Komunikasi Produktif Dengan Anak (Hari 16)

"Mami, kenapa pesawat terbang di atas?"
"Mami, kenapa pemadam (kebakaran) warnanya merah?"
"Mami, kenapa kereta jalannya cepat?"

Daaaaan.. puluhan pertanyaan yang sama, yang ditanyakan berulang, ulang dan berulang lagi. Waktu nanyanya pun acak aja, seenaknya si kecil. Biasanya pertanyaan itu akan muncul begitu saja. When he wants to pop it out, he will just threw out those questions through his tiny lips. 

image: www.pexels.com by unsplash

Kalau pertanyaannya logis sih masih bisa dijawab dengan pernyataan yang logis pula. Masalahnya, terkadang pertanyaannya abstrak dan saya sendiri jadi bingung gimana jawabnya. Kadang juga bikin emaknya malu untuk jawabnya karena ia seringkali bertanya tentang orang lain yang ia temui di sepanjang perjalanan kami. 

Misalnya seperti, 
"Mami, kenapa om itu jualan tahu?"
"Mami, kenapa orang itu ngajak mami ngobrol? mami kenal emangnya?" Kan biasa ya buibu, kalau kita sedang di perjalanan atau duduk menunggu di kereta, kita akan mengobrol dengan teman sebelah, atau sekedar menjawab pertanyaan tentang arah atau basa basi tentang tujuan. Nah, si kecil itu suka bingung, "katanya nggak boleh ngomong sama orang yang ga dikenal" hahahaha.. makjleb dan bikin emaknya speechless. Bahkan malu di tempat, sih. 

Tapi, ya itulah seninya punya anak. 
Sejak punya Asaboy, rasanya bukan saya yang mengajarinya. Tapi ia yang selalu mengajari saya. Untuk menjadi ibu yang konsisten dengan kata-kata sendiri. Menjadi emak yang dapat melaksanakan nasihatnya sendiri dan menjadi mami yang hobinya menyayangi, bukan ngomel

Soal ngomel ini, rasanya menjadi PR terbesar saya karena saya orangnya nggak sabaran. 
Saya bisa sabar menjawab puluhan pertanyaan si kecil, akan saya jawab hingga pertanyaan mendetil, but in one term, kalau saya dan dia sedang berdua aja di rumah atau di kendaraan. 
Masalahnya, kalau saya lagi ngobrol dengan orang lain, si kecil ini akan menyerbu saya lagi dengan puluhan pertanyaan yang sama, berulang-ulang seperti yang sempat saya catat di hari ke-9 lalu.

Jadi biasanya kalau emaknya lagi eling, saya cuma bilang, "sebentar ya, nang.. mami lagi ngobrol dulu. Nanti kita ngobrol berdua lagi ya"
Kalau dianya lagi enak juga hatinya, dia akan bersikap cukup tenang dan mengangguk takzim. Tapi masalahnya kalau dia lagi nggak mood juga, haduuuh.. bakalan ngoceh terus bilang "mami nih, dengar mas nggak, sih?!" 

Puyeng mamak dibuatnya. >_<'




Comments

Popular posts from this blog

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) 2015

Meminta Maaf

Periksa Skoliosis Dengan BPJS (1)