Komunikasi Produktif Dengan Anak (Hari 6)

Lelah itu biasa, justru lelah menjadi indikator bahwa kita sudah melakukan sesuatu. Yang bahaya, putus asa. 

Tetiba kalimat di atas terlintas begitu saja di pikiran saya saat menulis posting blog hari ini.
Setelah kekalahan saya dua hari lalu, setelahnya saya memutuskan untuk lebih rileks dan santai dalam menerapkan komunikasi produktif ini.

Pagi tadi setelah solat duha, #Asaboy baru pulang main dan melihat saya yang masih duduk di atas sajadah. Si kecil selalu bermanja ketika melihat saya masih bersimpuh. Bahkan kadang saya masih solat pun, ia akan ngglendot minta perhatian. Mak,anaknya gitu juga, nggak? hehe..

Setelah sesi peluk manja, saya tanya ke Asaboy, jam berapakah ia akan mandi. Pertanyaan saya dibalas dengan pertanyaan lagi, "memangnya kita mau kemana, mami?"
Pertanyaan klasik. Mungkin itu salah satu kesalahan saya di zaman dulu, ketika ia menolak mandi, biasanya saya membujuknya dengan "mas mau ikut, nggak? mami mau pergi nih. Kalau mau ikut, ayo mandi". Ajakan politis yang ujungnya saya malah membohongi anak. Maka nggak heran ketika ia disuruh mandi, responnya pun selalu bertanya balik, akan pergi ke manakah kami?

bathing (pixabay.com)


Di kelas Bunda Sayang IIP, saya banyak belajar tentang bagaimana menyelaraskan keinginan kita dan anak. Maka, hari ni saya coba praktikkan lagi.
(A: Asaboy, S: Saya)

S: "mas, mami harum, nggak?"
A: "harum"
S: "iya dong, mami kan sudah mandi."
A: "hm..."
S: "mas senang kalau mami wangi?"
A: "senang"
S: "mami juga senang kalo mas wangi. Enak dicium dan dipeluknya."
A: "oh, gitu"
S: "iya. Mandi yuk? supaya mas wangi."
A:  "emang mandi bisa bikin wangi, mi?"
S: "bisa"
A: "nanti mas jadi wangi kayak mami?"
S: "iya. Yuk?"
A: "Ayuk... tolong bukain baju ya, mami"

Waaaa.. senangnya saya (norak!)
Iya, senang karena si kecil mau mandi dengan sukarela, tanpa drama, tanpa narik urat. Hahaha..
Alhamdulillah ya, sesuatu.
Lelah nggak apa-apa, yang penting nggak putus asa. ya nggak, maks?

#Tantangan10hari
#GameLevel1
#KelasbunsayIIP


Comments

Popular posts from this blog

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) 2015

Meminta Maaf

Balada Stik Es Krim