Bermain Menggunakan Lembar Kerja

December 02, 2017

bermain dengan lembar kerja
Sejak hari pertama dari tantangan 10 hari di games level 6 ini, Asaboy sangat bersemangat ketika bermain sambil belajar. Hari ini adalah hari ke-10 kami belajar bersama, mengeksplorasi beragam materi yang bisa mengasah kemampuan berpikir logis Asaboy. So far, so good.

Dalam jangka waktu 10 hari ini, perkembangan Asaboy pun cukup siginifikan. Sekarang, setiap melihat kelompok benda yang sama, Asaboy akan mulai menghitung dari 1 sampai se-ingatnya. Kalau ia ingatnya sampai 10 ya, maka hitungannya akan berhenti di sepuluh. Lain waktu ia ingat bisa menghitung sampai dua puluh, ya, ia hitung sampai dua puluh, tergantung dari jumlah bendanya sendiri.

Pengalaman dari hari kemarin, Asaboy terlihat antusias dengan aktifitas memasangkan gambar. Maka hari ini kami coba membuat lembar kerja sendiri, bermodalkan pensil, pulpen dan kertas.

Lembar kerja yang kami buat hari ini cukup sederhana. Kami membuat dua buah kolom di selembar kertas. Benda yang terletak di sebelah kiri adalah pasangan dari benda yang tergambar di sebelah kanan. Contohnya, pensil berpasangan dengan kertas, sepatu berpasangan dengan kaki, palu berpasangan dengan paku, dan sebagainya.


menarik garis sesuai dengan gambar pasangannya
Awalnya kami ingin membuat lembar kerja yang rapi, minimal dibuat pakai komputer lalu dicetak. Tapi kami pikir mumpung Asaboy sedang bersemangat, khawatirnya ia terlalu lama menunggu. Jadi, saya menggambar langsung di kertas, lalu papoynya memberikan ide "soal" nya.
It was so nice and we really enjoyed the process
Setelah selesai dibuat, saya memberikan lembar kerjanya kepada Asaboy untuk dikerjakan. Dengan antusias, ia pun langsung menggerakkan pensil di atas kertas, menarik garis dari satu benda ke gambar benda yang lain, sesuai dengan pasangannya.

Salah satu "soal" yang ada di lembar kerja tersebut adalah gambar sapu yang (seharusnya) dipasangkan dengan pengki, gambar kain pel yang (seyogyanya) dipasangkan dengan ember. Tapi karena kemampuan menggambar saya ada di level di bawah rata-rata, Asaboy jadi tidak bisa membedakan yang mana gambar sapu, yang mana gambar kain pel. :D

Akhirnya ia pun menarik garis dari gambar kain pel ke gambar pengki, lalu menarik garis dari gambar sapu ke gambar ember.



Konyol memang, tapi kami bahagia. Karena saya bisa melihat tahapan belajar Asaboy secara langsung. Apa yang lebih berharga daripada itu?

Hari ini saya sangat bersyukur karena Allah masih memberikan kesempatan kepada kami untuk mengukir memori bersama anak kami secara langsung. Kami melihat sendiri perkembangannya dari hari ke hari. Walaupun tidak selalu indah, ada saja hal yang memancing emosi. Namun itu semua kami anggap sebagai ladang amal yang memang harus bisa kami tempuh.

10 hari ini, saya belajar bahwa mengembangkan kemampuan berpikir logis anak tidak melulu berupa pengajaran tentang angka dan perhitungan semata. Namun, bagaimana seorang anak bisa memahami konsekuensi logis dari apa yang ia lakukan. Belajar menikmati proses belajar, walaupun salah, tidak mengapa. Macam iklan sabun cuci, tak ada noda, tak belajar, ya nggak?

Bicara tentang kesalahan, ada sebuah kejadian sore tadi. Mungkin sekilas terlihat biasa saja, tapi buat saya ini penting.
Saya sedang memasak di dapur, kemudian seperti biasa, datanglah si kecil menghampiri saya.
A: "Mami lagi masak apa? mas boleh bantu, nggak?"
Me: "Lagi masak tempe. Hm, boleh. "
A: "Mas ngapain, mami?"
Me: "Cuci tangan mas, terus iris tempe, ya?"
A: "Oke mami. Tapi kalo salah gimana, mi?"
Me: "Ya nggak apa-apa, namanya juga belajar. Yang penting mas harus hati-hati supaya tangannya ga kena pisau, ya?"
A: "Bener, nggak apa-apa? Tapi mami ajarin ya motongnya gimana"
Me: "okay"

Lalu mulailah si kecil mencuci tangannya di wastafel, mengambil pisau dan melanjutkan mengiris tempe yang sudah saya potong sebagian.

Btw, ini emak macam apa yang nyuruh anak umur belum genap 5 tahun untuk ngiris tempe?

Kejadian sederhana ini menurut saya sangat penting untuk membangun kepercayaan diri Asaboy. Menanamkan citra diri positif bahwa ia bermanfaat untuk orang lain, dan

It's okay for doing things in a wrong way
Nggak apa-apa berbuat salah, tuh. Nggak apa-apa motong tempenya berantakan. Yang penting adalah bagaimana ia bisa belajar dari kesalahan tersebut. Itu aja.

Duh, maaf ini tulisan jadi random begini nggak nyambung. Tapi nggak apa-apa lah ya. Semoga ada ibroh dari catatan hari ini.

Thank you for reading this. 

Untuk lelaki kecilku, kalau nanti mas bisa baca ini, I just want you to know that mistakes are your stairs to success. Jadi nggak usah takut, nak. Yang penting mas berani mencoba. Usaha. that's it.
You know I love you to the moon and back, don't ya?





#Day10
#Tantangan10hari
#Level6
#KuliahBunsayIIP
#ILoveMath
#MathAroundUs

You Might Also Like

0 comments