Best Friends Are The Best!

September 27, 2017


Bagi yang sudah lama kenal saya, mungkin tahu bahwa saya nggak punya banyak sahabat dekat. Sejak zaman sekolah dulu, saya memang berteman dengan siapa saja, tapi yang bisa dibilang sahabat hanya dua-tiga orang. Sekarang, karena sudah terpisah dengan kesibukan masing-masing, jadi cuma bisa saling sapa di dunia maya, di sosial media.


Zaman kuliah, teman saya ya nggak jauh-jauh dari teman sekelas dan se-angkatan. Kalau mau dihitung, sahabat saya zaman D3 malah lebih besar jumlahnya dibandingkan waktu SMA. Kuliah D3 itu bisa dibilang, ya teman, ya sahabat. Karena kami merasa senasib dan seperjuangan. Berjuang membagi waktu, pikiran dan energi antara pekerjaan dan kuliah. Bekerja di pagi hari dan menjadi mahasiswa/i di sore sampai malam hari, nggak jarang, belajar bareng sampai dini hari. Paginya, ya harus tetap berangkat kerja lagi. Life was so hard that time, but we enjoyed it a lot!

Kuliah D4, lingkaran pertemanan pun semakin meluas. Tapi justru lingkaran persahabatan semakin menyempit. Sahabat saya selain teman satu kost, ya, para lelaki yang berasal dari kota yang sama, Jakarta. Walaupun saya dari Jakarta coret alias Depok. Berhubung mahasiswa D4 ITB dulu berasal dari Sabang sampai Merauke, jadilah pertemanan kami pun semakin dekat.

Lingkaran pertemanan saya pun berubah ketika sudah bekerja. Secara natural, perlahan teman dan sahabat zaman SMA, kuliah D3, D4 pun berguguran, kami berjibaku dengan kehidupan masing-masing. Mau kumpul rasanya susah, sekali. Yang paling rese diajak ngumpul sih saya, sebenernya.. haha.. karena waktu itu saya lebih dulu berkeluarga dan punya bayi. Otomatis, paling ribet kalau diajak hang out. Sahabat paling awet ya si papoy. Kami bersahabat sejak satu kelas di kuliah D3 sampai sekarang..Haha...

Di sekolah tempat saya bekerja, akhirnya saya pun mempunyai sahabat yang bertemu dan kompak secara tidak sengaja. Saya lupa tepatnya tahun berapa, tapi waktu itu menjelang hari guru dan di sekolah diadakan acara pentas seni. Kami berempat pun ingin perform. Akhirnya kami kompak membuat satu grup ala ala girl band gitu. Sejak itu, kami bersahabat sangat dekat, sampai sekarang. Walaupun sekarang saya tinggal sendiri di sekolah itu, mereka bertiga sudah melanglang buana di lembaga dan sekolah lain, kami tetap berhubungan via WA grup yang bisa dibilang our pensieve. Tempat kami menuangkan semua keluh kesah, tawa canda sampai swearing khas sahabat.

Malam ini, kami saling curhat tentang pekerjaan. Tentang kelakuan parents zaman now. Saya yang sedang lelah menghadapi orang tua yang bertingkah, membuka percakapan lebih dulu. Yes, bukan cuma siswa loh, yang bertingkah. Malah sebagian besar anak bermasalah itu ya karena orang tua nya yang bermasalah.

Di grup itu saya curhat habis-habisan, para sahabat saya menanggapi sambil berusaha memadamkan hati saya. They knew me better than I do, though. :)
Saya lega.
Mereka dengan sabarnya membaca, merespon dan memberikan semangat supaya saya tetap dalam koridornya dan jangan sampai salah langkah. Thank you, ladies. I know you girls love me so much! :*

Above all, kita semua memang perlu untuk didengarkan, direspon dan dianggap ada. Kadang, 3 hal sederhana itulah yang kita lupa. Di post #day6 #myhappylistchallenge ini, saya merasa bersyukur bahwa selama ini saya dikelilingi oleh orang-orang baik, yang rela meluangkan waktunya untuk mendengarkan, merespon dan menganggap saya ada.

Terlepas dari peran keluarga, kita semua memang butuh sahabat yang memang real, bukan fake.
Untuk semua sahabat saya zaman SD, SMP, SMA, kerja jadi OP warnet, kuliah D3-D4, kalian semua tetap spesial di mata saya. Walaupun sekarang kita terpisah dengan kehidupan kita masing-masing. Deep down inside, I miss you guys.

Terima kasih karena kita pernah mengisi hari susah dan senang bersama. Because best friends are the best!



You Might Also Like

0 comments