Komunikasi Produktif Dengan Anak (Hari 1)

June 01, 2017

Di dalam kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional, kami diberi tugas untuk menuliskan pengalaman komunikasi produktif yang sudah kami praktikkan di rumah.

Komunikasi produktif itu yang seperti apa? Sila lihat di link di atas, ya.. :)

Dua hari ini saya didera sakit gigi yang sangat mengganggu aktifitas. Kemarin seharian cuma bisa tiduran karena gigi nyut-nyutan. Masalahnya, sakitnya menjalar sampai leher dan kepala. Nikmatnya luar biasa.. haha..

Alhamdulillahnya, Asaboy cukup kooperatif. Karena kami hanya berdua di rumah, jadi si kecil itu yang bolak balik bertanya, "mami kenapa?" "mas nggak mau mami sakit" sambil memeluk saya. Duh, ni anak kecil bikin baper..

Karena hari ini sudah agak baikan, jadi kami berdua pergi ke sebuah minimarket untuk berbelanja kebutuhan harian. Kebetulan, stok oatmeal di rumah sudah habis. Ketika saya sedang memilih-milih belanjaan, Asaboy mendekati saya dengan pandangan mata andalannya dan sebuah mainan di tangan.
(A=Asaboy, S=Saya)

A: "Mami, kakak Rafka (sepupunya) kan sudah punya mainan super wings. Mas belum punya"
S: "terus?"
A: "Mas boleh nggak beli ini?" katanya sambil menunjukkan super wings figurine
S: "Mau beli ini?" tanya saya sambil memegang mainan di tangannya
Si kecil pun mengangguk
Saya menghela napas. Bukannya nggak mau membelikan, masalahnya dia baru saja dibelikan mainan minggu lalu.
S: "Pasti seneng ya mas kalau punya mainan baru?"
A: "iya mami, seneng"
S: "Mami juga seneng kalau lihat mas senang. Tapi.. boleh nggak kalau beli mainannya nanti aja?"
A: (mulai mutung)
S: "Takut uangnya nggak cukup, nih. Nanti aja, ya?" (kalau ke minimarket memang saya selalu membawa uang yang sekiranya pas untuk belanja)
A: "hmm.. mamii.." (merengek)
S: "terserah mas, sih. Tapi maaf ya, mami ga bisa belikan sekarang"
Saya tetap memeluknya sambil mengelus-elus punggungnya. Menunggu respon si kecil selanjutnya.
A: "hm.. jadi, nggak sekarang ya?"
S: "iya..."
A: "oh gitu, ya udah deh. mas taro dulu mainannya ya?"
S: (Yeaahh!-teriak dalam hati)
A: "nanti kalau udah cukup uangnya kita beli ya, mi? sekarang kita taro dulu"
S: "oke, boy."
meletakkan kembali mainan yang tidak jadi dibeli :)
Catatan:
Kondisi di atas bisa terjadi karena si anak sudah dalam kondisi kenyang dan nyaman untuk diajak berkomunikasi secara "sehat". Kalau dalam keadaan lapar dan lelah, kemungkinan hasilnya bisa beda.. haha.

Jujur, sebenarnya saya agak kaget dengan respon si kecil karena biasanya dia itu perayu ulung. Kadang kami yang awalnya nggak mau membelikan, malah berakhir di kasir karena "nggak tega". Hiks, padahal itu nggak konsisten ya?
Tapi ya, namanya juga belajar, ada proses masing-masing.
Tetap semangat di kelas Bunda Sayang IIP!!

"The more you learn, the more you know that you knew nothing"



You Might Also Like

0 comments