One Spoon At A Time


Siapa sih yang nggak mau hidupnya berubah menjadi lebih baik?
Dari semua teman dan kenalan yang saya tanya, sebagian besar dari mereka menjawab, "Iya, gue juga nggak mau begini-begini aja"
Tapi kadang, kita nggak siap dengan perubahan itu sendiri.
Karena perubahan itu menantang. Berubah itu susah, kecuali ksatria baja hitam RX, tinggal pencet, langsung ganti kostum *ketara angkatan berapa.. :P

Tahapan perubahan itu sendiri memerlukan tekad dan komitmen yang kuat untuk bisa diwujudkan. Saat saya bercerita tentang bagaimana membentuk kebiasaan baru kemarin, saya sempat browsing tentang teori perubahan 21 hari untuk membuat sebuah kegiatan menjadi kebiasaan.

Menurut sebuah artikel di Forbes, ada 3 fase yang harus kita lalui untuk membuat kebiasaan baru, yaitu:
1. The honeymoon phase
2. The fight through
3. The second nature

Pada saat ini, saya sedang berada di fase kedua, the fight thru. Bagaimana kebiasaan-kebiasaan kecil yang mulai terbentuk bisa dilakukan secara konsisten. Di fase ini, saya kembali mengulas tujuan dan meluruskan niat, untuk apa saya melakukan semua hal tersebut?
Apa manfaat yang akan kami dapatkan jika kami bisa melakukannya secara konsisten. Karena di fase ini, rasa bosan, malas dan virus pikiran "ya udah sih, emang kita mah udah begini. Mau diapain juga ya tetap begini-begini aja" itu sudah mulai merasuk.

Dari semua "racun pikiran" yang muncul, yang paling berbahaya adalah pola pikir lama yang menyatakan bahwa "hidupmu sudah seperti ini sekian lama, ngapain berubah? ngapain pindah dari zona nyaman?"

Justru ketika pertanyaan-pertanyaan itu muncul di dalam pikiran kita, ya.. jawab saja langsung. Kembalikan lagi ke niat awal. Tetap lakukan semampunya dan tidak memaksakan diri untuk hasil yang sempurna. Finish is better than perfect.

Yang penting, stupid small-nya tetap jalan. Standar minimalnya tetap dilakukan. Sebisa mungkin, semampu mungkin, one spoon at a time.
Bagaikan menikmati hidangan yang kita suka, kita akan merasakan lezatnya makanan tersebut jika dimakan sesuap demi suap. Justru makanan itu akan terasa tidak enak jika kita makan sekaligus, ya nggak? Yang ada malah m*ntah karena alat pencernaan kita tidak sanggup mencernanya.

Satu hal lagi, jangan lupa memberi penghargaan kepada diri sendiri atas pencapaian-pencapaian kecil yang kita lakukan. Karena kalau bukan kita yang menghargai diri sendiri, siapa lagi?

#Day16
#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial





Image:
Photo by Sharon McCutcheon on Unsplash
Artikel Forbes:
https://www.forbes.com/sites/jasonselk/2013/04/15/habit-formation-the-21-day-myth/#39739c55debc


Comments

Popular posts from this blog

Berenang di Kolam Renang Matoa

Periksa Skoliosis Dengan BPJS (1)

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) 2015