Posts

Bersepeda, Cara Menikmati Waktu Berkualitas dengan Si Kecil

Image
Sebagai emak yang sehari-hari sudah berkutat dengan segala macam urusan domestik kok mau olah raga rasanya mager bener ya, buibu?
Kalau ada spare time rasanya mending kruntelan bobo-bobo cantik sama si bocil. Waktu masih batita sih anak bayik masih gampang diajak bobonya. Sekarang? boro-boro!

Si fabulous four ini matanya berbinar-binar kalau ngeliat pintu pagar terbuka. Begitu ada celah sedikit, langsung nyamber stang sepeda dan, whooosh! keluar sambil mengayuh pedal sepedanya kencang. Tinggal emaknya bengong doang ngeliatin.


Alhamdulillah di rumah ada sepeda omnya, jadi sekarang emak ngangon bocah pake sepeda. Sejak Asaboy lancar naik sepeda, emak juga jadi hobi naik sepeda. Ya mau gimana lagi, kan? Manalah tenang hati mamak ini di rumah sementara anaknya mabur main sepeda di luar?

Positifnya sih, emak jadi olahraga juga. Cuma kadang si kecil nggak tahu waktu. Mau hujan, panas, mendung, cerah, tetaaaap aja maunya main sepeda. Jadi sekarang kami mulai menetapkan rules untuk bermain se…

Mami Nggak Boleh Kerja!

Image
Emak menggalau. Saat ini ada kebutuhan keluarga yang cukup besar dan rasanya saya akan dapat lebih meringankan beban suami apabila saya menambah jam kerja di luar rumah.
Dalam mengambil keputusan di dalam keluarga, kami selalu berusaha melibatkan si kecil. Apalagi, ini keputusan besar.

Selama ini saya yang beraktifitas di ranah publik sebagai seorang pengajar lepas dengan porsi 90 persen di rumah, 10 persen di luar rumah masih bisa diterima oleh Asaboy.
Beberapa hari ini saya mencoba untuk "melobi" si kecil agar saya bisa kembali bekerja di luar rumah. Hasilnya? selalu sama. "Mami nggak boleh kerja!"

Saya tanya, "kenapa mami nggak boleh kerja?
"Kalau mami kerja, nanti mas nangis. Kalau mami kerja, nanti mas sama siapa?" jawabnya.
Saya bilang, "nanti mas sama uwak (kakak ipar saya)"
Lalu ia misuh-misuh, keukeuh menahan saya agar saya bisa tetap menemaninya di rumah.
"oke, mami boleh kerja."
"bener?" tanya saya, nggak per…

Lo-Gue, Aku-Kamu.

Image
"Ah, lo mah gitu"  Tetiba hari ini Asaboy ngomong begitu sama kakak sepupunya. Saya langsung nengok dan refleks nanya, "mas, barusan ngomong apa?" Lalu dia diam.  Dia tahu bahwa saya nggak suka mendengar apa yang baru saja ia ucapkan. 
Duh, buibu.. berat bener ya jadi ibu. 
Apa saya aja ini yang lebay?
Jujur, saya nggak suka kalau ada anak kecil sudah menggunakan bahasa "lo-gue" saat mereka masih balita. Rasanya kok jengah gitu dengernya. Bukan masalah elit atau gimana sih, cuma menurut saya ini masalah etika. Jangan sampai nanti ia berbahasa "lo-gue" saat berinteraksi dengan orang yang lebih dewasa. Jatohnya nggak sopan, kan?
Sebenernya Asaboy tahu bahwa itu nggak sopan. Tapi kalau sudah masuk ke dalam lingkungan dengan gaya bahasa seperti itu, ya, namanya juga anak-anak ya... cepat sekali menyerap apapun. Ya termasuk semua hal yang seperti itu, jadi  langsung ia praktikkan begitu saja. 
Saya jadi ingat analogi "bungkus wafer" yang d…

Komunikasi Produktif Dengan Anak (Hari 17)

Image
Di usianya yang hampir menginjak usia 5 tahun plus postur tubuh yang cukup besar di antara teman-teman sebayanya, membuat kami selalu dihujani pertanyaan "anaknya sekolah dimana, pak/bu?"
Lalu kami akan menjawab, "belum sekolah"
Kemudian si penanya (seperti biasa, walaupun baru kenal, kadang orang kita terlalu kepo  perhatian dengan hidup kita yak?) akan kembali bertanya, kenapa belum sekolah? emang umurnya berapa?


Seperti di perjalanan kereta tadi pagi saat kami berangkat ke rumah eyang. Dalam kondisi gerbong kereta yang sangat padat, ada seorang ibu yang berbaik hati untuk menggeser posisi duduknya sedikit agar Asaboy bisa nyempil duduk di sebelahnya. Si ibu ini sangat perhatian lalu menghujani saya dengan pertanyaan lanjutan hingga akhirnya memberikan nasihat tentang pentingnya sekolah di usia dini. Menurut beliau, betapa meruginya kami jika anak kami tidak disekolahkan sejak dini.

Saya hanya mendengarkan sambil tersenyum. Ya, secara si ibu tersebut anaknya suda…

Komunikasi Produktif Dengan Anak (Hari 16)

Image
"Mami, kenapa pesawat terbang di atas?" "Mami, kenapa pemadam (kebakaran) warnanya merah?" "Mami, kenapa kereta jalannya cepat?"
Daaaaan.. puluhan pertanyaan yang sama, yang ditanyakan berulang, ulang dan berulang lagi. Waktu nanyanya pun acak aja, seenaknya si kecil. Biasanya pertanyaan itu akan muncul begitu saja. When he wants to pop it out, he will just threw out those questions through his tiny lips. 

Kalau pertanyaannya logis sih masih bisa dijawab dengan pernyataan yang logis pula. Masalahnya, terkadang pertanyaannya abstrak dan saya sendiri jadi bingung gimana jawabnya. Kadang juga bikin emaknya malu untuk jawabnya karena ia seringkali bertanya tentang orang lain yang ia temui di sepanjang perjalanan kami. 
Misalnya seperti,  "Mami, kenapa om itu jualan tahu?" "Mami, kenapa orang itu ngajak mami ngobrol? mami kenal emangnya?" Kan biasa ya buibu, kalau kita sedang di perjalanan atau duduk menunggu di kereta, kita akan mengobrol …

Komunikasi Produktif Dengan Anak (Hari 15)

Image
What makes a woman as a mother?

Not only when she's having the baby in her womb, nor when she gave birth to her children.

Semua adalah hal yang kasat mata. realita.
Bisa dilihat dan dirasakan oleh panca indera.

Sebagai orang dewasa, dengan beragam permasalahan dan tanggung jawab yang kita miliki, kita sudah terbiasa dengan fokus dengan masalah, tanpa sempat menikmati hal-hal yang terlihat kecil namun merupakan harta yang tak ternilai harganya.

Saya jadi ingat beberapa tahun lalu saat belum menikah. Suatu siang ketika pulang mengajar, saya merasa sangat lelah hingga ketika baru sampai di rumah, saya langsung tepar di atas kasur sambil menikmati angin sepoi-sepoi dari kipas angin di kamar.

Saat itu, sempat terlintas di pikiran saya, bagaimana kalau saya sudah menikah dan punya anak nanti? mungkin sudah nggak bisa menikmati leyeh-leyeh di kasur sepulang kerja.
Pastilah sudah akan direpotkan dengan urusan domestik dalam rangka mengurusi anak dan suami.
Lalu ternyata, memang angan-angan…

Komunikasi Produktif Dengan Anak (Hari 14)

Image
Seharian ini saya disibukkan dengan kegiatan di depan laptop. Alhamdulillah, Allah memberikan amanah baru dengan sebuah beasiswa kursus online. Sayangnya, saya masih berusaha adaptasi sehingga kegiatan baru tersebut menyita waktu saya dan Asaboy.

Kemarin malam, si kecil tidur cukup larut. Pagi tadi ia bangun sekitar pukul 9 pagi. Kami nggak tega mau membangunkan karena tahu bahwa ia begadang tadi malam. Akhirnya, ia bangun dengan kondisi emosi labil, mungkin masih lelah. Emosinya semakin meningkat ketika tahu bahwa papanya sudah berangkat kerja saat ia masih terlelap. Saya pun berusaha membujuknya dan mengatakan bahwa tadi papanya sudah berangkat, sudah pamit ke mas waktu ia masih tidur. Tapi nampaknya ia tetap kesal dan marah karena merasa "ditinggal".

Setelah agak enakan, Asaboy minta main ke taman dekat rumah. Saya bilang, ia boleh main hanya kalau sudah mandi. Namun, ia malah mengamuk dan bilang kalau ia tidak mau mandi sebelum ke taman.
Saya biarkan dia sejenak untuk me…