Posts

Showing posts from June, 2017

Memilih "Mazhab" Parenting Yang Sesuai

Image
Selamat Hari Keluarga Nasional 2017! ^_^ Image: www.manojlekhi.in Zaman dulu orang bilang, jadi orang tua itu nggak ada sekolahnya. Tapi sekarang, jadi orang tua itu buanyaaaak sekolahnya. Walaupun belum ada bentuk sekolah formalnya, tapi dengan kemajuan teknologi yang ada sekarang ini sepertinya sebagai mahmud alias mamah muda, kita disuguhkan dengan beragam pilihan keilmuan parenting . Ya nggak, buibu? "Harganas 2017" via www.bkkbn.go.id Setelah menikah, kami berusaha membekali diri dengan buku-buku parenting. Selain buku, banyak juga situs yang kami jadikan bahan bacaan daring. Dengan harapan, nanti ketika punya anak dan menemukan masalah, kami sudah siap. Nyatanya? Kedeerrr... hahaha.. Kenapa jadi keder? Gini deh.. analoginya sama dengan belanja bulanan di supermarket. Niat awal dari rumah mau belanja A, B dan C. Lah, sampai supermarket malah jadi belanja X, Y dan Z. Keder, kan? karena terlalu banyak pilihan. Terlalu banyak "produk menggoda&quo

Learning On Demand, A New Learning Concept?

Image
Semakin besar seorang anak, maka semakin besar pula peran orang tua untuk terlibat langsung dalam proses pendidikannya. Awal menerapkan learning on demand dalam rangka proses home schooling Asaboy, saya sempat merasa menjadi ibu yang kurang bertanggung jawab dalam proses pendidikan anak sekolah rumah.  Simply because I didn't prepare all of the learning resources. I didn't print the printables, I didn't make the lesson plan and everything needed for a "home schooler". Tapi lalu saya sadar bahwa konsep pre school homeschooling yang kami terapkan adalah learning on demand , jadi.. ya kami belajar secara spontan. Kami? Iya, kami. Saya, Asaboy dan papinya. Kami tidak sedang "memindahkan sekolah formal ke rumah". Kami sedang membangun budaya belajar mandiri, that is the true essence of learning on demand . Semakin lama belajar, justru kita semakin tahu bahwa kita nggak tahu apa-apa, ya nggak? Maka setelah beberapa bulan menerapkan konsep learning on

Setiap Orang Menjadi Guru, Setiap Rumah Menjadi Sekolah

Image
Semboyan yang dipekikkan oleh Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara pada era 1920-an. Semboyan yang dikumandangkan sebagai protes atas sekolah-sekolah elit milik kolonial Belanda yang memarjinalkan rakyat jelata. Semboyan yang masih relevan, bahkan sampai saat ini. :D semboyan Ki Hajar Dewantara (kemdikbud) Di era digital seperti sekarang ini, konsep semboyan di atas bisa diterapkan dengan lebih mudah. Bagaimana tidak? Setiap orang tua dapat menyediakan fasilitas belajar mandiri di rumah berbekal bahan ajar yang bertebaran di dunia internet dan dapat dimanfaatkan secara gratis, they are totally free! Jika membutuhkan legalitas, banyak penyedia layanan belajar daring yang menyertakan paket berbayar dengan sertifikasi. Menurut saya, sertifikasi daring seperti ini cukup valid karena peserta didik diuji secara mandiri, tanpa ada beban atau tuntutan siswa lulus 100% ( did I ring someone's bell? :D ) Untuk keluarga kami sendiri, kami menerapkan sistem belajar on demand

What Did I Do Wrong?

Image
Pertanyaan yang selalu mengusik ketika Asaboy berperilaku di luar kendali saya. Sebagai ibu, kadang saya merasa salah dalam mengasuh si kecil. Misalnya saja ketika ia mengadaptasi gaya bicara yang ia dapatkan dari lingkungan sekitarnya. Atau mungkin ketika ia tantrum dan bertindak semaunya. Karena saya yang mendidik langsung Asaboy di rumah, maka pertanyaan itu selalu muncul di kepala saya . Seperti hari ini, saya mengajak Asaboy untuk mandi pagi (entah kenapa sampai sekarang, "mandi" itu menjadi kegiatan yang cukup menantang untuk dilakukan). Lalu seperti biasa, ia pun menolak. Saya coba untuk membujuknya, berkali-kali, namun hasilnya tetap sama. Sampai akhirnya ia bete dan membentak saya. "Mas bilang mas nggak mau mandi!" www.pixabay.com Sontak, saya diam. Saat itu saya duduk di hadapannya. Posisi badan saya sudah sejajar dengan tinggi si kecil. He could see me getting angry that time . A second, I felt that I was going to blow. But then I remembered t

Balada Petasan

Image
Takbiran dan petasan merupakan dua hal yang jauh berbeda namun seringkali terdengar bersahutan. Di tengah gema takbir yang dikumandangkan, dar der dor petasan pun sukses bikin kesal emak-emak yang punya bayi dan balita. Petasan sumber: www.tempo.co Saya pribadi nggak suka dengan petasan. Kalau kembang api, lain soal. I love the sparks of the fireworks. Ketika #Asaboy masih bayi, saya sangat kesal dengan suara petasan yang nggak tahu aturan. Ya iyyalah ya, petasan memang nggak kenal aturan. Pembakar petasannya yang harusnya tahu aturan.  Orang tua yang punya bayi dan balita pasti kesalnya nggak ketulungan kalau anaknya lagi kriyep kriyep  terus terbangun gegara bunyi letusan petasan.  Selain mengganggu ketenangan, petasan pun sudah banyak memakan korban. Tapi entah kenapa petasan selalu jadi komoditi yang cukup laris di musim lebaran.  Ilustrasi korban petasan sumber: www.antaranews.com Sebagai orang tua yang nggak suka dengan petasan, kami ingin Asaboy bisa mem

Akhir Ramadan, Kekalahan atau Kemenangan?

Image
29 Ramadan 1438 Hijriah Sebulan sudah kita berpuasa, berjuang melawan hawa nafsu dan mengendalikan diri. Akankah kita kembali fitrah? www.assabile.com Jawabannya ada di dalam hati kita masing-masing. Hanya kita yang tahu apakah puasa kita kemarin benar-benar ikhlas karenya-Nya atau karena "malu" kalau nggak puasa? Hanya kita juga yang tahu apakah ibadah kita kemarin dikerjakan dengan baik atau bolong-bolong. Saya sendiri merasa bahwa selama ramadan ini, masih banyak PR yang perlu diperbaiki. Ibadah masih seenaknya dan puasa juga suka lupa kembali ke niat awal. Sebagai manusia biasa, saya hanya bisa berharap yang terbaik kepada Allah semoga "madrasah" selama bulan kemarin betul-betul memberkan bekas di dalam diri.  Menjadi motor untuk senantiasa memperbaiki diri di hari-hari selanjutnya. Karena kalau kata pak Ustadz di tarawih terakhir kemarin, yang menjadi bukti kalau ramadan bermanfaat buat kita adalah bukan perilaku kita pada saat bulan ramadan, teta

Tarawih Terakhir

Image
Hari ini adalah malam ke-29 di bulan Ramadan. Tanpa terasa, ramadan sudah beranjak pergi meninggalkan kita. Sepanjang tarawih malam ini, rasanya saya merasa demikian merugi. Rasanya masih banyak banget amalan yang tidak dikerjakan, masih banyak kelalaian yang dibiarkan terjadi begitu saja, lalu tiba-tiba, ramadan telah usai. image: www.pexels.com via pixabay Malam ini kami sudah sampai di rumah eyang kakung. Ketika melihat kami akan berangkat tarawih, Asaboy segera bersiap ingin ikut juga. Seperti biasa, ia minta ikut salat. Setelah wudhu dan ganti baju koko, ia pun ikut kami tarawih. Sampai di masjid, ia memilih untuk berada di shaf perempuan bersama saya. Padahal biasanya ia ikut di shaf lelaki. Mungkin karena sudah mulai mengantuk, maka ia lebih memilih bersama saya dan eyang uti-nya. Setelah shalat isya, Asaboy mulai gelisah dan bertanya, "mi, salatnya masih lama?". Saya bilang, "iya, habis ini masih ada salat tarawih dan witir". A: "Mas mau p

Setelah 17 Hari...

Image
ko.mu.ni.ka.si (n.) pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami; hubungan; kontak Communication www.pexels.com Setelah melalui GameLevel1 di kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional  selama 17 hari, rasanya saya masih jadi ibu yang biasa-biasa saja namun dengan "kesadaran baru". Lah, emang sebelumnya nggak sadar? Iya, nggak sadar kalau anak meniru emaknya.  Nggak sadar kalau membentak itu nggak efektif.  Nggak sadar kalau mengancam itu akan jadi bumerang. Nggak sadar kalau meng iming-imingi itu akan membuat anak jadi pamrih.  Setelah 17 hari dan hari-hari setelahnya mencoba mempraktikkan dan menginternalisasi  kebiasaan baru ini ke dalam pola komunikasi saya pribadi ke anak dan suami, saya makin sadar kalau saya kok ndableg bener. Oke, ini aib. Tapi saya harus mengakui bahwa memang saya nggak sabaran kalau menghadapi anak sendiri. Ini aneh. Kalau menghadapi "anak orang lain

Bersepeda, Cara Menikmati Waktu Berkualitas dengan Si Kecil

Image
Sebagai emak yang sehari-hari sudah berkutat dengan segala macam urusan domestik kok mau olah raga rasanya mager bener ya, buibu? Kalau ada spare time rasanya mending kruntelan bobo-bobo cantik sama si bocil. Waktu masih batita sih anak bayik masih gampang diajak bobonya. Sekarang? boro-boro! Si fabulous four ini matanya berbinar-binar kalau ngeliat pintu pagar terbuka. Begitu ada celah sedikit, langsung nyamber stang sepeda dan, whooosh! keluar sambil mengayuh pedal sepedanya kencang. Tinggal emaknya bengong doang ngeliatin. ngebut naik sepeda Alhamdulillah di rumah ada sepeda omnya, jadi sekarang emak ngangon bocah pake sepeda. Sejak Asaboy lancar naik sepeda, emak juga jadi hobi naik sepeda. Ya mau gimana lagi, kan? Manalah tenang hati mamak ini di rumah sementara anaknya mabur main sepeda di luar? Positifnya sih, emak jadi olahraga juga. Cuma kadang si kecil nggak tahu waktu. Mau hujan, panas, mendung, cerah, tetaaaap aja maunya main sepeda. Jadi sekarang kami mulai men

Mami Nggak Boleh Kerja!

Image
Emak menggalau. Saat ini ada kebutuhan keluarga yang cukup besar dan rasanya saya akan dapat lebih meringankan beban suami apabila saya menambah jam kerja di luar rumah. Dalam mengambil keputusan di dalam keluarga, kami selalu berusaha melibatkan si kecil. Apalagi, ini keputusan besar. image: working mom, www.pexels.com Selama ini saya yang beraktifitas di ranah publik sebagai seorang pengajar lepas dengan porsi 90 persen di rumah, 10 persen di luar rumah masih bisa diterima oleh Asaboy. Beberapa hari ini saya mencoba untuk "melobi" si kecil agar saya bisa kembali bekerja di luar rumah. Hasilnya? selalu sama. "Mami nggak boleh kerja!" Saya tanya, "kenapa mami nggak boleh kerja? "Kalau mami kerja, nanti mas nangis. Kalau mami kerja, nanti mas sama siapa?" jawabnya. Saya bilang, "nanti mas sama uwak (kakak ipar saya)" Lalu ia misuh-misuh, keukeuh menahan saya agar saya bisa tetap menemaninya di rumah. "oke, mami boleh

Lo-Gue, Aku-Kamu.

Image
image: www.pexels.com "Ah, lo mah gitu"  Tetiba hari ini Asaboy ngomong begitu sama kakak sepupunya. Saya langsung nengok dan refleks nanya, "mas, barusan ngomong apa?" Lalu dia diam.  Dia tahu bahwa saya nggak suka mendengar apa yang baru saja ia ucapkan.  Duh, buibu.. berat bener ya jadi ibu.  Apa saya aja ini yang lebay? Jujur, saya nggak suka kalau ada anak kecil sudah menggunakan bahasa "lo-gue" saat mereka masih balita. Rasanya kok jengah gitu dengernya. Bukan masalah elit atau gimana sih, cuma menurut saya ini masalah etika. Jangan sampai nanti ia berbahasa "lo-gue" saat berinteraksi dengan orang yang lebih dewasa. Jatohnya nggak sopan, kan? Sebenernya Asaboy tahu bahwa itu nggak sopan. Tapi kalau sudah masuk ke dalam lingkungan dengan gaya bahasa seperti itu, ya, namanya juga anak-anak ya... cepat sekali menyerap apapun. Ya termasuk semua hal yang seperti itu, jadi  langsung ia praktikkan begitu saja.  Saya ja

Komunikasi Produktif Dengan Anak (Hari 17)

Image
Di usianya yang hampir menginjak usia 5 tahun plus postur tubuh yang cukup besar di antara teman-teman sebayanya, membuat kami selalu dihujani pertanyaan "anaknya sekolah dimana, pak/bu?" Lalu kami akan menjawab, "belum sekolah" Kemudian si penanya (seperti biasa, walaupun baru kenal, kadang orang kita terlalu kepo  perhatian dengan hidup kita yak?) akan kembali bertanya, kenapa belum sekolah? emang umurnya berapa? image: www.pexels.com by pixabay Seperti di perjalanan kereta tadi pagi saat kami berangkat ke rumah eyang. Dalam kondisi gerbong kereta yang sangat padat, ada seorang ibu yang berbaik hati untuk menggeser posisi duduknya sedikit agar Asaboy bisa nyempil duduk di sebelahnya. Si ibu ini sangat perhatian lalu menghujani saya dengan pertanyaan lanjutan hingga akhirnya memberikan nasihat tentang pentingnya sekolah di usia dini. Menurut beliau, betapa meruginya kami jika anak kami tidak disekolahkan sejak dini. Saya hanya mendengarkan sambil terseny

Komunikasi Produktif Dengan Anak (Hari 16)

Image
"Mami, kenapa pesawat terbang di atas?" "Mami, kenapa pemadam (kebakaran) warnanya merah?" "Mami, kenapa kereta jalannya cepat?" Daaaaan.. puluhan pertanyaan yang sama, yang ditanyakan berulang, ulang dan berulang lagi. Waktu nanyanya pun acak aja, seenaknya si kecil. Biasanya pertanyaan itu akan muncul begitu saja. When he wants to pop it out, he will just threw out those questions through his tiny lips.  image: www.pexels.com by unsplash Kalau pertanyaannya logis sih masih bisa dijawab dengan pernyataan yang logis pula. Masalahnya, terkadang pertanyaannya abstrak dan saya sendiri jadi bingung gimana jawabnya. Kadang juga bikin emaknya malu untuk jawabnya karena ia seringkali bertanya tentang orang lain yang ia temui di sepanjang perjalanan kami.  Misalnya seperti,  "Mami, kenapa om itu jualan tahu?" "Mami, kenapa orang itu ngajak mami ngobrol? mami kenal emangnya?" Kan biasa ya buibu, kalau kita sedang di perj

Komunikasi Produktif Dengan Anak (Hari 15)

Image
What makes a woman as a mother? Not only when she's having the baby in her womb, nor when she gave birth to her children. Semua adalah hal yang kasat mata. realita. Bisa dilihat dan dirasakan oleh panca indera. Sebagai orang dewasa, dengan beragam permasalahan dan tanggung jawab yang kita miliki, kita sudah terbiasa dengan fokus dengan masalah, tanpa sempat menikmati hal-hal yang terlihat kecil namun merupakan harta yang tak ternilai harganya. Saya jadi ingat beberapa tahun lalu saat belum menikah. Suatu siang ketika pulang mengajar, saya merasa sangat lelah hingga ketika baru sampai di rumah, saya langsung tepar di atas kasur sambil menikmati angin sepoi-sepoi dari kipas angin di kamar. Saat itu, sempat terlintas di pikiran saya, bagaimana kalau saya sudah menikah dan punya anak nanti? mungkin sudah nggak bisa menikmati leyeh-leyeh di kasur sepulang kerja. Pastilah sudah akan direpotkan dengan urusan domestik dalam rangka mengurusi anak dan suami. Lalu ternyata, meman

Komunikasi Produktif Dengan Anak (Hari 14)

Image
Seharian ini saya disibukkan dengan kegiatan di depan laptop. Alhamdulillah, Allah memberikan amanah baru dengan sebuah beasiswa kursus online. Sayangnya, saya masih berusaha adaptasi sehingga kegiatan baru tersebut menyita waktu saya dan Asaboy. image: www.theparentingplace.com Kemarin malam, si kecil tidur cukup larut. Pagi tadi ia bangun sekitar pukul 9 pagi. Kami nggak tega mau membangunkan karena tahu bahwa ia begadang tadi malam. Akhirnya, ia bangun dengan kondisi emosi labil, mungkin masih lelah. Emosinya semakin meningkat ketika tahu bahwa papanya sudah berangkat kerja saat ia masih terlelap. Saya pun berusaha membujuknya dan mengatakan bahwa tadi papanya sudah berangkat, sudah pamit ke mas waktu ia masih tidur. Tapi nampaknya ia tetap kesal dan marah karena merasa "ditinggal". Setelah agak enakan, Asaboy minta main ke taman dekat rumah. Saya bilang, ia boleh main hanya kalau sudah mandi. Namun, ia malah mengamuk dan bilang kalau ia tidak mau mandi sebelum ke

Komunikasi Produktif Dengan Anak (Hari 13)

Image
يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَ الصَّلَوةِ إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّبِرِيْنَ Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu[99], Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Q.S. al-Baqarah 2: 153) Terkadang, cuma ini pegangannya.  Sabar, sabar, sabar... Hahahaha... Berinteraksi dengan seorang balita yang akal dan pikirannya masih berkembang memang membutuhkan stok sabar yang tidak berkesudahan.  Jadi ibu katanya nggak boleh mengeluh, ya? Tapi kan ibu juga manusia.. bisa capek, bisa lelah. Hayati aja bisa lelah :D image: www.keepcalm-o-matic.co.uk Jadi kalau sedang spanneng, biasanya saya cuma ingat ayat ini. Kalau belum tenang juga, ya banyak-banyak istighfar aja biar kalem. Kalau sudah memuncak banget, mending menjauh dulu dari si kecil, duduk sendiri atau ke kamar mandi, ambil wudhu .  Namanya juga usia fabulous four, makin hari, makin "ajaib" kelakuannya. Kemampu

Komunikasi Produktif Dengan Anak (Hari 12)

Image
“Anak adalah kehidupan, mereka sekedar lahir melaluimu tetapi bukan berasal darimu. Walaupun bersamamu tetapi bukan milikmu, curahkan kasih sayang tetapi bukan memaksakan pikiranmu karena mereka dikaruniai pikirannya sendiri. Berikan rumah untuk raganya, tetapi tidak jiwanya, karena jiwanya milik masa mendatang, yang tak bisa kau datangi bahkan dalam mimpi sekalipun. Bisa saja mereka mirip dirimu, tetapi jangan pernah menuntut mereka jadi seperti sepertimu. Sebab kehidupan itu menuju ke depan, dan tidak tenggelam di masa lampau. Kaulah busur, dan anak-anakmulah anak panah yang melucur. Sang Pemanah mahatahu sasaran bidikan keabadian. Dia menentangmu dengan kekuasaanNya, Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat. Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah, Sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat Sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap”. (Puisi Kahlil Gibran dikutip dari:  Wikimu ) Sebagai orang tua, saya

Komunikasi Produktif Dengan Anak (Hari 11)

Image
Ala bisa karena biasa Sebuah pepatah lawas yang saya rasakan manfaatnya belakangan ini. Berinteraksi setiap hari dengan anak usia balita tidaklah selalu berisi bunga dan pelangi. Terkadang, sebagai orang tua kita merasa "superior" hingga merasa bahwa kita selalu benar dan anak tidak tahu apa-apa. Padahal, jika kita mau berpindah sisi sedikit saja ke sudut pandang anak-anak, semuanya terlihat sederhana. Kadang anak ngambek hanya karena hal sepele seperti hanya mau makan dengan telur yang digoreng urak arik, bukan diceplok biasa. Kalau emaknya baper , maka pasti langsung naik darah dan marah-marah sambil bilang "mau diceplok atau diaduk-aduk kan sama aja, dek.. sama-sama telur goreng!" Masalahnya, si anak akan melihat dan mengingat kalau, ibunya telah meremehkan perasaannya dengan tidak mengindahkan permintaannya yang cukup spesifik. Inti permasalahnnya hanya, miscommunication . Jadi setelah 11 hari mempraktikkan ilmu komunikasi produktif di kelas Bunda Saya

Komunikasi Produktif Dengan Anak (Hari 10)

Image
Waw...hari ke-10! Well, this is amazing! Selama 10 hari berturut-turut saya mempraktikkan ilmu komunikasi produktif dari kelas Bunda Sayang IIP ini, banyak sekali manfaat yang kami rasakan. Yang pasti sih less drama . Saya lebih jarang berantem dengan si kecil, karena kami sudah membuat kesepakatan-kesepakatan sebelum mulai berkegiatan. Jadi, kami sama-sama tahu segala konsekuensinya. asyik bermain tablet Seperti pagi ini, Asaboy sedang menonton video kereta di tablet. Biasanya kalau ada saya, ia akan berusaha menyembunyikan tabletnya dengan segera. Karena ia tahu saya akan berusaha melarang atau cuma ngebawelin dia dengan peringatan seperti "jangan lama-lama nontonnya, nanti matanya sakit", dan sejenisnya. Peringatan itu biasanya berujung dengan perlawanan dari si kecil, mulai dari marah-marah secara verbal atau ngambek maksimal hingga nangis lebay. Lalu saya pun merasa seperti menjadi ibu yang jahat, nggak bisa liat anak senang.  Sebelumnya, kami sudah m

Komunikasi Produktif Dengan Anak (Hari 9)

Image
Lelaki dan perempuan memang diciptakan berbeda. Maka, cara berpikir dua jenis gender ini pun berbeda. Tak jarang, teknik komunikasi yang salah menghasilkan keributan. Lalu bagaimana cara berkomunikasi dengan gender yang berbeda ini? Inilah yang sedang saya pelajari di kelas Bunda Sayang IIP. Sebuah kelas online agar kami sekeluarga dapat menciptakan iklim komunikasi yang baik dan saling menghargai satu sama lain. Termasuk dengan si anak piyik ini. Sejak saya memutuskan untuk menghabiskan waktu lebih banyak di rumah, saya merasa bahwa saya belum bisa berkomunikasi dengan baik dengan si bocah. Sudahlah berbeda gender, berkomunikasi produktif dengan anak memerlukan kondisi emosi yang stabil dan konsisten. Tantangan, sungguh sebuah tantangan. Seperti hari ini saat kami berangkat ke sekolah tempat saya mengajar untuk rapat dan acara berbuka puasa bersama. Sepanjang perjalanan, Asaboy terus bertanya tentang beragam hal. Mulai dari kenapa harus belok kiri? Kenapa harus berhenti s