Ibu Profesional, Ibu Sempurna?

March 23, 2017

logo IIP

Pernah dengar tentang Institut Ibu Profesional?

Sekolah orang tua yang dibangun oleh Ibu Septi Peni Wulandani dan Bapak Dodik Mariyanto.

Dulu saya sih sempat jiper waktu mendengar tentang "sekolah daring" ini. Secara yah, saya mah jauh lah dari embel-embel predikat seorang ibu yang profesional.

Bangun masih kesiangan, sama anak masih nggak sabar, masih suka ngomel dan merepet seenaknya. Masih banyak kurang bersyukurnya sama kondisi yang Allah dah kasih dari dulu sampai sekarang.

Terus, dengan kondisi ruhiyah yang demikin carut marut, masih berani gitu ikutan matrikulasi Institut Ibu Profesional?
Iyah.
Justru karena saya belum bisa menjadi ibu yang baik maka saya nekat nyemplung di matrikulasi. Kalau sudah baik mah langsung aja jalan sendiri menjalani kehidupan sebagai ibu rumah tangga tanpa perlu bimbingan orang lain.

Dulu, "bapak kaya" saya pernah berkata bahwa kehidupan keluarga kecil kami itu dimulai bukan dari nol, tapi dari minus, entah minus berapa. Yang pastinya, karena beliau yang menjadi perantara Allah dalam mengangkat derajat diri saya dan keluarga maka beliau sangat memahami kondisi saya. Tanpa beliau, nggak akan ada Inne yang sekarang.

Kemudian beliau juga sering bilang bahwa saya jangan pernah membandingkan kehidupan saya dengan kehidupan orang lain. Karena timeline hidup saya jauh berbeda dengan timeline perempuan-perempuan lain seusia saya.

Dulu sih saya nggak paham maksudnya bapak apa, tapi semakin saya jalani, semakin saya paham bahwa kata-kata beliau benar adanya. Juga bahwa proses memperbaiki diri ini nggak akan pernah tuntas hingga nanti saya terbaring di liang lahat.
Seram, ya?
Nggak juga sih. Karena memang hanya kematianlah satu-satunya hal yang pasti di dunia ini. Lalu, kenapa kita musti takut?

Yang saya khawatirkan ketika nanti harus kembali, saya tidak bisa mengembalikan apa yang Allah telah amanahkan kepada saya seutuhnya.
Oleh karena itu saya berharap, semoga perjalanan saya di dalam matrikulasi IIP ini bisa menjadi sebuah usaha dalam memperbaiki kualitas diri dan keluarga.

Yah, apalah saya.. hanya sebutir debu yang terlempar di antara ibu-ibu berlian. Yang masih sangat terseok-seok untuk belajar memasak, membersihkan dan menata rumah. Masih banyak PR yang harus saya selesaikan jika Allah mengizinkan.

Apalah saya, hanya seorang perempuan berstatus guru pertama bagi si anak pertama, Asaboy. Yang berusaha menjadi istri sesuai standar si papoy.
Loh, kok standar si papoy?
Karena ridha suami kan ridha Allah, ya?
Lalu, saya juga nggak sanggup kalau harus mengikuti standar orang lain.. hahaha.. kayaknya kalau suami saya bukan si papoy gak bakalan kuat juga lah saya ngikutinnya.

Sekilas, teman dan keluarga saya bilang bahwa saya yang dominan di dalam keluarga kecil kami. Padahal, itu cuma sekilas. Sesungguhnya he is our leader. Kalau saya mau pergi hang out dan beliau nggak setuju, ya saya nggak berangkat (kadang ini sih yang temen2 saya suka sebel...hahaha). Tapi ya mau gimana lagi? Dosa saya, hidup-mati saya kan ditanggung sama si papoy ini, dunia dan akhirat. Maka ketika ia melarang, saya pun akan semakin berusaha sekuat tenaga untuk membujuk ulang   patuh. Ya, walaupun kami juga masih ngupas bawang alias sama-sama berproses.

Setelah ikut matrikulasi sampai materi sesi ke-9 ini, saya semakin mantap dalam menjalani hidup. Yang tadinya hidup awur-awuran (emang beras? wkwkwk).. sampai salah satu sahabat saya pernah bilang, "hidup lo nggak ada target apa, ne?" Waktu itu saya sih cuma ketawa dan bergumam dalam hati, masih bisa hidup "normal" sampai sekarang aja sudah alhamdulillah, apalagi mau sok sok-an pake target. Setelah menjalani matrikulasi IIP, barulah saya berani menentukan target. Sebelumnya, selalu nggak pede dan merasa nggak bisa.

Bagi saya, IIP adalah busur, tempat saya bersarang sementara untuk dilepaskan ke tujuan hidup yang Allah telah tetapkan. 
Saya pun tidak pernah berani untuk menyematkan status "ibu profesional" di dalam diri. Karena itu terlalu mewah. Untuk saya, menjadi seorang ibu saja sudah merupakan anugerah yang luar biasa, maka ketika ada predikat "profesional" di belakangnya, itu adalah bentuk kesyukuran yang luar biasa atas kepercayaan Allah akan status seorang ibu.

Ibu profesional bukanlah ibu yang sempurna. Ibu profesional adalah perempuan yang sadar akan fungsinya sebagai seorang ibu and that's how she function, dengan segala kelebihan dan kekurangan yang Allah telah titipkan kepadanya.




You Might Also Like

0 comments