[Review] Keluarga Kita: Mencintai Dengan Lebih Baik, Najeela Shihab


"Harta yang paling berharga, adalah keluarga..."
Sebuah penggalan bait lagu dari sinetron legendaris berjudul Keluarga Cemara. Sebuah film yang menurut saya dulu adalah cerita yang utopis. 
Dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang tidak utuh membuat saya menjadi sosok yang skeptis dan selalu apatis terhadap apapun yang terlihat lebay. Termasuk kasih sayang di dalam keluarga. Karena gambaran sebuah keluarga yang terekam di kepala saya sejak kecil bukanlah seperti apa yang ditampilkan di dalam sinetron tersebut.

Hingga akhirnya saya membangun keluarga sendiri dengan suami, saya masih terbebani oleh "bagasi" masa lalu saya sendiri. Perlahan tapi pasti, saya mencoba mencari solusi dan berusaha membuat sebuah keluarga yang baik untuk perkembangan anak kami, Asaboy. 

Sampai saya bertemu dengan kelas "Hubungan Reflektif" yang diadakan oleh komunitas Keluarga Kita (dulu 24-hour-parenting). Di salah satu kelas yang diadakan di Rumah Main Main, Bintaro, saya menyadari banyak sekali hal yang perlu dan harus kami ubah dalam proses mendidik anak. 

buku Keluarga Kita, Mencintai Dengan Lebih Baik

Setelah kelas tersebut, saya ikut lagi kelas "Disiplin Positif" di salah satu daycare di Depok. Saya yang terbiasa mengancam Asaboy kalau ia tidak menurut, tersadarkan bahwa mengancam itu nggak membawa manfaat apa-apa. Makin ke sini, saya berusaha memahami Asaboy. Bagaimana pola komunikasi yang efektif agar kepentingan saya dan anak bisa terakomodir dengan baik, tanpa harus tarik urat. 

Untunglah kemudian mbak Najeela Shihab menuliskan sebagian dari materi workshop yang ada di kelas Keluarga Kita (walaupun lebih asyik ikutan workshopnya sih) di buku Keluarga Kita, Mencintai Dengan Lebih Baik. 

Di buku ini, dipaparkan bagaimana cara menjadi orang tua yang menyenangkan tanpa kebablasan. Bagaimana membahagiakan diri sendiri, anak, dan keluarga dengan cara yang menyenangkan dan tanpa beban. Walapun secara teori lebih mudah dibandingkan praktik, tapi setidaknya, kita punya "contekan" untuk dilirik ketika rasanya dunia kecil kita runtuh akibat perselisihan di dalam keluarga. 

Perubahan memang tidak akan terjadi secara signifikan, tapi pelan-pelan. Sedikit-sedikit menjadi bukit. Kita mulai dengan hal yang paling ringan, mau menyediakan waktu untuk bernegosiasi dengan anak ketika ia tantrum di toko mainan karena tidak ada bajet untuk mainan yang ia inginkan. 

Mau memahami anak ketika ia tidak mau salaman dengan orang yang baru saja ia temui. Mau menerima anak apa adanya ketika ia berbuat kesalahan, dan mau mendengarkan anak ketika ia butuh curhat. Intinya, semua dilakukan dengan cinta.

Saya yakin, setiap orang pernah terluka. Dan sayangnya, sebagian besar luka terdalam ditancapkan oleh orang terdekat yang berlabel keluarga. Dengan buku ini, kita belajar untuk bagaimana menghindarkan luka itu dari hati anak-anak kita.  Semoga, pemandangan inilah yang terekam di dalam memori anak-anak. Amin.


A post shared by Inne R.A. (@inne.ra) on







Comments

Popular posts from this blog

Berenang di Kolam Renang Matoa

Periksa Skoliosis Dengan BPJS (1)

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) 2015