Melatih Inisiatif Anak Untuk Membantu Orang Tua di Rumah

bantu menjemur pakaian
"Mami, mas boleh bantu, nggak?"
Biasanya, itu adalah kalimat pamungkas yang dilontarkan #Asaboy kalau dia lihat saya sedang mengerjakan pekerjaan domestik macam cuci piring, masak dan jemur pakaian. 
Ibu mana sih yang nggak senang kalau anaknya punya inisiatif untuk membantu pekerjaan rumah tangga?
Ya tapi nggak dari tangan anak usia balita juga kali, mak... hahaha
Resiko dibantuin anak balita adalaaaah..
Pekerjaannya nggak selesai-selesai dan cenderung bikin nambah berantakan. Belum lagi emak harus bekerja dua kali karena insiden baju dilempar, piring yang sudah dicuci dimasukkan lagi ke tumpukan piring kotor, atau bahkan kecap yang dibubuhkan ke masakan yang nggak seharusnya.

Been there, done that.

Lelaaah hayati kalau si kecil dah ikut-ikutan ngrecokin  bantuin. Nyokap sih suka ngelarang juga karena khawatir kalau cucunya ikut-ikutan masuk dapur karena bahaya dekat kompor. Well, saya pun parno kalau si bocil ngikut masuk dapur. Tapi ya, apalah daya. Rumah cuma sekotak dan 4L (lu lagi, lu lagi). 

Tapi kemudian si papoy yang cenderung lebih wise dalam dunia "sayang anak" menyadarkan saya. Suatu hari di kala kami duduk berdua di tepi pantai, beliau bilang, 
Kalau kamu menolak uluran tangan dari anak, lalu bagaimana inisiatif anak bisa berkembang?
Saya pikir, benar juga sih ya. Kalau saya tolak bantuan dari si kecil, lalu kapan dia punya kesadaran untuk empati dan mau membantu emaknya yang malas ini? Maka sejak itu saya mencoba untuk membiarkan si kecil untuk membantu, walaupun dengan resiko kerja dua kali or even durasi kerjaan rumah jadi tambah lama. Repot ya, mak? Eiim...

Proses merangsang daya empati dan inisiatif si bocil ini kami lakukan sejak dia mulai bisa berjalan. Kalau nggak salah waktu ia masih berusia 13 bulan. Kalau saya menjemur pakaian, dia suka pegangan di ember lalu ikut ambil baju dan kasih bajunya ke saya. It was nice, though. Seneng aja gitu anak piyik dah mau bantu ibunya.

Ternyata, pas saya browsing-browsing, ada loh yang bikin daftar pekerjaan rumah tangga yang bisa dikerjakan anak sesuai dengan usianya.

Sumber: pinterest

Hahaaayyy.. senangnya.. jadi selain melatih soft skill si bocil, emak nggak jadi tertuduh eksploitasi anak kan, ya? Alhamdulillah sih, berbekal kesabaran dan kadang dibumbui omelan dikit dari emak, inisiatif si boy sudah semakin terasah. Nggak jarang kalau kami lagi duduk-duduk santai, Asaboy ambil gelas dan mengambilkan kami berdua minum, kadang omanya juga turut diambilkan (walaupun dengan resiko lantai jadi becek ketumpahan air dan tumpukan gelas kotor bertambah). But it's okay. Namanya juga belajar, ya nggak? 



Semoga aja inisiatif ini akan terus melekat sampai nanti kamu besar ya, nak. Bukan buat kami, sih. Secara kami pun nggak tahu sampai kapan akan bisa hidup mendampingimu di dunia ini. At least, ketika kami sudah nggak ada, bekal hidupmu untuk carry on dan survive di bumi Allah ini sudah ada. Amin

  

Comments

  1. setuju mak, anak ke 2, 4 thn, suka bantuin iris iris sayur, meskipun bentuknya kacau

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mbak.. jadi dibiarkan saja "membantu" emaknya, biar terbiasa :)

      Delete
  2. Setuju, mba. Anak memang harus dilatih sejak dini ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyap, mbak. Supaya ringan tangan :)

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) 2015

Meminta Maaf

Balada Stik Es Krim