Minat, Bakat, atau Gagal?

gritty kid

Minat dan bakat. Seberapa pentingnya sih,  mengetahui minat dan bakat anak? Dari beberapa sumber yang kami baca, sebagian besar mengatakan bahwa hal tersebut penting untuk diketahui sejak dini, supaya orang tua dapat mengarahkan dan membimbing anak di "jalur" yang sesuai dengan gift anak sejak lahir.

Sebagai orang tua, siapa sih yang nggak mau anaknya bisa berhasil di masa depan nanti? Jadi demi mencapai keberhasilan anak tersebut, kita lakukan segala cara. Mulai dari tes kecerdasan anak melalui sidik jari, psikotes, dan beragam tes lainnya guna mengetahui apa minat dan bakat anak tersebut.

Ada satu hal yang menarik mengenai minat dan bakat ini.

Apa betul mengetahui minat dan bakat sejak dini dapat menjamin kesuksesan anak? Seberapa signifikankah hal tersebut untuk diketahui sejak dini?

Sebetulnya, ini menjadi pertanyaan yang sudah lama saya simpan. Namun, kemudian terlupakan dan hilang bersama dengan aktifitas sehari-hari. Sampai di hari Senin lalu, saat saya sedang mengobrol dengan salah seorang mentor saya di kelas Coding Mum dulu, mas Yudi Utomo. Beliau mencetuskan sebuah kata, grit.

Walaupun kata tersebut hanya disebutkan beberapa kali, it was not even the main topic of our conversation that day, tapi nggak tahu kenapa, saya penasaran dan akhirnya googling "Grit, Ted Talks", karena menurut mas Yud, ia menonton salah satu episode Ted Talks tentang grit itu.

Lalu, episode Ted Talks di bawah ini yang saya dapatkan. Adalah seorang perempuan bernama Angela Lee Duckworth, yang merupakan seorang psikolog di Pennsylvania, Amerika Serikat. Beliau sempat menjadi guru matematika di sebuah sekolah umum di kota New York (she said it was a very demanding job, and I couldn't agree more. So, I feel so much related to this)




Duckworth meneliti tentang apa yang menjadi rahasia kesuksesan orang-orang sukses (sounds familiar?) Kita kan selalu tertarik dengan cerita sukses, bagaimana seseorang bisa meraih kesuksesan? Lalu setelah melihat perjalanan kesuksesan orang tersebut, ada sebuah suara di kepala kita yang mengatakan, 
"Ah, dia mah emang berbakat. Saya kan, nggak"
There you said it. 
Racun pikiran inilah yang akhirnya ditangkap oleh otak, disimpan, lalu dimamah biak hingga nanti dikeluarkan ketika "gejala-gejala" kesuksesan ini mulai nampak di kehidupan kita. Then what do we getNothing

Kita akhirnya nggak mendapat apa-apa lalu tetap menjadi penonton atas kesuksesan orang lain. Well, balik lagi ke penelitian Duckworth. Ia mengatakan bahwa dari semua orang yang ia teliti, mulai dari juara spelling bee, kalangan militer hingga atlet berprestasi, semua melakukan hal yang sama: usaha

YA IYYALAH KALO NGGAK USAHA MANA BISA?


Tunggu, bukan cuma itu maksudnya. Usaha disini maksudnya adalah bukan sekadar usaha sekali, jatuh, kemudian udah. yu dadah babai. No. Usaha di sini adalah usaha yang dilakukan secara terus menerus, tanpa henti, tanpa lelah, tanpa menyerah. TEKUN.

well, satu dua kali bisalah lelah, tapi they never stop. Satu hal lagi, mereka nggak berhenti berusaha ketika mentok. Mereka terus jatuh, bangkit lagi, jatuh, bangkit lagi, jatuh, bangkit lagi. Eh, ini saya dah kedengeran kayak motivator nggak sih?

Intinya sih, terus lakukan aja. Mau gagal, mau berhasil, ya lillahi ta'ala aja. 

Jadi inget papin Pinot. Betapa dia dan mbak Ditut nggak henti-hentinya nyemangatin kita-kita untuk nggak takut menggambar. To break our own mental block.

Kadang ketika sibuk mengejar kesuksesan, ini yang kita lupa. Bahwa untuk sukses, kita harus gagal.

Yao bu yao

Ketika kita mengajarkan anak-anak untuk meraih kesuksesannya sendiri, kita lupa mengajarkannya untuk gagal. Bahkan kita seringkali mengutuk kegagalan itu sendiri. Kita meminta mereka untuk tidak salah. Whadda....?

Instead encouraging them to raise and do another try, we tend to blame and saying bad things to them. 

Maka mulai hari ini, mari kita syukuri kegagalan demi kegagalan yang kita terima, yang kita lakukan, yang kita alami.

Lalu bangkit, kumpulkan serpihan semangat dan harapan yang kita punya, lakukan kegagalan lagi, bangkit lagi, gagal lagi, bangkit lagi, gagal lagi, bangkit lagi. Nggak bosan? Nggak lah. Selama nyawa masih dikandung badan. Harapan kita cuma semoga Allah mencatat segala daya dan upaya kita, semoga apa yang kita lakukan detik ini bisa menjadi manfaat. That's it.
Karena nggak ada yang kita bawa "pulang" selain catatan amal.

Lah ini postingan udah ngelantur kemana-mana. Padahal intinya cuma mau bilang, kalo anak kita salah, hayu kita gandeng tangannya dan bimbing ke arah yang benar. Bukan memakinya, bukan menyalahkannya. Karena salah bukan berarti mati. Salah artinya kita masih hidup dan punya kesempatan memperbaiki.

Everybody deserves a second chance

Tabik!

#Day11
#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga










Comments

Popular posts from this blog

Berenang di Kolam Renang Matoa

Periksa Skoliosis Dengan BPJS (1)

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) 2015