Belajar dari Kegagalan

Hari ini tepat seminggu sejak kami mencanangkan program "mandi sendiri". Niatnya sih, dengan target one skill one week, Asaboy bisa mandi sendiri dengan baik dan benar. Artinya, ia bisa mandi sendiri dengan hasil paripurna, walaupun tanpa pengawasan dari kami, orang tuanya.

Jauh panggang dari api, harapan tinggal harapan. Program tinggal program. Nyatanya, sampai hari ini Asaboy belum bisa mandi sendiri tanpa tidak main air. Apalagi, saya sudah mulai aktif bekerja, yang notabene, aktifitas pada pagi hari itu rasanya ritme kehidupan berputar seribu kali lebih cepat. Semua hal sepertinya selalu diburu-buru waktu.

Dengan perasaan diburu-buru seperti itu, biasanya emosi akan mudah sekali terpancing. Alas, kalau nada bicara saya ke Asaboy meninggi, maka si bocah akan mogok maksimal. Ia akan menghentikan semua aktifitas yang sedang ia lakukan dan bersikap membatu. Tanpa ekspresi. Mukanya rata aja gitu.

Tinggalah emak mengelus dada sambil istighfar dan mencoba membujuk kembali, membangun mood sambil berharap jarum jam tidak bergerak lebih cepat dari biasanya. Itu kalau emak lagi sadar, kalau nggak, maka amanat untuk ngalemin si ganteng ini akan teralihkan ke bapake. Ya iyyalah, wong emak sama anaknya dah sama-sama emosi. Biasanya si papoy bisa lebih menggunakan logika dan mengesampingkan emosi. Phew.

Just like today. Asaboy ngambek karena saya memaksanya untuk mandi pagi sendiri. Dia menggunakan alibi andalannya, "mas dimandiin mami aja biar cepet", katanya. Tapi emak keukeuh kalau si anak kudu mandi sendiri, dengan tingkat kebersihan maksimal dan tanpa bermain air. Sounds impossible?
Yap.
Impossible. 
Manalah bisa proses kemandirian anak dikarbit? Lah emaknya aja kalau mau membentuk sebuah kebiasaan baru kudu melakukannya lebih dari sebulan, belum termasuk hari-hari bolongnya.

Jadi, sekarang saya berusaha lebih longgar dengan menurunkan kriteria "bersih paripurna" secara bertahap. Saya membuat standar minimal. Saya akan berusaha lebih bersabar dan merayakan setiap progress yang Asaboy buat hari demi harinya.

Kayaknya kalau dengan cara seperti ini saya bisa rada anteng dan Asaboy juga ikhlas dilepas mandi sendiri.

Wish us luck!

#Level2
#BunsayIIP
#MelatihKemandirian
#Tantangan10hari



Comments

Popular posts from this blog

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) 2015

Meminta Maaf

Periksa Skoliosis Dengan BPJS (1)