Mencoba Konsisten


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), konsistensi adalah ketetapan dan kemantapan (dalam bertindak); ketaatasasan:
contoh: kebijakan pemerintah mencerminkan suatu -- dalam menghadapi pembangunan yang sedang kita laksanakan


Mendidik anak supaya cerdas secara finansial memang gampang-gampang susah. Cara gampangnya ya contohkan saja, tapi pada pelaksanaannya memang susah. Ini kenapa coba bahasanya mbuled gini.



Maksudnya, cara paling mudah agar anak menyerap materi yang kita berikan adalah, memberikan teladan. Masalahnya, ketika kita harus memberikan teladan ini, kita harus melaksanakan apa yang kita katakan.
Misalnya, kalau anak pengin jajan es krim sepulang sekolah, sementara tidak ada bajet untuk jajan. Apa yang harus dilakukan?
Pura-pura nggak dengar permintaan anak, kah?
Atau belaga sakit perut biar anak mau diajak pulang buru-buru?

Sepanjang pengalaman saya, cara-cara yang cukup ampuh adalah:
1. Emaknya nggak jajan. Hayo, siapa di sini yang demen jajanan anak sekolahan? Haha.. sama kok, saya juga. Makaroni goreng itu emang endolita banget, ya? Es teh tarik harga goceng. Duh, nulisnya aja bikin ngeces. Kalau anak melihat emaknya nggak jajan, apakah serta merta ia mau digiring pulang tanpa membawa sepotong jajanan pun? Belum tentu, sodara-sodara.

2. Sediakan camilan di rumah. Ini yang cukup ampuh juga. Haha. Tadi siang, Asaboy sempat merengek minta jajan. Lalu saya bilang, "Boy, di rumah kan udah punya jajanan. Mau beli apa lagi?"
Bukan camilan bikinan sendiri juga, sih. Awal bulan kemarin kami sudah membelikan Asaboy beberapa pak biskuit yang ia suka di agen warung dekat rumah. #Tetapirit. Kalau dihitung-hitung, lebih murah beli satu pak daripada beli satuan. Walaupun Asaboy nggak jajan biskuit setiap hari, tapi seminggu bisa tiga atau empat kali beli, dikalikan 4 minggu kan bisa se-pak juga. Biasanya satu pak isi 10 atau 12 bungkus kemasan kecil.
Hematnya berapa? Ya, paling dua atau empat ribu per pak, sih. Tapi kan, lumayan kalau biskuitnya beragam. Hehe.

Saya termasuk orang yang sulit untuk menjaga konsistensi. Kadang masih anget-anget tahi ayam juga. Tapi kalau sudah urusan kebutuhan dasar seperti sandang dan pangan kan merupakan kebutuhan yang nggak bisa ditunda-tunda, ya harus konsisten. Kalau ndak, kami nggak sampai di akhir bulan. Haha.

Sounds cliche but it's true

Okelah bisa sampai di akhir bulan, tapi dengan kondisi yang mengenaskan. Tabungan nggak terisi, atau tagihan ada yang harus tertunggak sampai bulan depan.
Balik lagi ke konsistensi. Awalnya memang saya nggak bisa sama sekali dalam mengelola keuangan. Tapi semakin hari, semakin dijalani, rasanya semakin menyenangkan.
Saya mulai dari mencatat pengeluaran, sekecil apapun.
Ribet, ya? Bahkan lima ratus rupiah pun saya catat.

Kalau nggak tercatat, saya sendiri nanti yang keder ke mana saja itu uang dihabiskan?

Jadi supaya nggak lupa dan keder, saya coba melakukan stupid small. Setiap pulang belanja, langsung catat di ponsel atau buku keuangan keluarga, apa saja yang saya belanjakan. Walaupun cuma beli kerupuk seribu perak.

Nanti catatan transaksi ini akan dianalisis di setiap akhir/awal minggu depannya. Sambil memperkirakan minggu depan kira-kira akan habis uang berapa. Terus, nanti di akhir bulan baru saya rekap semuanya. Kemudian berkutat lagi dengan keseimbangan neraca. Haha.. jadi inget zaman SMA, mainannya neraca.

Stupid small ini saya mulai per tanggal 8 Januari kemarin, alhamdulillah masih bertahan sampai sekarang. Padahal, proses mencatat pengeluaran ini sebelumnya pernah kami lakukan di awal tahun 2011, pertengahan 2013 lalu bablas.. nggak konsisten. Nggak pernah selesai sampai sebulan. Selalu saya yang lupa. Karena lupa satu, dua, tiga hari, seminggu, terus malas lagi memulainya. Terus wassalam deh akhirnya.

Sampai akhirnya kami kembali memulainya lagi di tahun 2018 ini. Semoga terus konsisten, minimal sampai akhir bulan Februari ini dulu.
-Lah, cepet amat?
Stupid small, remember?
Sesuatu yang dilakukan setiap hari, paling cuma 5-10 menit, dalam  jangka waktu yang terukur. Mingguan kah, bulanan kah, tahunan kah? Hanya kita yang tahu kesanggupan diri kita masing-masing. Kadang, karena terlalu tinggi target yang ditetapkan, akhirnya kita merasa down duluan , lalu merasa lebih susah untuk mencapainya.
Tapi kalau targetnya dibuat bertahap, jangka pendek dan jangka panjang, rasanya lebih masuk akal dan optimis bisa tercapai. One spoon at a time. Tetap semangat, mak!

#Day12
#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial





Photo by Gwen Weustink on Unsplash
GIFs:
1. https://giphy.com/gifs/dizzy-6awnByI8PTaKY
2. https://giphy.com/gifs/meh-rwedxv8kWXBaU
3. https://giphy.com/gifs/girlshbo-hannah-horvath-my-circumstances-xTiTnvIgGb0NB0k1ck

Comments

Popular posts from this blog

Berenang di Kolam Renang Matoa

Periksa Skoliosis Dengan BPJS (1)

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) 2015