Ketika Anak di-Bully


Hampir setiap hari, Asaboy mengajukan pertanyaan yang sama. 
"Mami, ini sudah sore, belum?"
Karena ia hanya dibolehkan untuk bermain di luar rumah di sore hari. Biasanya ia akan main sepeda di sekitar komplek atau di area bermain anak-anak yang ada di depan musola komplek. 

Tapi sore ini, ia mendapatkan "kejutan"
Waktu ia membuka pintu pagar, saya sedang menyapu di dalam rumah. Terdengar sekelompok anak kecil tertawa-tawa sambil meneriakkan kata-kata, "Genduut.. hoi genduut.. tuh si gendut, tuh". Saya santai aja melanjutkan pekerjaan karena biasanya Asaboy nggak terpengaruh kalau ada yang mengatainya demikian. 

Ternyata sore ini berbeda. 
Ia marah. 
Ia mencoba melawan mereka dengan menggeram, berusaha menakut-nakuti mereka, mungkin berharap anak-anak itu akan menghentikan ledekan mereka. Tapi rupanya usahanya sia-sia. Ketika saya terlihat di teras rumah, Asaboy segera menutup pagar depan lalu berlari ke arah saya, sambil menangis sesenggukan, tanpa teriakan. 

Dari suara tangisannya, kayaknya ia sedih banget. Kami duduk di dalam ruang tamu, saya peluk dia, saya usap-usap punggungnya, berusaha menenangkan. 
"Mas mau minum?" tanya saya. 
Ia menggeleng sambil menangis. Sepertinya ia kesal karena air matanya terus mengalir padahal ia ingin berhenti menangis. Ketara dari tangannya yang nggak berhenti berusaha mengusap air mata yang menganak sungai di pipinya yang gembil. 

Saya peluk sampai ia merasa tenang. Padahal dalam hati, saya juga menangis. Ketika saya peluk, ada kepedihan yang menjalar dari dadanya ke diri saya. I don't know, maybe some kind of mother and son's instict?

Ketika ia mulai agak tenang, saya tanya lagi dia. 
"Mas kenapa nangis? Ada yang luka? mas dipukul?"
Dia masih menggeleng. 
"Terus kenapa nangis?Coba kasih tahu mami"
Terbata-bata, dia bilang... 
"Gen... dut..mami, ... mas dibilang gendut..."
Tenggorokannya seperti tercekat dan air matanya kembali mengalir deras. Saya peluk lagi, kali ini lebih kencang. 

Well boy, welcome to the dark side of the world, kata saya dalam hati. Ada sepotong hati saya yang perih banget rasanya. Oh, begini ya rasanya kalau anak di-bully. Ingin sekali rasanya saya bentak anak-anak yang meledek Asaboy. Tapi saya tahu bahwa itu bukan solusi. Kalau hari ini saya bela, bagaimana Asaboy akan membela dirinya sendiri di masa yang akan datang? Padahal, saya maupun bapaknya nggak akan bisa menemani atau melindunginya selamanya. 

He has to learn to cope with this kind of sh**ty things. Ketika orang mengatainya, ketika orang menjahatinya, apa yang harus ia lakukan? Ia harus bisa belajar mengatasinya sendiri. 

"Mami omelin aja tuh anak-anak itu, nakal!" katanya
Saya hanya menggeleng dan memeluknya kembali. 
Perlahan, saya lepaskan pelukan kami, saya letakkan kedua telapak tangan saya di pipinya sambil menatap matanya lekat-lekat, kemudian saya bilang, 
"Mas, mami sayang mas. Mas itu berharga. Orang boleh bilang apa aja, terserah."
"Tapi mas nggak suka!"
"Mami juga nggak suka. Gini aja deh, nanti kalau papi pulang, kita ceritain soal ini. Kita tanya papi, mas harus jawab apa kalau ada yang ngatain mas lagi. Oke?" 

Kenapa saya malah nyaranin untuk tanya ke bapake? Karena bapake sudah mengalami pernah fase ini ketika ia kecil, dan menurut saya, saran dari beliau akan lebih efektif karena beliau sudah berpengalaman. 

Nggak lama, bapake sampai di rumah. Asaboy langsung turun dari pangkuan saya kemudian menghambur ke depan. Ketika bapake masih melepaskan helm dan jaket, ia sudah menyerbu bapake dengan cerita mendetil tentang kejadian barusan. 

Dengan santai, bapake ngomong ke Asaboy:
"Gini... bilang aja, "Emang aku gendut.. terus emang kenapa?"

Disuruh bilang begitu ke orang yang meledeknya, Asaboy sempat bingung, tapi kemudian ia tertawa. 
Ah, amaaan. Berarti saran dari bapake bisa diterimanya dengan lapang dada. 
"Emang mas gendut ya, pi. Terus kenapa, ya? biarin aja..."

Sore itu pun kembali kami jalani seperti biasanya. Tanpa drama, tanpa air mata lagi. 

Malamnya setelah Asaboy tidur, saya lanjutkan diskusi tentang hal ini dengan bapake. Dengan tenang, beliau cuma bilang, 
"Tenang aja. Nanti dia akan menemukan caranya sendiri harus gimana kalau dikatain orang. Itu baru hal sepele. Berikutnya, ia akan mengalami tekanan yang lebih besar. Kita nggak bisa menangkal itu semua, mi. Yang paling penting, kita deket sama mas. Itu aja."



Pola pikir sederhana yang mumpuni dan bisa bikin saya tenang. Iya, kedekatan keluarga adalah benteng dari segala pengaruh buruk yang ada di luar sana. Semoga cinta dan doa kami cukup untuk melindunginya. Amin. 





Images:
1. Photo by Joshua Earle on Unsplash
2. Photo by Jez Timms on Unsplash




Comments

Popular posts from this blog

Berenang di Kolam Renang Matoa

Periksa Skoliosis Dengan BPJS (1)

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) 2015