Perempuan dan 20 Ribu Kata

September 26, 2017



Sebuah penelitian yang dilakukan di tahun 2013 oleh para peneliti di Amerika Serikat berhasil menemukan fakta ilmiah atas "kecerewetan perempuan". Penelitian tersebut merupakan studi lebih lanjut atas penelitian yang dilakukan pada tahun 2003, yang membuktikan bahwa perempuan berbicara 3 kali lebih banyak dari pria. Ternyata, isu itu bukan mitos, melainkan fakta. Karena kemampuan itu tertanam di gen kami, para perempuan.




Maka bagi para jomblo bahagia di luar sana, pastikan suamimu menerima kondisi ini ya. Para pria, sediakan telinga dan waktu duduk manis bersama pasangan. Karena apa? Selain ingin dimengerti, perempuan cuma butuh didengarkan. *kalem

Ngomong-ngomong soal kebawelan perempuan, hari ini saya senang banget karena sesi ngobrol saya dan si papoy cukup berbobot. Yang biasanya berisi obrolan ringan, malam ini diskusi kami lebih berisi. Tentang apalagi kalau bukan si #Asaboy?

Malam ini papoy pulang lebih malam dari pada biasanya. Asaboy yang sudah nggak sabar menanti, akhirnya ngambek dan terlelap. Kayaknya kecapekan juga karena hari ini ia nggak tidur siang. Ketika si papoy pulang, Asaboy sudah tidur. Sehingga saya dan si papoy punya kesempatan ngobrol agak lama dan santai. 

Sesi curhat saya diawali dengan "laporan kegiatan" hari ini bersama anak-anak. Kebetulan hari ini ketitipan dua orang keponakan. Saya sharing kepada beliau tentang polah mas di sekolahnya, kegiatannya sepulang sekolah, sampai ia terlelap malam ini. Si papoy mendengarkan cerita saya sambil bebenah kamar, menyapu dan mengepel. Sementara istrinya bobok cantik di samping si boy. 
Kenapa? 
Karena perut saya keram, sodara-sodara, jadi emang ga bisa banyak bergerak. 

Pembicaraan kami pun berlanjut ketika saya menemani papoy makan malam. Setelah makan, kami mengobrol tentang bagaimana trik kami nanti ketika mas beranjak remaja dan dewasa. Bagaimana kami bisa mendidik si kecil agar bisa mempunyai "imun" atas kejamnya dunia saat ini. 

Oya, hari ini sebenarnya saya agak sedih juga karena asaboy sempat di-bully. Mungkin termasuk kategori ringan ya, Asaboy dilabeli sebutan yang kurang pantas oleh teman mainnya. Saya tanya sama si papoy, apa saya terlalu lebay soal perundungan ini?
Beliau bilang, no. Katanya, nanti akan ada saatnya Asaboy bisa menangani perundungan, tapi bukan sekarang. Yang bisa kami lakukan saat ini ya, melindunginya dengan cara menghindarkan asaboy dari perundung tersebut. 

Kemudian si papoy cerita deh soal gimana masa remajanya dulu. FYI, si papoy mantan anak boedoet yang kerjaannya tawuran terus. Perundungan mah udah jadi makanan sehari-hari, katanya. Untungnya, pak suami bisa lepas dari segala macam tipu daya masa remaja itu dan gak sampai terjerumus dalam. Nyusruk dikit sih, pernah. Minimal, ia punya pengalaman dan someday bisa bicara dari hati ke hati sama anaknya. 

Obrolan kami pun berlanjut ke evaluasi tentang bagaimana kami mendidik asaboy di rumah. Sekaligus menyelaraskan gaya pengasuhan kami berdua. Karena kami mempunya inner child masing-masing, yang sudah pasti sangat mempengaruhi cara kami mengasuh anak. Dulu saya sering ribut sama suami hanya karena beda persepsi. Alhamdulillah, sekarang setiap perbedaan itu kami diskusikan, sambil saling introspeksi.  

Walaupun judulnya diskusi, tetap aja pada kenyataannya saya yang lebih banyak ngomong, Ya, nasib perempuan dan 20 ribu kata yang harus ia keluarkan per hari-nya. haha. 
Well, that was the #day5 of #myhappylistchallenge. What's yours?

Sumber gambar: www.everfluent.com


You Might Also Like

0 comments