita bermain membersamai anak?
❤ 
Caranya biar nggak cepat bosan, jadilah anak-anak ketika bersama mereka, sehingga bermain itu justru semakin menambah energi kita. Jangan jadi ibu, cepat capek ati soalnya
πŸ™‹ Desi I.
pengalaman tersulit ibu septi saat mulai lebih memberdayakan diri utk keluarga bagaimana ya?
❤ 
Mbak desi, pengalaman tersulit saya justru melawan diri sendiri. Karena kadang kalau udah berkegiatan terlalu senang, sehingga tidak bisa dihentikan. Saya harus pintar-pintar untuk mengelola diri sendiri, tidak boleh terlalu, karena terlalu itu menyebabkan ketidakseimbangan. Berikutnya yg muncul adalah konflik
πŸ™‹ Anonim
Bagaimana caranya untuk terus kuat dan tekun dalam mengatasi keterlambatan tumbuh kembang anak ? Terlihat jelas keterlambatan dibanding anak seumurnya. Apa praktek nyata yang bisa saya terapkan dan pegang, agar sebagai orang tua bisa memberikan yang terbaik untuk mengejar keterlambatan tersebut, tanpa membuat anak terbebani /stress.
❤ 
Bunda, langkah pertama adalah menerima kondisi anak kita saat ini, karena dg kondisi sekarang artinya kita sdg diberi pelajaran tambahan olehNya, agar makin mahir, dan tidak semua bunda dipercaya mengambil mata pelajaran khusus ini.Selanjutnya jangan pernah membandingkan anak kita dengan anak orang lain. Bandingkanlah anak kita sekarang dengan dirinya satu tahun yang lalu. Terakhir teruslah menambah syukur, maka keberkahan akan muncul dengan keberadaan anak ini
πŸ™‹ Inne R.A.
Bagaimana jika kesempatan untuk menjadi bunda produktif lebih terbuka sementara belum menyelesaikan kurikulum bunda sayang? Terima kasih, ibu :)
❤ 
Mbak inne, selama kita mengambil peluang menjadi bunda produktif dan tetap menempatkan anak pada prioritas pertama tidak masalah, krn tdk ada yg dikorbankan
πŸ™‹ Nurma
Selepas bapak resign dan sama2 fokus dengan anak bersama bu Septi..
Berapa banyak waktu untuk bapak berikhtiar menafkahi keluarga di luar rumah?
Apakah porsinya 50% membersamai anak dan 50% berikhtiar menafkahi keluarga?
Saya sangat ingin memahami Rejeki Allah itu pasti Kemuliaan yang harus dicari..
Terima kasih.
Mbak Nurma, setelah pak dodik resign, kami bersepakat bahwa akan menjemput rejeki bersama-sama. Jadi dulu pak dodik yg kulakan baju di tanah abang, ajak anak pertama saya sambil membuat tema perdagangan. Disana tujuan utamanya ajak anak belajar dapat bonus baju. Saya di rumah bersama anak kedua, setelah itu saya ajak anak-anak berkeliling depok jualan baju, sebar brosur dll. 
Pak dodik di rumah mempersiapkan ide baru lagi. Besok mau belajar apa lagi dg anak-anak. Demikian seterusnya sampai sekarang. Beliau kalau mau pergi, swlalu tanya bapak mau pergi ke daerah A, siapa yg mau ikut? Kita akan belajar bla..bla..bla..sambil nunggu bapak kerja.
Hal ini kami lakukan sampai usia mereka 12 th
πŸ™‹ Anonim
Bagaimana caranya menyatukan perbedaan pola didik antara istri dan suami. Semisal suami belum punya visi jelas tentang keluarga. Dan sulit diajak membicarakan visi keluarga. Apakah istri harus jalan sendiri membuat sendiri visi keluarga, kurikulum mendidik anak, dll?
 Iya bunda, kalau suami belum bisa diajak, dan kita sudah paham, maka tidak boleh jalan di tempat, karena anak-anak terus bertumbuh. Lakukan sendiri dulu, kemudian berbagilah kebahagiaan dengan suami, jangan berbagi beban,keluhan dan tuntutan, nanti lama-lama suami akan ikut insya Allah
πŸ™‹ Debby Faras Ayu
Bu septi, bagaimana caranya  mengatasi anak pertama saya yg berusia 3tahun untuk mengerti tidak boleh menyakiti adiknya yg masih bayi?
❤ 
Mbak debby pahami ini sebagai kecemburuan, maka obatnya hanya lebih sayang ke anak pertama, si kakak merasa disingkirkan krn sang ibu asyik punya mainan baru, yaitu sang adik.
Maka kalau saya dulu, ketika lahir ara, enes masih 15 bulan. Saya hanya bertugas menyusui ara dan setelah itu dipegang bapaknya/saya tidurkan lagi. Saya full main sama enes. Saat saya harus mengurus ara, saya ajak enes untuk terlibat mengurus adiknya, seperti kita main bersama, tidak ditinggal
πŸ™‹ Karlina
Ibu, bagaimana cara terbaik mengatasi anak super tantrum di usia balita?
Mbak karlina secara fitrah sebenarnya tidak ada anak yang tantrum di usia balita. Anak tantrum itu disebabkab kecerdasan emosionalnya tidak terlatih dan kita kurang tega menghadapinya. Maka latih anak untuk memahami emosi dan mengalirkannya dengan benar. 
Contoh kalau menangis, dekati dan katakan, kakak sedih ya, ada yg bisa mama bantu?
Sedang teriak-teriak, kakak jengkel? Mama tunggu 5 menit, krn di rumah ini tdk ada yg berhasil mendapatkan keinginannya dg menangis dan berteriak-teriak

======================== DISKUSI ========================
πŸ™‹ Anonim
Bagaimana jika misi hidup yang sudah kita tentukan di usia pre baligh (kelas 6SD) berupa cita-cita "Saya akan bprofesi sebagai..." Kemudian ternyata terhambat masalah dana setelah menempuh setengah jalan (lulus S1, tidak bisa lanjut ambil profesi), lalu terhambat waktu dan kesempatan, sehingga di usia midlife ini masih terasa mengganjal dan membuat sedih jika melihat teman-teman se-angkatan sudah mencapai posisi yang saya cita-citakan. Haruskan saya lupakan misi hidup itu alias mengubah misi hidup? Atau tetap membangun mimpi bahwa suatu saat saya akan mencapainya? Terima kasih.

❤❤ 
mbak.. yang saya pernah dengar dari Bu Septi bahwa cita-cita itu bukan kita ingin jadi apa.. melainkan kita ingin melakukan apa berhubungan dengan cita-cita tersebut.Jadi seberapapun ilmu yang kita miliki yang penting seberapa manfaat yang bisa kita berikan ke  sekitar kita baik keluarga maupun lingkungan sekitar. contoh untuk menjadi dokter yang sukses tidak harus menjadi dokter spesialis.. dokter umum pun bisa menjadi lebih sukses ketimbang dokter spesialis. Buat apa kita mikirin yang kita suka tetapi tidak bisa, karena Allah tidak pernah salah memberikan amanahnya kepada kita.Karena sukses tidak dinilai secara materi tetapi seberapa besar manfaat yg sudah kita berikan. Seperti materi diatas bersungguh2lah dalam menjalankan peran kita.  "uang akan mengikuti sebuah kesungguhan, bukan bersungguh-sungguh karena uang". Ubah misi hidup mb, sesuai dengan yang sudah diamanahkan Allah. 😊

πŸ™‹ Karlina
Bagaimana cara mengajarkan rezeki dalam bentuk lain kepada anak sedini mungkin? 

❤❤ 
Mb Karlina.. 
Mungkin bisa dengan banyak hal.. misal ketika mau makan kita ajarkan berdoa dan berterimakasih sama Allah atas makanan yang sudah disediakan misal disebut nasi, sayur, tempe dll  disebut semua. jadi anak mulai faham rezeki mknn itu dari Allah, Terus ketika jalan2... kita ajak bersyukur sama Allah diberikan badan yang sehat dan bisa jalan2,Saat menonton film.. bersyukur dengan rezeki mata yang sehat, bersyukur dengan rezeki bisa ditemani ayah dan bunda.. dll😊

Diskusi Sesi Kedua

Tanya:
1. Saya working mom dgn dua anak perempuan balita. Sekarang ini bekerja di sektor publik bidang akademik. Hingga saat ini saya sudah mantap bahwa bukan rezeki yg dicari, tapi kemuliaan. Tapi ketika bertemu dengan kenyataan ketika anak lebih suka di rumah bersama ibunya, pun mengingat anak kedua belum genap 2th, kegalauan kembali muncul. Apa yg harus saya lakukan untuk dapat melayani anak-anak dengan baik dan membahagian mereka? Instrospeksi apa saja yg harus saya lakukan? NHW yg manakah yg harus saya kaji ulang?

Jawab: 
Mbak, silahkan diskusi dengan anak dan suami lebih banyak manfaat ato madharat yang mana kah? bekerja di sektor publik atau domestik. mana yang lebih urgent?tanyakan pada  diri sendiri sudahkan kewajiban mereka(anak dan suami) terpenuhi?

2. Saat pembuatan be, do, have saya menggabungkan antara bisa dan suka dari diagram penting banged dan penting. Itu boleh ga ya?

Jawab: 
Untuk merumuskan be, do, have ambil 1 poin saja mbak lalu di breakdown.

3. Dari ranah suka dan bisa itu bagaimana jika ada 2 hal yang paling dominan, misal bidang 1 kita suka, bisa dibilang lebih membuat berbinar, namun terkendala belum punya skill yang sebanyak bidang ke 2 dan masih banyak sekali PR untuk bidang ke 1 itu. Sementara di pilihan ke dua, kita suka namun binarnya sedikit lebih kecil dari yang pertama tadi. Dan kondisinya lebih mungkin untuk dilaksanakan pilihan ke 2 itu. Bagaimana ya kalau begitu? Terima kasih

Jawab: 
Mbak, kalau menurut saya, saya pernah dengar dari bu Septi juga, pilihlah bidang yang memang suka dan bisa dulu(yg sudah punya skill). kalau memilih bidang yang skillnya kurang maka akan laama dan butuh jam terbang yang tinggi(10.000 jam terbang). Seperti seekor ikan jangan disuruh belajar terbang karena akan sia2 dan tidak akan pernah menjadi ahli terbang karena dia adalah ahli berenang, dan sebaliknya buat apa Burung bersusah payah belajar berenang karena burung tidak akan pernah menjadi ahli renang, namun jika dia mengasah ilmu terbangnya maka dia akan menjadi ahli terbang yang lebih hebat dan lebih baik dari yang lain.







                       

Comments

Popular posts from this blog

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) 2015

Meminta Maaf

Balada Stik Es Krim