Akhir Ramadan, Kekalahan atau Kemenangan?

29 Ramadan 1438 Hijriah
Sebulan sudah kita berpuasa, berjuang melawan hawa nafsu dan mengendalikan diri. Akankah kita kembali fitrah?

www.assabile.com

Jawabannya ada di dalam hati kita masing-masing. Hanya kita yang tahu apakah puasa kita kemarin benar-benar ikhlas karenya-Nya atau karena "malu" kalau nggak puasa?
Hanya kita juga yang tahu apakah ibadah kita kemarin dikerjakan dengan baik atau bolong-bolong.

Saya sendiri merasa bahwa selama ramadan ini, masih banyak PR yang perlu diperbaiki. Ibadah masih seenaknya dan puasa juga suka lupa kembali ke niat awal. Sebagai manusia biasa, saya hanya bisa berharap yang terbaik kepada Allah semoga "madrasah" selama bulan kemarin betul-betul memberkan bekas di dalam diri.  Menjadi motor untuk senantiasa memperbaiki diri di hari-hari selanjutnya.

Karena kalau kata pak Ustadz di tarawih terakhir kemarin, yang menjadi bukti kalau ramadan bermanfaat buat kita adalah bukan perilaku kita pada saat bulan ramadan, tetapi nanti, sepanjang 11 bulan ke depan hingga ramadan berikutnya. Nah, ini PR terbesarnya.

Sebagai seorang ibu, sepanjang ramadan kemarin saya mengikuti kelas Bunda Sayang dari IIP. Materi dan tugas Game Level 1 banyak membantu saya dalam proses perbaikan diri. Yang tadinya agak "narik urat" kalau minta #Asaboy mandi, sekarang sudah agak santai, walaupun pake metoda "cerita rakyat". Dari segi waktu dan usaha memang lebih banyak yang harus saya investasikan, namun itu semua sepadan dengan semakin minimya drama dan air mata. Hahaha...

Kalaupun ada air mata, bukan air mata kesedihan, tapi rasa syukur dan bahagia karena saya dan si kecil bisa "akur". Dulu, saking seringnya berantem dengan si fabulous four, papanya sering ngeledek, "yak, ronde pertama.. Teng!" kalau saya dan si kecil sudah mulai bersitegang.
Sekarang? memang belum hilang sepenuhnya, tapi seingat saya, sepanjang ramadan ini paling hanya satu dua kali papanya bilang begitu.. wkwkwkkw...

Artinya, saya dan si bocil sudah mulai bisa membangung komunikasi yang lebih baik. Alhamdulillah.
Maka di bulan ramadan ini, saya banyaaak sekali bersyukur karena Allah memberikan begitu banyak rejeki dan karunia berupa kasih sayang dan keberkahan dalam keluarga kami. Mungkin bukan rejeki yang tidak terlihat secara kasat mata, namun rasanya "tangki kasih sayang" saya beberapa kali jackpot alias terisi penuh bahkan sampai luber-luber sampai berkali-kali.

Rasa bahagia dan syukur yang tidak dapat saya ungkapkan dengan kata-kata. Waktu berkualitas yang kami miliki sekeluarga, dan keberkahan yang tidak dapat dinilai dengan uang. Jadi kalau ditanya tentang Ramadan tahun ini, apakah kami kalah atau menang? Hanya Allah yang tahu jawabannya.

www.pinterest.com

Yang pasti, tahun ini dipenuhi dengan rasa syukur dan terima kasih yang tak terhingga kepada-Nya.

Thank you, thank you, thank you Allah.


Pondok Mertua Indah,
Penghujung Ramadan 1438 H.


Comments

Popular posts from this blog

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) 2015

Meminta Maaf

Balada Stik Es Krim