[Review] Lelaki Harimau, Eka Kurniawan


Minggu ini diisi dengan untaian kata-kata karya Eka Kurniawan. Setelah jatuh cinta dengan "Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas" minggu lalu, kali ini saya baca salah satu karya beliau yang cukup fenomenal, "Lelaki Harimau".


Ketika saya baca judulnya, nggak ada ekspektasi apa-apa tentang novel ini. Apakah tentang cinta tak tersampaikan? amarah yang terpendam? atau rindu yang terlalu berat? #terDilan.
Saya pinjam buku ini dari perpustakaan elektronik, aplikasi Ipusnas yang dipasang di ponsel Android. Awalnya saya agak skeptis apakah saya betah baca di media elektronik? Ternyata, itu semua tergantung pada buku apa yang saya baca.

Membaca novel ini, rasanya nggak rela untuk ninggalinnya barang sekejap. Makanya saya baca sebelum tidur. Ketika Asaboy dan papanya sudah terlelap. Supaya bisa baca dengan aman, tentram dan damai. Haha.

Oke, balik ke cerita novelnya. Buku ini bercerita tentang seorang bocah lelaki bernama Margio. Bab awal menceritakan tentang kekejian Margio membunuh Anwar Sadat. Alih alih mengaku, si pesakitan malah menjawab bahwa harimau di dalam dirinya-lah yang membunuh Anwar Sadat. Padahal saksi dan barang bukti semua mengacu pada diri Margio seorang.

Alur cerita maju mundur yang diceritakan secara cepat tapi luwes, membawa imajinasi pembaca naik-turun tapi dalam ritme yang pas. Saking menikmati goretan tulisan Eka Kurniawan di buku ini saya sampai nggak rela ketika sampai di lembaran terakhir.

Kekejian Margio merupakan manifestasi kekerasan domestik yang ia rasakan dan saksikan sejak ia kecil. Trauma, sakit hati bahkan dendam yang demikian kesumat terhadap ayahnya sendiri. Bahkan Margio pernah bilang ke Mameh, adiknya, kapan-kapan ia akan membunuh ayahnya.

Margio sangat menyayangi ibunya, Nuraeni. Perempuan desa yang dipersunting Komar bin Syuaeb melalui perjodohan sejak keduanya masih bocah. Awalnya Nuraeni sangat mencintai suaminya, sayangnya Komar tidak pandai bermain kata dan perilaku dalam membuai perempuan yang ia cintai. Padahal Komar adalah seorang lelaki yang cukup bertanggung jawab dalam menafkahi keluarganya. Namun, ia lupa kalau anak bininya nggak cuma butuh uang, tapi juga cinta dan kasih sayang.

Komar merasa semua sudah ia berikan ke keluarganya, tapi apa yang keluarganya berikan tidak lain hanyalah repetan Nuraeni di dapur, berbincang sinting dengan panci dan kompor. Apa yang Margio berikan hanyalah kenakalan tiada henti, sejak anak-anak hingga remaja. Bahkan ia berani mencuri ayam-ayam ayahnya sendiri.

Margio tidak pernah merasakan sentuhan lembut di kepala dari ayahnya. Sebaliknya, yang ia dapatkan adalah tamparan, tendangan dan makian dari orang yang seharusnya melindunginya dari marabahaya. Sementara Mameh pun tak luput dari "serangan" bapaknya yang bertubi-tubi. Bapaknya merasa bahwa kekerasan adalah satu-satunya cara untuk berkomunikasi dengan anak dan istrinya yang sinting.

Satu kata buat novel ini: Ironis.

Ketika cinta tidak mampu dikomunikasikan dan diambil alih oleh kekerasan yang dianggap mampu menyelesaikan segala permasalahan. Yang akhirnya berbuntut panjang pada dendam, amarah, rindu dan cinta yang tak sampai.








Comments

Popular posts from this blog

Berenang di Kolam Renang Matoa

Periksa Skoliosis Dengan BPJS (1)

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) 2015