Rencanakan Belanja, Belanjakan Sesuai Rencana


Dalam rangka membiasakan #bijakkeuangan, kami sekeluarga sedang latihan untuk mengelola keuangan dengan baik, dengan cara sederhana, sesuai kemampuan kami. Setiap perubahan memang perlu tantangan, apalagi ini berkaitan dengan mengajarkan pengelolaan keuangan ke anak. Harus bisa tega dan tegas. 

Yang namanya orang tua, kalau bisa mah pengennya selalu memberikan apa yang anaknya mau. Ya nggak, buibu? Tapi ternyata kan nggak begitu caranya. Iya kalau kita sedang ada uang, kalau nggak, gimana? Atau bahkan yang lebih ekstrim lagi, iya kalau kita masih hidup di dunia ini. Kalau nggak? maka ke mana anak kita akan meminta? Siapa yang bisa menjamin bahwa keinginan anak kita akan selalu terpenuhi?

Oleh karena itu, kami sedang belajar bersama untuk membiasakan diri mengatur emosi ketika berbelanja. Lah, apa hubungannya berbelanja dan emosi? Ternyata, seringnya kita tuh terpengaruh oleh beberapa faktor ketika berbelanja. Salah satunya adalah kondisi perut yang lapar, suara musik yang mengalun, atau bahkan kondisi emosi sedang marah atau kecewa. Maaf saya nggak bisa mencantumkan sumber validnya, karena saya juga lupa baca di mana gitu.. Hihi. 

Balik lagi ke perencanaan keuangan, hari ini kami mempraktikkan metode rencanakan belanja, belanjakan sesuai rencana, dengan cara yang sangat sederhana.
Ketika saya akan pergi berbelanja ke warung, saya mengajak Asaboy juga. Lalu saya bilang, 
"Mas, mami mau ke warung beli kapas dan roti. Mas mau ikut?"
"Mau, mami"
"Di warung mas mau beli apa?"
"Hm.. apa, ya?"
Dia masih berpikir dan menimbang-nimbang apa yang akan ia beli di warung nanti. 
"Hm.. es krim?"
"Boleh, nanti kalau pileknya mas udah sembuh. Yang lain aja, gimana?"
"Hm.. susu kotak?"
"Okay"
Maka berangkatlah saya dan Asaboy ke warung. Setibanya di sana, Asaboy langsung ke kulkas tempat susu kotak dipajang, saya pun membeli barang-barang sesuai rencana. 
Nggak lama kemudian, saya lihat Asaboy sedang mengambil choki-choki. 
"Mas mau itu?" tanya saya.
Ia mengangguk dengan semangat. 
"Okey, bulan depan kita beli satu pak. Jangan sekarang"
Untungnya, di dalam boks choki-choki tersebut ada hadiah yang hanya bisa didapatkan jika membeli satu boks coklat. 
"Nanti aja belinya, mi? Tapi satu kotak, ya?"
"Oke. Tapi nanti, ya?"
"Iya, kalo beli sekarang nggak dapet hadiah. Kue mas juga masih ada kan di rumah"
Maksudnya camilan yang kami beli tempo hari. 
Setelah negosiasi garing tersebut, kami pun ke kasir dan membayar semua belanjaan kami. 
Untunglah kali ini Asaboy bisa mengendalikan dirinya. Padahal tadi saya sempat mau membelikan choki-chokinya, wong murah, cuma seribu. Tapi kan kami lagi membiasakan dia untuk bisa mengendalikan emosi saat belanja. Jadi, kami juga deh yang latihan.. Hehe. 
Anak tenang, emak senang. Hahaha. Amaan.

#Day14
#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial





Image: Photo by Igor Ovsyannykov on Unsplash


Comments

Popular posts from this blog

Berenang di Kolam Renang Matoa

Periksa Skoliosis Dengan BPJS (1)

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) 2015