Balada Petasan

Takbiran dan petasan merupakan dua hal yang jauh berbeda namun seringkali terdengar bersahutan. Di tengah gema takbir yang dikumandangkan, dar der dor petasan pun sukses bikin kesal emak-emak yang punya bayi dan balita.
Petasan
sumber: www.tempo.co

Saya pribadi nggak suka dengan petasan. Kalau kembang api, lain soal. I love the sparks of the fireworks.
Ketika #Asaboy masih bayi, saya sangat kesal dengan suara petasan yang nggak tahu aturan. Ya iyyalah ya, petasan memang nggak kenal aturan. Pembakar petasannya yang harusnya tahu aturan. 
Orang tua yang punya bayi dan balita pasti kesalnya nggak ketulungan kalau anaknya lagi kriyep kriyep terus terbangun gegara bunyi letusan petasan. 
Selain mengganggu ketenangan, petasan pun sudah banyak memakan korban. Tapi entah kenapa petasan selalu jadi komoditi yang cukup laris di musim lebaran. 

Ilustrasi korban petasan
sumber: www.antaranews.com

Sebagai orang tua yang nggak suka dengan petasan, kami ingin Asaboy bisa memahami bahwa petasan bukanlah mainan dan kalau nanti ia besar pun, kami nggak ingin ia menganggap bahwa petasan adalah hal yang wajar dan tidak mengganggu ketenangan orang lain.
Jadi, kami pun melakukan beberapa hal untuk menanamkan konsep bahaya tersebut.
Asaboy loves vehicles and heavy machines. Ia juga senang melihat aksi pemadam kebakaran via video di youtube atau animasi fireman Sam atau yang sejenis. Maka dari sisi itulah kami masuk melalui cerita tentang bahaya bermain petasan. 
Menurut kak Seto, dengan mendongeng biasanya anak dapat menyerap informasi dengan lebih cepat dan bertahan cukup lama di memorinya. 

Lalu usaha kami tersebut diuji malam ini. 

Di tengah serunya takbiran dan letusan petasan, Asaboy diajak untuk membeli petasan di dekat rumah kakung. Saya yang mendengar ajakan tersebut, rada deg-degan. Asaboy sempat saya panggil, namun ia tidak menggubris panggilan saya. Saya pun membiarkan mereka pergi sambil berdoa semoga konsep bahaya petasan tersebut dapat mencegahnya dari bermain petasan. 

Sepulang dari membeli dan membakar petasan, pakdenya cerita, "dek Asa mah nggak suka main petasan, ya?" Dalam hati saya sangat bersyukur ternyata video pemadam kebakaran dan sesi dongeng tentang bahaya bermain api telah tertanam dengan cukup baik di memorinya. Menurut pakdenya, Asaboy menolak dibelikan petasan dan ketika mereka membakar petasan pun ia menjauh. 

Mungkin sekilas terkesan bahwa Asaboy takut atau katrok karena nggak berani main petasan. Walaupun petasan yang dibelikan oleh pakdenya tergolong petasan kecil dan hanya memancarkan api, tapi menurut saya, terlalu riskan rasanya membiarkan anak terbiasa dengan api dan ledakan. Karena sejatinya, sekecil apapun dua hal tersebut tetap saja mengandung bahaya, terlebih untuk anak usia balita. 

Malam ini saya bersyukur bahwa Asaboy sudah mempunyai immune system terhadap bahaya petasan. Semoga bisa menjadi penjaga ya, nak. 
Semoga bisa menjadi bekal hingga besar nanti. Bahwa api dan ledakan tidak bisa dijadikan mainan dan bahan gurauan. Bagi para orang tua yang membiarkan anaknya bermain petasan, even the smallest one just like petasan banting, please take care of your children. No offense, ya :)







Comments

Popular posts from this blog

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) 2015

Meminta Maaf

Balada Stik Es Krim