Uang dan Duit



Dengan gembiranya, Asaboy membawa celengan barunya, botol bekas PUF puding sruput, ke mana saja kami pergi. Tutup botolnya sengaja tidak kami lem, karena botol tersebut akan dipakai untuk jangka pendek. Kalau Asaboy mau beli mainan, maka ia akan mengambil uang dari celengan tersebut. Artinya, kami bisa berhemat untuk membeli kebutuhan lain yang lebih mendesak. Aman. :)


Mengasah kecerdasan finansial anak ternyata cukup menantang. Saya baru sadar ketika kami mengajarkan Asaboy untuk merencanakan apa yang akan ia beli, secara otomatis, ia akan belajar untuk menabung dan berusaha untuk menambah tabungannya tersebut. Secara otomatis pula, kami sudah mengenalkan uang kepada Asaboy. Padahal dulu kita mendengar orang orang tua bilang, "Anak kecil jangan dibiasakan pegang uang sendiri, nanti tau jajan".


Menurut artikel yang saya baca di sini (http://bisnis.liputan6.com/read/3046467/intip-tahap-kenalkan-uang-pada-anak-sesuai-usianya), mengenalkan uang ke anak adalah sebuah tahap penting untuk kehidupannya nanti. Betul juga, sih. Kalau tidak dikenalkan uang sejak kecil, lalu kapan?

Jadi kami tepis mitos yang melarang anak kecil pegang uang. Kami putuskan untuk memperkenalkan uang secara benar ke Asaboy. Walaupun, secara tidak sengaja, kami menemukan sebuah hal yang membuat kami terkejut.

Malam itu kami ingin menunjukkan ke Asaboy, apakah celengannya akan muat untuk uang kertas. Jadi, kami memasukkan beberapa lembar uang kertas dua ribuan ke dalam celengan botol bekas tersebut.

"Mas maunya duit, nggak mau uang!"ujarnya.

Saya dan papinya bengong.

"Lah, apa bedanya uang sama duit, boy?"ujar papinya
"Beda, papi!"
 Papinya mengambilkan dompet saya dan meminta Asaboy untuk menunjukkan kepadanya, mana uang dan mana duit.
"Coba mas, kasih lihat papi. Yang mana uang, yang mana duit?"
Asaboy mengambil selembar uang dua ribuan.
"Ini uang, papi"katanya.
Kemudian ia mengguncang-guncangkan dompet saya, terdengar bunyi gemerincing dari dalam dompet. Ia membuka lapis demi lapis yang ada di dalam dompet saya.
"Cari apa, boy?" tanya saya.
"Duit, mami." jawabnya.
 Ia berhasil menemukan sebuah koin dari dalam laci kecil yang tertutup ritsleting di dalam dompet saya.
"Naaah... ini duit nih, pi"

Sontak, saya dan papinya ngakak.

Ooh, jadi selama ini ia menganggap bahwa uang kertas adalah uang, dan uang logam adalah duit. Ckckcckk...

Selama ini kami nggak tahu sama sekali kalau Asaboy berpikir demikian. Kalau saja nggak ada materi #CerdasFinansial di kelas IIP, mungkin sampai kapan pun, Asaboy akan berpikiran seperti itu terus.. Hahaha...

#Day3
#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial





Photo by bady qb on Unsplash



Comments

  1. Tepuk tangan! Salut Mbak Inne, sudah mengenalkan uang dan pengelolaannya sejak dini. Lucu juga mengambil kesimpulan perbedaan uang dan duitnya. :D

    ReplyDelete
  2. hehee... supaya orang tuanya juga belajar mengelola uang, mas.. saya banyak belajar dari blog mas Dani juga.. matur suwun.. :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Berenang di Kolam Renang Matoa

Periksa Skoliosis Dengan BPJS (1)

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) 2015