Internet: Medan Perang Konten


Saat menjelang istirahat malam tadi, tiba-tiba ponsel saya bergetar pelan. Ternyata, kakak ipar saya yang mengirimkan sebuah pesan via Whatsapp. Beliau mengirimkan rekaman suara kemenakan saya (4th) yang sedang melafalkan hadist adab makan dan minum. Tak lama kemudian, sebuah rekaman suara menyusul. 
"Tante, adik sudah hafal hadist", ujarnya.
Kemudian saya balas dengan teks "Alhamdulillah, adik.. :*". 

Image: www.pixabay.com
Thanks to the internet. 

Karenanya, silaturahim menjadi kian mudah dan murah. Ketika ruang, waktu dan kondisi geografis bukan lagi menjadi kendala. Walapun ada ungkapan yang menyatakan bahwa internet mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Tapi menurut saya, sebagaimana hadist yang diriwayatkan oleh HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits; 

Innamal a'malu binniyat

Yang artinya, "Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya"

Sejatinya, internet hanyalah alat. Maka, kendali sepenuhnya ada di tangan kita. Ada sebagian orang yang beranggapan bahwa internet lebih banyak jahatnya dibandingkan baiknya, sehingga mereka memilih untuk menutup diri dari perkembangan zaman dan mengisolasi diri dan keluarganya. Tidak masalah, itu kembali lagi ke pilihan hidup masing-masing. 

Kalau saya pribadi setuju dengan salah satu kutipan yang ditulis oleh mak Indah Julianti disini . Jika internet diibaratkan dengan sungai maka saat ini, kita sedang menempati pinggirannya. Ketimbang memasang pagar di sepanjang pesisir sungai, lebih baik kita mengajari anak kita berenang. Let them know how to survive in the water. Bagaimana cara mereka untuk bermanuver di dalam air dan mengantisipasi apabila terjadi banjir. 
Karena biasanya semakin dilarang, maka anak akan semakin penasaran. Kita larang di rumah, namun di luar rumah bisa saja ia mengenal dunia maya melalui teman-temannya. Nah, jangan sampai anak mengenal dunia internet dari sisi yang salah. Naudzubillah.

Belum lama ini, media sosial sempat dihebohkan dengan berita seorang gadis yang mengalami culture shock di ibukota. Konon si gadis sempat meraih nilai UN tertinggi di daerah asalnya. Di salah satu media online, ia menyatakan bahwa salah satu cara untuk meraih prestasi tersebut adalah dengan mengasingkan diri dari semua sosial media. Sayangnya, ketika hidup di ibukota, ia memanfaatkan sosial media dengan memposting gaya hidupnya yang membuat dahi emak-emak mengernyit dan menggumam amit-amit. Reaksi anomali yang membuat miris adalah, dengan aksinya tersebut, ia berhasil menarik perhatian netizen dan media sehingga dapat meraih penghasilan selangit. 

Sensasi si gadis hanya salah satu contoh dari beragam kasus yang terjadi. Banyak kasus penculikan, penjualan organ, cyber crime dan semua berita buruk yang tersebar di dunia internet. 

Sebagai alat, tentunya internet membawa dampak positif sekaligus negatif. Seperti mobil, bisa bermanfaat apabila dikendalikan secara tepat. Dari sekian banyak konten negatif yang berseliweran di internet, tentunya kita sebagai orang tua sangat geram dan khawatir jika anak-anak kita terpapar konten tersebut. 

Jadi, apa yang bisa kita lakukan? 

Mengutip perkataan mas Shafiq Pontoh, salah satu founder ID Ayah Asi saat kami sempat sharing di acara Bangkit Komunitas bulan Februari silam,

"Isilah internet dengan konten positif, maka konten negatif akan tersingkir dengan sendirinya"

Yap, hilangkanlah konten negatif dengan konten positif. Layaknya kita menuang air secara terus menerus ke dalam gelas yang berisi minyak. Perlahan tapi pasti, minyak tersebut akan keluar dari gelas apabila kita konsisten mengisinya. 

Image: alisonragsdale.com

Sounds easy but it's so hard to do.  Kebanyakan dari kita, para netizen baik, malas  enggan untuk bercerita pengalaman positif. Bahkan untuk membuat portofolio online saja kita ribet nggak sempat. Kita bisa kalau saja kita mau. Jangan sampai kita cuma bisa mencak-mencak di sosmed dan mengeluh di dunia nyata jika konten negatif semakin bertambah. Padahal, kita turut andil dengan pembiaran. 

Well, at least we can start from small things. Mulai dari posting hal-hal baik di sosmed, tulis segala pengalaman positif di blog, upload hasil karya kita. Bukan berarti kita riya dan mau pamer, tetapi hal ini penting dalam rangka menggerus konten negatif tersebut. Di era UGC (User Generated Content) ini, kita bisa mengisi dunia internet di berbagai macam situs secara gratis, bahkan mendapatkan penghasilan!

Suka masak? sila unggah (upload) demo masak di Youtube atau resep di Cookpad
Suka buat DIY? sign up di Pinterest atau Instructables dan unggah semua hasil DIY kita.
Sedang mencari pekerjaan? Silakan buat akun di LinkedIn , Jobstreet and show yourself to the world!
Apapun interest kita, apa yang bisa kita lakukan dan hasilkan maka silakan kita sebarkan. Tentunya, dengan tetap menjaga keamanan data kita yang bersifat pribadi.

Cara lain untuk meng-counter konten negatif di internet adalah:

1. Jangan bereaksi (dulu) 
Heh! nggak salah? Yap. Jangan. Bereaksi.
Ketika sebuah konten negatif di-share di timeline sosmed kita, cuekin aja dulu. Jangan terlalu mudah untuk terprovokasi dan meng-klik tombol share hanya karena gatal ingin komentar. Satu klik dari kita akan semakin meningkatkan rating konten negatif tersebut di situs mesin pencari. Apalagi dengan klik like, share atau mengetikkan "Amin" di kolom komentar sebuah foto mengenaskan atau gambar pemuka agama yang bajunya nampak glowing karena efek fotografi. 

2. Cek-Ricek-Cek-Ricek.
Ini bukan judul infotainment yah. Sebaiknya periksa lagi kebenaran sebuah informasi yang kita dapatkan. Sebelum meneruskan sebuah broadcasted message, kita wajib untuk memverifikasi keabsahan berita tersebut. Jika kita yakin bahwa informasi itu benar dan dipertanggungjawabkan, maka silakan sebarkan. Jika kita tidak yakin maka lebih baik diam. :)

Jadi, selamat perang konten! ^_^


Notes: 
Tulisan ini adalah tanggapan dari tulisan inspirasi Collaborative Blogging KEB kelompok 2 














Comments

  1. Internet memang hanya alat, mba kita sendiri yang mengendalikannya.
    Masih banyak hal positive yang bisa diambil dari internet terutama untuk anak-anak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyap... bener banget mbak.. bagaimana pun, kita yang mengendalikannya yah :)

      Delete
  2. Betul banget, Inne. Banyakin terus konten positif biar konten negatif melipir dengan sendirinya yes :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. setujuh, teteh... (saking setuju-nya, ditambahin "H" biar hot) wkwkwkwk

      Delete
  3. Setuju mak Ine..sebar trs konten positif agar yg negatif bs tergerus..

    ReplyDelete
    Replies
    1. siaap, mak... maju terus isi konten positif yah.. semangat! :)

      Delete
  4. Setuju....internet adalah alat, kendali sepenuhnya ada di tangan kita.

    terima kasih sharingnya, ini salah satu bentuk konten positif :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. waaah... terima kasih banyak makpuh.. ^_^

      Delete
  5. internet hanya alat, tapi bagi yang tidak bijak menggunakannya, justru kita yang diperalat ya mbak :) jadi harus bijak menggunakan internet, juga memberikan pemahaman ke anak-anak agar tak terpapar dampak negatif internet :)

    ReplyDelete
  6. Setujuu..pernah sampe bosen sama internet karena di mana-mana kontennya negatif hufhhh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe... jadi antipati dan selamatlah beberapa lembaran merah dari dompet yang biasa dipake beli kuota ya mak... #curcol

      Delete
  7. Internet bagi saya pribadi merupakan medan perang saya dalam mencari sesuap nasi

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) 2015

Meminta Maaf

Balada Stik Es Krim