Komunikasi Produktif Dengan Anak (Hari 17)

June 17, 2017

Di usianya yang hampir menginjak usia 5 tahun plus postur tubuh yang cukup besar di antara teman-teman sebayanya, membuat kami selalu dihujani pertanyaan "anaknya sekolah dimana, pak/bu?"
Lalu kami akan menjawab, "belum sekolah"
Kemudian si penanya (seperti biasa, walaupun baru kenal, kadang orang kita terlalu kepo  perhatian dengan hidup kita yak?) akan kembali bertanya, kenapa belum sekolah? emang umurnya berapa?

image: www.pexels.com by pixabay

Seperti di perjalanan kereta tadi pagi saat kami berangkat ke rumah eyang. Dalam kondisi gerbong kereta yang sangat padat, ada seorang ibu yang berbaik hati untuk menggeser posisi duduknya sedikit agar Asaboy bisa nyempil duduk di sebelahnya. Si ibu ini sangat perhatian lalu menghujani saya dengan pertanyaan lanjutan hingga akhirnya memberikan nasihat tentang pentingnya sekolah di usia dini. Menurut beliau, betapa meruginya kami jika anak kami tidak disekolahkan sejak dini.

Saya hanya mendengarkan sambil tersenyum. Ya, secara si ibu tersebut anaknya sudah besar, jadi pastilah beliau merasa bahwa tindakan menyekolahkan anak pada usia dini adalah tindakan yang bermanfaat untuk anaknya.

Entah saya yang terlalu naif atau sok, saya nggak tahu. Yang pasti, Asaboy sudah "sekolah" sejak usianya 3 bulan hingga berusia 3 tahun. Sekolah di mana? di tempat penitipan anak.
Setelah usia 3 tahun, saya memutuskan untuk menghabiskan lebih banyak waktu bersamanya di rumah. Bukan cuma perkembangan fisik yang tampak signifikan, perkembangan linguistik dan karakternya pun (sayangnya) plek ketiplek sama saya. Sampai yang negatif pun ia serap. Tapi justru dengan begitu, dari dirinya-lah saya berkaca. Oh, ternyata saya tuh begitu ya. Jelek banget ya, kalau marah? Karena Asaboy meniru gaya marah saya.

Tapi dengan "sekolah di rumah", Asaboy pun meniru kebaikan hati dan kesigapan papanya dalam membantu orang lain.
Seperti beberapa hari lalu saat kami sedang berbelanja, ia dengan sigapnya membantu kami dengan mendorong troli belanjaan.


Hari ini pun, saat kami sedang membelikan titipan oma di toko perlengkapan bayi, ia dengan ramahnya bilang "mami tenang aja, mas yang bawain keranjangnya." Ia tidak membiarkan saya merasa kerepotan. Ketika keranjangnya sudah penuh dengan belanjaan pun, ia masih bersikeras untuk membawa keranjang belanja (yang akhirnya didorong karena sudah ndak kuat lagi, haha).

Lalu, apa kami salah dengan tidak menyekolahkannya di sekolah umum?
Entah. Yang pasti, kami sudah cukup puas dengan perkembangannya saat ini. Ia sudah tahu adab naik kendaraan umum dasar, seperti mengantri, mendahulukan penumpang yang akan turun, mengetahui batas bahaya di peron (garis kuning) dan sebagainya.
Kata-kata manner seperti "terima kasih" jika diberikan tempat duduk atau diberikan sajian pesanan saat kami sedang makan di luar, atau "permisi" saat ia akan menembus kepadatan penumpang di kereta, sudah dipraktikkan olehnya tanpa harus saya/ papanya ingatkan.

Saya dan suami sepakat akan menyekolahkan Asaboy nanti di saat yang tepat. Kapan? Ketika ia sudah merasa butuh untuk sekolah. Lagipula, usianya saat ini masih 4.5 tahun. Kami ingin nanti ia akan masuk SD ketika otaknya memang sudah siap untuk menerima "hujan materi" di sekolah. (I am a teacher myself and I knew how hard those subjects are)

Beban kurikulum saat ini bukanlah beban abal-abal. Banyak orang tua yang mengeluh mengapa kurikulum sekarang jauh lebih berat dibanding saat mereka kecil dulu. Jangan tanya, kami saja gurunya ngos-ngosan untuk catching up dengan kurikulum yang sekarang. Tapi ya bagaimana lagi, itulah sekolah. Itulah tugas pemerintah untuk membuat masyarakatnya lebih maju.

Sebagai seorang guru, saya ingin anak saya sendiri bisa merasakan nikmatnya belajar. Merasakan haus akan ilmu pengetahuan dan mencari apa yang ingin ia cari sesuai dengan ketertarikannya pribadi. Bukan hanya karena tuntutan kurikulum. Karena, sesuatu yang dipaksakan hanya akan menjadi beban.

Kami sadar, sebagai orang tua, PR kami sangatlah besar. Namun, kami hanya melakukan apa yang bisa kami lakukan. Menjadi "sekolahnya" di rumah. Mempraktikkan apa yang kami ketahui baik sambil berusaha meminimalisir keburukan kami pribadi agar tidak terserap olehnya.

Jadi, sebenarnya yang jadi guru siapa? Anak kami. :)


You Might Also Like

0 comments