Semua Anak Adalah Bintang


"Setiap Anak Adalah Bintang"

Memasuki bulan Januari tahun 2018 ini, artinya sudah masanya naik ke level 7 dalam pemelajaran di kelas Bunda Sayang, IIP Depok. Materi yang dibahas pada level ke tujuh ini adalah tentang bagaimana mengenali potensi, minat dan bakat anak sehingga orang tua bisa mengarahkan dan membimbing anak secara maksimal sesuai dengan fitrah si anak.




Kemarin, (5 Januari 2018), materinya sudah di-publish di WAG. Sayangnya, saya nggak ngeh kalau #tantangan10hari itu dimulainya per kemarin juga. Jadi, baru saya tulis sekarang deh, disini. 

Potensi, minat dan bakat anak adalah gift dari Yang Maha Kuasa untuk setiap anak. Spesial diberikan ke masing-masing anak, tanpa kecuali. Tinggal gimana kita, sebagai orang tua, apakah bisa mengenali dan membantu anak untuk menggali potensi yang memang sudah jadi "jatah" anak-anak dari Tuhan?

PR baru lagi, yes?

Asaboy yang kini sudah genap berusia 5 tahun, sudah mulai terlihat hal-hal apa saja yang membuat matanya berbinar-binar (salah satu indikator secara fisik). Walaupun sampai hari ini, kalau ditanya tentang cita-cita, ia selalu menjawab, 
"Mas mau jadi pemadam kebakaran sama (dan) polisi"
Nggak ada cita-cita yang salah. Setiap anak berhak untuk menentukan dan meraih apa yang ia inginkan dalam hidupnya sendiri. Celakanya, banyak orang tua yang secara sadar dan nggak sadar ikut "menitipkan", bahkan memaksakan mimpi mereka ke anak-anak. 

Saya sendiri pernah merasakannya. Saat sedang menulis tentang seorang anak pemrogram termuda di WWDC, Yuma Soerianto, terlintas pikiran 
"Wah, pasti keren nih kalau Asaboy bisa jadi pemrogram juga"
Saya pun membayangkan, betapa bangganya saya kalau Asaboy menjadi pemrogram muda, lalu mendapat beasiswa dari Apple Inc seperti Yuma. Maka saya pun berselancar mencari informasi bagaimana mendidik anak untuk menjadi pemrogram sejak dini. 

Nggak berapa lama, saya sadar... 
Lalu menghentikan apa yang sedang saya kerjakan. 

"Wait, what am I doing? Am I trying to help Asaboy pursue his dream, or my dream?"

Saya belum nanya ke Asaboy, apakah ia mau menjadi seorang pemrogram. Toh kalau ditanya, dia belum paham juga apa itu pemrogram. Lah, terus kenapa jadi saya yang sibuk merancang ini dan itu supaya ia jadi pemrogram?

Then I hold myself back, take a deep breath and relaxing. 

Sambil berusaha memilah dan memilih pikiran tentang bagaimana Asaboy akan meraih impian dalam hidupnya. Apakah nanti ia akan masih ingin menjadi seorang pemadam kebakaran, atau polisi?
Atau mungkin ia akan menjadi seorang chef? Who knows?

Yang pasti saat ini, itu menjadi tugas saya dan papoynya untuk membantunya meraih impiannya, bukan impian kami

Jadi mulai hari ini, kami akan observasi lebih dalam tentang aktifitas apa yang Asaboy sukai, hal-hal apa yang membuat matanya berbinar-binar ketika melakukannya dan bagaimana memberikan dukungan terbaik untuk mencapai impiannya. 

Wish us luck!

#Day1
#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga






Photo by Wendy Aros-Routman on Unsplash

Comments

Popular posts from this blog

Berenang di Kolam Renang Matoa

Periksa Skoliosis Dengan BPJS (1)

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) 2015