Sudah Siapkah Asaboy Sekolah?


Menurut School Readiness: a Conceptual Framework, sebuah paper yang diterbitkan oleh The United Nations Children's Fund (UNICEF), kesiapan seorang anak untuk bersekolah ditentukan oleh tiga dimensi, yaitu kesiapan keluarga, kesiapan sekolah dan kesiapan si anak itu sendiri.

Kali ini, saya tidak akan membahas dua dimensi pertama, tapi saya akan menceritakan tentang bagaimana tahapan kesiapan sekolah Asaboy menurut pengamatan emaknya sendiri (ya iyyalah ya, masa emak lain :D)


Jadi ceritanya, di usia Asaboy yang menginjak 5 tahun satu bulan ini, dia sudah "numpang main" di PAUD dekat rumah. Kenapa kami bilang numpang main? Ya karena tujuan kami untuk memasukkan dirinya ke PAUD itu untuk numpang main, selain di rumah. Kalau di rumah kan nggak ada jungkat jangkit, perosotan dan lain lain.

Nah, di PAUD itu ada. Ramai pula, ada anak-anak lain yang ikut bermain bersamanya.

Lalu, apakah Asaboy sudah siap masuk sekolah PAUD?

Awalnya nggak.

Asaboy masuk sekolah di bulan Agustus. Which was so late, karena awal tahun ajaran dimulai di bulan Juli. Dadakan aja dia masuk sekolah karena permintaannya sendiri. Apakah karena permintaannya sendiri dia langsung bersemangat dan masuk sekolah tanpa drama?
Yap, anda salah, saudara-saudara!

Tiga hari pertama, Asaboy menangis setiap baris berbaris dan wajib saya temani hingga masuk kelas. Emaknya pun masuk kelas. Ada kali sampai seminggu. Awalnya saya pikir, ini percuma dan sepertinya memang Asaboy belum waktunya sekolah (FYI, saya pro HS dan papanya pro sekolah umum) Saya pribadi pun merasa sanggup kalau Asaboy mau belajar di rumah saja.

Tapi kemudian saya lihat, inilah pentingnya school readiness, PAUD Asaboy memaklumi kondisi si kecil yang belum siap untuk lepas dari saya sepenuhnya. Tanpa penghakiman dan pemaksaan, guru-gurunya memaklumi kondisi Asaboy dan membiarkannya sampai ia siap saya tinggalkan. Seminggu berjalan, Asaboy masih saya temani saat baris, tapi kemudian ia mengusir saya pulang ketika akan masuk kelas.

Buahnya adalah hari ini.

Seperti biasa, sebelum berangkat sekolah, Asaboy sarapan dan menonton film Upin dan Ipin. Saya hanya mengingatkan,
"Boy, 10 menit lagi bel masuk sekolah. Lekas sarapan dan ganti baju (Asaboy sudah mandi tapi masih pakai baju rumah). Matikan televisinya"
"Iya, mami"
Asaboy paling benci kalau terlambat. Ia akan cranky dan minta ditemani seharian kalau datang terlambat ke sekolah.
Saya masuk kamar dan meninggalkan Asaboy sendirian di ruang keluarga.
Lima menit kemudian, Asaboy mematikan televisi dan minta dibantu untuk ganti baju. Tanpa drama.

Sesampainya kami di sekolah, saya hanya mengantar Asaboy sampai di depan gerbang, ia mencium tangan guru yang menunggunya di pagar, mencium tangan saya, kemudian berlalu ke dalam sekolah.

Sampai di halaman kelasnya, ia mencopot sepatu dengan tenang, menaruh tas di tempatnya, lalu bergabung bersama teman-temannya di dalam barisan.

No Drama At All!
Saya sempat takjub sendiri dan terpaku di depan pagar. Eh, anak gue dah gede ternyata, ya? Haha

Di dalam barisan, ia pun sudah asyik bernyanyi dan menari, mengikuti gerakan gurunya bershalawat.

Alhamdulillah, ternyata kalau diberi sedikit kesempatan, anak bisa blending dengan baik di sekolah. Yang awalnya saya sangka Asaboy akan cranky dan minta ditemani, ini nggak sama sekali. Semua lancar, tanpa ada drama dan air mata, sama sekali.

When it's time, it's time, indeed... 
#Day10
#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga





Photo by Celia Ortega on Unsplash











Comments

Popular posts from this blog

Berenang di Kolam Renang Matoa

Periksa Skoliosis Dengan BPJS (1)

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) 2015