Komunikasi Produktif Dengan Anak (7)

Wah, nggak terasa, ternyata sudah seminggu saya rutin menulis di blog ini. Rasanya senang banget. Yang dirasa paling bermanfaat adalah, komunikasi saya dan Asaboy sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Yang tadinya Mamazilla, sekarang jadi LovingMama. *tsaaaahh...

Lovingmama, by pexels.com

Memang sih ya, hal yang paling berat adalah melawan hawa nafsu sendiri. Dari semua teori parenting yang sudah pernah saya baca, rasanya semua akan menguap percuma kalau tidak dipraktikkan. Alhamdulillah wa syukurillah, Allah kasih saya jalan ikut kelas Bunda Sayang IIP.

Hari demi hari dilalui dan sampailah ke titik hari ke-7 dalam Game Level 1, Tantangan 10 hari untuk berkomunikasi produktif dengan anak dan pasangan. Saya pilih untuk berkomunikasi produktif dengan anak dulu. Kenapa? Karena saya merasa lebih sulit ketika harus berhadapan dengan anak. Saya sudah telanjur menganggap bahwa anak itu "kendi kosong" yang nggak tahu apa-apa, jadi harus selalu dikasih tahu, dibawelin dan diomelin.  Hasil yang saya dapat dengan mindset seperti itu adalah, anak nggak nyaman ketika ada saya. Tak jarang, kalau dia sedang asyik bermain dengan papanya, saya diusir-usir. Karena dia tahu, saya akan mengomel panjang kalau mainannya berantakan atau berserakan di sana sini.
Tenang nak, sekarang mami udah tobat... mumpung masih ramadan.. hihi.. duh, jadi mbrebes mili kan kalo kayak gini.

Karena setelah tujuh hari ini, ternyata perubahan sikap Asaboy ke saya itu nyata banget. Yang tadinya dia suka nggak mau saya temani main, sekarang kalau mau main ngajak saya. Apalagi kalau sedang pegang hp. Trik papoynya supaya anak nggak terlalu lama pegang gawai (gadget) adalah, anak ditemani dan mainnya bergantian. (ini sekalian modus supaya beliau bisa main opo ora, aq ra ngerti.. haha) tapi dengan begitu, ternyata Asaboy tahu kapan harus berhenti. Sedangkan kalau sama saya, boro-boro mau gantian main. Kalau saya datangi ketika dia sedang main game sama papinya aja sudah parno ingin menyembunyikan gawainya. Lah ni kan bahaya.. hiks..

Udah dulu curcolnya.. sekarang saya mau cerita baru lagi, nih... tentang komunikasi produktif untuk mengajak si ganteng bobok siang. Beuuuh. PR banget, kan?
Selama ini kalau mau bobo siang, biasanya saya tipu-tipu dikit (maap Ya Allah.. hehe).. bilangnya saya lagi pengen dipeluk.. tapi sambil tiduran.. jadi posisinya si kecil ada di samping saya terus sambil saya usap-usap kepalanya. Dengan kondisi perutnya dah kenyang habis makan siang plus semilir angin dari fan, maka si bocah akan tertidur lelap.. tanpa disadari.
Nah, mulai hari ini, saya bilang terus terang sama si bocah soal bobo siang ini.

boci (pexels.com)

Setelah ia makan siang dan bersih-bersih, sambil menggantikan bajunya, mulailah saya bercerita tentang manfaat tidur siang.
(S: Saya A: Asaboy)
S:"mas, bobo itu bisa bikin pintar loh"
A: (masih cuek pakai baju)
S: "saraf di otak mas, nih.. sambung menyambung semuanya, jadi mas bisa pintar"
A:"terus?"
S: "iya, jadi kalau mami ajak ngobrol, mas makin ngerti"
A:"yang bener, mami?"
S: "bener. makanya bobo siang itu bagus buat kita"
A:"kemarin pas mas bobo, mas bangun pas papi pulang, ya?" (this is truly correct)
S: "iya, makanya kalau mas bobo sekarang, nanti jam 3 pas mas bangun, papi dah pulang, deh"
A:"yeeey, papi pulang. Iya deh. mas bobo di kamar oma, ya?"
S: (sempet bengong, nggak percaya ini anak bisa mau bobo siang dengan sukarela begini) "iya. oke deh... bobo ya?"

Dan si bocah ganteng itu pun ngeloyor gitu aja ke kamar omanya, bobo-boboan, katanya.. hahaha
Walaupun nggak langsung bobo, sih. masih ada "iklan" pipis dulu, lah, makan vitamin dulu, lah, tapi at least, anak ini sadar bahwa ia akan bobo.. and it's amazing. Hahaha.. norak deh saya..

Terima kasih IIP. Terima kasih semua teman2 fasil dan perangkat kelas #bunsay. Barakallah.. :)



Comments

Popular posts from this blog

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) 2015

Meminta Maaf

Balada Stik Es Krim