Posts

Balada Petasan

Image
Takbiran dan petasan merupakan dua hal yang jauh berbeda namun seringkali terdengar bersahutan. Di tengah gema takbir yang dikumandangkan, dar der dor petasan pun sukses bikin kesal emak-emak yang punya bayi dan balita.

Saya pribadi nggak suka dengan petasan. Kalau kembang api, lain soal. I love the sparks of the fireworks. Ketika #Asaboy masih bayi, saya sangat kesal dengan suara petasan yang nggak tahu aturan. Ya iyyalah ya, petasan memang nggak kenal aturan. Pembakar petasannya yang harusnya tahu aturan.  Orang tua yang punya bayi dan balita pasti kesalnya nggak ketulungan kalau anaknya lagi kriyep kriyep terus terbangun gegara bunyi letusan petasan.  Selain mengganggu ketenangan, petasan pun sudah banyak memakan korban. Tapi entah kenapa petasan selalu jadi komoditi yang cukup laris di musim lebaran. 

Sebagai orang tua yang nggak suka dengan petasan, kami ingin Asaboy bisa memahami bahwa petasan bukanlah mainan dan kalau nanti ia besar pun, kami nggak ingin ia menganggap bahwa pet…

Akhir Ramadan, Kekalahan atau Kemenangan?

Image
29 Ramadan 1438 Hijriah
Sebulan sudah kita berpuasa, berjuang melawan hawa nafsu dan mengendalikan diri. Akankah kita kembali fitrah?


Jawabannya ada di dalam hati kita masing-masing. Hanya kita yang tahu apakah puasa kita kemarin benar-benar ikhlas karenya-Nya atau karena "malu" kalau nggak puasa?
Hanya kita juga yang tahu apakah ibadah kita kemarin dikerjakan dengan baik atau bolong-bolong.

Saya sendiri merasa bahwa selama ramadan ini, masih banyak PR yang perlu diperbaiki. Ibadah masih seenaknya dan puasa juga suka lupa kembali ke niat awal. Sebagai manusia biasa, saya hanya bisa berharap yang terbaik kepada Allah semoga "madrasah" selama bulan kemarin betul-betul memberkan bekas di dalam diri.  Menjadi motor untuk senantiasa memperbaiki diri di hari-hari selanjutnya.

Karena kalau kata pak Ustadz di tarawih terakhir kemarin, yang menjadi bukti kalau ramadan bermanfaat buat kita adalah bukan perilaku kita pada saat bulan ramadan, tetapi nanti, sepanjang 11 bulan k…

Tarawih Terakhir

Image
Hari ini adalah malam ke-29 di bulan Ramadan. Tanpa terasa, ramadan sudah beranjak pergi meninggalkan kita.
Sepanjang tarawih malam ini, rasanya saya merasa demikian merugi. Rasanya masih banyak banget amalan yang tidak dikerjakan, masih banyak kelalaian yang dibiarkan terjadi begitu saja, lalu tiba-tiba, ramadan telah usai.



Malam ini kami sudah sampai di rumah eyang kakung. Ketika melihat kami akan berangkat tarawih, Asaboy segera bersiap ingin ikut juga. Seperti biasa, ia minta ikut salat. Setelah wudhu dan ganti baju koko, ia pun ikut kami tarawih.

Sampai di masjid, ia memilih untuk berada di shaf perempuan bersama saya. Padahal biasanya ia ikut di shaf lelaki. Mungkin karena sudah mulai mengantuk, maka ia lebih memilih bersama saya dan eyang uti-nya.

Setelah shalat isya, Asaboy mulai gelisah dan bertanya, "mi, salatnya masih lama?". Saya bilang, "iya, habis ini masih ada salat tarawih dan witir".
A: "Mas mau pulang, mas nggak mau tarawih"
S: "lah…

Setelah 17 Hari...

Image
ko.mu.ni.ka.si (n.) pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami; hubungan; kontak


Setelah melalui GameLevel1 di kelas Bunda SayangInstitut Ibu Profesional selama 17 hari, rasanya saya masih jadi ibu yang biasa-biasa saja namun dengan "kesadaran baru". Lah, emang sebelumnya nggak sadar? Iya, nggak sadar kalau anak meniru emaknya.  Nggak sadar kalau membentak itu nggak efektif.  Nggak sadar kalau mengancam itu akan jadi bumerang. Nggak sadar kalau mengiming-imingi itu akan membuat anak jadi pamrih. 
Setelah 17 hari dan hari-hari setelahnya mencoba mempraktikkan dan menginternalisasi kebiasaan baru ini ke dalam pola komunikasi saya pribadi ke anak dan suami, saya makin sadar kalau saya kok ndableg bener. Oke, ini aib. Tapi saya harus mengakui bahwa memang saya nggak sabaran kalau menghadapi anak sendiri. Ini aneh. Kalau menghadapi "anak orang lain" bisa sabar, tapi kenapa ngadepin anak sendiri ra…

Bersepeda, Cara Menikmati Waktu Berkualitas dengan Si Kecil

Image
Sebagai emak yang sehari-hari sudah berkutat dengan segala macam urusan domestik kok mau olah raga rasanya mager bener ya, buibu?
Kalau ada spare time rasanya mending kruntelan bobo-bobo cantik sama si bocil. Waktu masih batita sih anak bayik masih gampang diajak bobonya. Sekarang? boro-boro!

Si fabulous four ini matanya berbinar-binar kalau ngeliat pintu pagar terbuka. Begitu ada celah sedikit, langsung nyamber stang sepeda dan, whooosh! keluar sambil mengayuh pedal sepedanya kencang. Tinggal emaknya bengong doang ngeliatin.


Alhamdulillah di rumah ada sepeda omnya, jadi sekarang emak ngangon bocah pake sepeda. Sejak Asaboy lancar naik sepeda, emak juga jadi hobi naik sepeda. Ya mau gimana lagi, kan? Manalah tenang hati mamak ini di rumah sementara anaknya mabur main sepeda di luar?

Positifnya sih, emak jadi olahraga juga. Cuma kadang si kecil nggak tahu waktu. Mau hujan, panas, mendung, cerah, tetaaaap aja maunya main sepeda. Jadi sekarang kami mulai menetapkan rules untuk bermain se…

Mami Nggak Boleh Kerja!

Image
Emak menggalau. Saat ini ada kebutuhan keluarga yang cukup besar dan rasanya saya akan dapat lebih meringankan beban suami apabila saya menambah jam kerja di luar rumah.
Dalam mengambil keputusan di dalam keluarga, kami selalu berusaha melibatkan si kecil. Apalagi, ini keputusan besar.

Selama ini saya yang beraktifitas di ranah publik sebagai seorang pengajar lepas dengan porsi 90 persen di rumah, 10 persen di luar rumah masih bisa diterima oleh Asaboy.
Beberapa hari ini saya mencoba untuk "melobi" si kecil agar saya bisa kembali bekerja di luar rumah. Hasilnya? selalu sama. "Mami nggak boleh kerja!"

Saya tanya, "kenapa mami nggak boleh kerja?
"Kalau mami kerja, nanti mas nangis. Kalau mami kerja, nanti mas sama siapa?" jawabnya.
Saya bilang, "nanti mas sama uwak (kakak ipar saya)"
Lalu ia misuh-misuh, keukeuh menahan saya agar saya bisa tetap menemaninya di rumah.
"oke, mami boleh kerja."
"bener?" tanya saya, nggak per…

Lo-Gue, Aku-Kamu.

Image
"Ah, lo mah gitu"  Tetiba hari ini Asaboy ngomong begitu sama kakak sepupunya. Saya langsung nengok dan refleks nanya, "mas, barusan ngomong apa?" Lalu dia diam.  Dia tahu bahwa saya nggak suka mendengar apa yang baru saja ia ucapkan. 
Duh, buibu.. berat bener ya jadi ibu. 
Apa saya aja ini yang lebay?
Jujur, saya nggak suka kalau ada anak kecil sudah menggunakan bahasa "lo-gue" saat mereka masih balita. Rasanya kok jengah gitu dengernya. Bukan masalah elit atau gimana sih, cuma menurut saya ini masalah etika. Jangan sampai nanti ia berbahasa "lo-gue" saat berinteraksi dengan orang yang lebih dewasa. Jatohnya nggak sopan, kan?
Sebenernya Asaboy tahu bahwa itu nggak sopan. Tapi kalau sudah masuk ke dalam lingkungan dengan gaya bahasa seperti itu, ya, namanya juga anak-anak ya... cepat sekali menyerap apapun. Ya termasuk semua hal yang seperti itu, jadi  langsung ia praktikkan begitu saja. 
Saya jadi ingat analogi "bungkus wafer" yang d…