Komunikasi Produktif Dengan Anak (Hari 15)

What makes a woman as a mother?

Not only when she's having the baby in her womb, nor when she gave birth to her children.

Semua adalah hal yang kasat mata. realita.
Bisa dilihat dan dirasakan oleh panca indera.

Sebagai orang dewasa, dengan beragam permasalahan dan tanggung jawab yang kita miliki, kita sudah terbiasa dengan fokus dengan masalah, tanpa sempat menikmati hal-hal yang terlihat kecil namun merupakan harta yang tak ternilai harganya.

Saya jadi ingat beberapa tahun lalu saat belum menikah. Suatu siang ketika pulang mengajar, saya merasa sangat lelah hingga ketika baru sampai di rumah, saya langsung tepar di atas kasur sambil menikmati angin sepoi-sepoi dari kipas angin di kamar.

Saat itu, sempat terlintas di pikiran saya, bagaimana kalau saya sudah menikah dan punya anak nanti? mungkin sudah nggak bisa menikmati leyeh-leyeh di kasur sepulang kerja.
Pastilah sudah akan direpotkan dengan urusan domestik dalam rangka mengurusi anak dan suami.
Lalu ternyata, memang angan-angan itu menjadi kenyataan. Pulang mengajar, saya sudah tidak bisa leyeh-leyeh sendirian.
Sekarang sesi bersantai di kasur jadi bertiga. Saya, si papoy dan Asaboy. :)
Semua kekhawatiran dan ketakutan yang saya bayangkan saat sebelum menikah, memang menjadi kenyataan, namun Allah memberikan berkah dan kebahagiaan tak terhingga di dalamnya.
Dulu saya pikir kebahagiaan itu adalah sebuah hal yang utopis, sebuah perasaan yang hanya dapat dirasakan dengan terms and conditions.
image: www.gayletabor.com

Ternyata,
Menjadi ibu adalah ketika kita tetap bisa tertawa melihat wajah si kecil yang celemotan sambil terus melahap es krim kesukaannya.
Menjadi ibu adalah ikut merasa sakit ketika si kecil sedang demam dan berharap sakit yang sedang dirasakan di anak, dipindahkan saja ke raganya.
Menjadi ibu adalah ketika ikut menangis saat berdamai setelah "bertengkar" dengan si kecil.

Dan menjadi ibu adalah, ketika bisa mengusap-usap si kecil sambil mendengungkan doa terbaik di telinganya saat ia akan terlelap.
Rasa hangat yang memenuhi rongga dada dan terasa melegakan itulah yang membuat segala hal tak berharga. Rasa itulah yang selalu saya alami saat memeluk si kecil ketika ia sedang terlelap. Ternyata, rasa itu yang paling mahal.
Betapa pun mengesalkannya, betapa pun menggemaskan dan menguras emosinya si kecil.. tetap saja saya selalu merindukan bau asemnya ketika ia bangun tidur.

Setuju, buibu? :D


Comments

Popular posts from this blog

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) 2015

Meminta Maaf

Periksa Skoliosis Dengan BPJS (1)