Tarawih Terakhir

Hari ini adalah malam ke-29 di bulan Ramadan. Tanpa terasa, ramadan sudah beranjak pergi meninggalkan kita.
Sepanjang tarawih malam ini, rasanya saya merasa demikian merugi. Rasanya masih banyak banget amalan yang tidak dikerjakan, masih banyak kelalaian yang dibiarkan terjadi begitu saja, lalu tiba-tiba, ramadan telah usai.

image: www.pexels.com via pixabay


Malam ini kami sudah sampai di rumah eyang kakung. Ketika melihat kami akan berangkat tarawih, Asaboy segera bersiap ingin ikut juga. Seperti biasa, ia minta ikut salat. Setelah wudhu dan ganti baju koko, ia pun ikut kami tarawih.

Sampai di masjid, ia memilih untuk berada di shaf perempuan bersama saya. Padahal biasanya ia ikut di shaf lelaki. Mungkin karena sudah mulai mengantuk, maka ia lebih memilih bersama saya dan eyang uti-nya.

Setelah shalat isya, Asaboy mulai gelisah dan bertanya, "mi, salatnya masih lama?". Saya bilang, "iya, habis ini masih ada salat tarawih dan witir".
A: "Mas mau pulang, mas nggak mau tarawih"
S: "lah, tadi yang minta ikut salat siapa?"
A: "mas"
S:"Ya berarti mas ikut di sini sampai selesai, ya? karena mami nggak bisa antar kamu pulang. Mami mau salat"
A: "nggak mau, mas mau pulang"

Kalau masih berpendirian keras begitu, biasanya saya akan memberinya waktu berpikir dan membiarkannya sejenak.

Nggak lama, kami salat tarawih dan asaboy terlihat berusaha conforting himself dengan memeluk saya selama saya salat. Ia terlihat bosan dan mulai bergerak, berjalan ke sana dan ke sini.

Setiap jeda salat tarawih, saya jelaskan kepada Asaboy sisa salat yang harus kami laksanakan. Saya peluk, cium dan semangati agar ia tetap duduk di dalam shaf. Saya yakinkan bahwa ia bisa sabar menunggu kami salat tarawih di malam ke-29 ini.

Eyang uti-nya sempat bilang, "saat ceramah, antar aja mas pulang. kasihan kalau dia bosan" Tapi saya juga sayang banget kalau harus meninggalkan musola sebentar hanya untuk mengantarnya pulang. Lalu saya tawarkan ke Asaboy, "Boy, sekarang kan lagi ceramah. Mas bisa mami antar pulang."
"Uti gimana?" katanya. Saya bilang, "Ya, uti kita tinggal salat di sini sendirian". Ia terlihat berpikir dan bilang "Mas tunggu aja deh"

Waaah.. bukan main leganya saya waktu ia bilang demikian. Karena sudah terlihat mengantuk, maka saya izinkan ia untuk tiduran di antara shaf saya dan eyang uti-nya. Nggak apa-apa deh, yang penting ia belajar untuk konsekuen dengan pilihan yang ia ambil sebelumnya.
Alhamdulillah, ia bertahan di musola sampai kami selesai salat.

www.pexels.com

Malam ini saya belajar lagi bahwa ternyata, komunikasi produktif bukan tentang bagaimana menyelaraskan keinginan antara ibu dan anak atau suami dan istri. Namun, komunikasi produktif adalah tentang bagaimana kita saling menghargai pendapat masing-masing. Bagaimana kita belajar untuk mendengarkan tanpa menuntut didengarkan. Bagaimana kita bersikap konsisten dan konsekuen terhadap setiap keputusan yang telah kita ambil sebelumnya.

Terima kasih, IIP. Terima kasih. Yang pastinya, terima kasih Allah karena telah memberikan saya banyak pelajaran selama bulan ramadan ini.
Semoga Allah masih memberikan kesempatan untuk sampai ke ramadan berikutnya. Amin


Comments

Popular posts from this blog

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) 2015

Meminta Maaf

Balada Stik Es Krim