True Love, Is it Real Or Just A Fantasy?

pexels.com

Setiap orang pasti ingin bahagia. Entah bagaimana pun keadaannya, pasti mereka ingin hidup bahagia bersama orang yang dicintai.
Di atas semua permasalahan dan kesulitan hidup yang ada, kebahagiaan adalah perasaan fitrah dan kebutuhan dasar yang ingin orang ciptakan untuk hadir di dalam kehidupan mereka.
Lalu, apa sih bahagia itu?

Tergantung.
Ada yang bilang bahagia itu sederhana. Kalau ukuran emak-emak macam saya, anak mau makan masakan yang saya buat aja rasanya sudah bahagia. Tapi ada juga yang menetapkan standar kebahagiaan di level yang lebih tinggi. Punya rumah mewah, misalnya, baru bisa bahagia. Ya, setiap orang bebas untuk menentukan "standar kebahagiaan"-nya masing-masing. Tidak ada yang benar, tidak ada yang salah.

Waktu saya masih kecil dulu, bisa dibilang saya tidak bahagia. Kehidupan rumah tangga orang tua yang tidak harmonis membuat saya menjadi anak yang skeptis dan tidak percaya cinta. Apalah itu cinta? hanya sekedar bumbu pemanis macam mecin yang terasa enak di lidah tapi membuat badan menderita.

Bahkan saking tidak percaya akan cinta, setiap melihat pasangan yang sedang berbahagia, I thought they were just pretending to be falling in love each other. Silly, I know. But I was raised that way. I learn that every couple relationship would ended in separation.

Kemudian Tuhan mendidik saya dengan cara-Nya sendiri.

I.
fell.
in.
love.

Crap! I hate those feelings. 

Perasaan yang sangat membuat saya tersiksa tapi sekaligus menikmati.
Entah karena peer pressure atau memang itu cinta, saya belum paham. Tapi kemudian saya mengerti bahwa inilah cara Tuhan mengajarkan cinta kepada saya.
Well, okey, if I may say, this is God's way to tell me that love is not all about pain and hurt. 
Melalui si papoy.
Awalnya, kami hanya berteman. Teman tapi menikah.. hahaha..
Ya nggak semudah itu juga, sih. Kami sama-sama "mengupas bawang".
We had thousands of our small talks, silly conversations, then we arguing till we ran out of tears.

Gampang? nggak.
Beautiful? well, definitely yes! Walaupun nggak selalu, sih.

Entah kenapa ini saya random banget subuh-subuh nulis beginian.. hahaha
Intinya sih saya cuma mau bilang kalau... ternyata cinta sejati itu memang harus diusahakan. Sejak saya menjalin hubungan dengan si papoy, I brought my own baggage from the past. Dalam database emosi saya, menjalin hubungan dengan lelaki itu pasti melelahkan, menyakitkan dan akan berakhir dengan perceraian atau kematian. Serem? Iya. Because I've seen them with my own vary eyes how those things happened! How a woman tortured in a marriage and has to be powerful enough to stand on her own feet while raising her little kids. In my head, marriage means cage, grief and suffer.
Kenapa akhirnya saya berani memutuskan untuk menikah? Simply because I thought that was the right thing to do. Sudah kenal dan pacaran lama, ya endingnya nikah, toh? ya masa pacaran doang?
Later I know that was the BEST DECISION I've ever made in my whole life. hahaaaaeee, lebaaay!

Kalau kata Ale waktu ngelamar Anya di film Critical Eleven,
"saya sudah bakar jembatan saya sama kamu"
There's no way for turning back. All we have to do is just run forward, together, holding hands, no matter what!

Si papoy bukan tipikal lelaki romantis yang membawakan bunga atau hadiah. Kalau saya ulang tahun aja biasanya beliau nanya, mau hadiah apa, lalu kami pergi beli berdua atau stumbled upon a marketplace then order my birthday gift. Ia lelaki tanpa kejutan. Tapi saya masih "mempelajarinya" hingga sekarang.
Kalau kata mbak Pingkan C. Rumondor di workshop Enriching Relationship Satisfaction: Through Conflict Resolution 13 Mei lalu, cinta, keyakinan dan usaha adalah modal paling penting dalam mempertahankan pernikahan. Teori itulah yang memang membuat pernikahan kami bertahan. We had our own ups and downs. We've been through our own storms and emotional floods. 
Ada satu masa, saat saya curhat kepada seorang sahabat tentang konflik dalam pernikahan saya yang menurut benar-benar pelik. Entahlah, rasanya pernikahan kami sudah di ujung tanduk waktu itu.We fought about things, argued, we even didn't talk each other. 

Sahabat saya ini cuma bilang, "coba deh lo inget-inget, ada ga sih kejadian yang bikin lo yakin kalau he was the one? hal apa yang pernah dia lakukan dan bikin lo terpukau banget dan makin cinta ma dia?"

Waktu itu saya spontan bercerita tentang sebuah momen berharga saat saya masih di rumah sakit paska melahirkan anak pertama kami. Saya sangat lelah, kucel, kesakitan dan menderita. I was cranky so bad until even my mom hates me that time. hahaha.. tapi dia nggak, loh.
Beliau tetap melayani saya dengan sabarnya, literally melayani. Beliau ambilkan saya minum, nanya saya lagi mau makan apa, nanya apa yang bisa ia lakukan untuk buat saya nyaman, dll. That was sooooooo sweeeet!

Sahabat saya mendengarkan cerita saya sambil senyum dan kemudian bilang, "kalo lelaki macam gitu lo lepasin, lo yang bego!"

Yeah, I know. I was so stupid that time. Tapi apalah yaaaa.. nggak ada noda nggak belajar, yekan? :D


Obrolan singkat dengan sahabat tersebut masih saya ingat sampai sekarang. Tips praktis yang ternyata sejalan dengan teori "mempertahankan pernikahan" ala pakar relationship. Bagaimana sebuah konflik bisa diselesaikan dengan cinta, keyakinan dan usaha.

I guess true love is truly exist. But it comes with terms and conditions; faith and effort. Tanpa kedua hal tersebut, cinta hanyalah bahan bakar yang nggak pernah di-ignite. Ibarat bensin yang nongkrong di tangki tanpa busi. You just lost the spark. Tapi tanpa cinta-tanpa bensin- even a ferrari won't move, ya nggak?

Selamat mencinta, selamat bercinta. Nikmatilah semua proses yang ada. Cheers!












Comments

  1. Duh sekalinya mampir temanya kok nyentil akoh banget nih wkwkwk.
    Jadi pingin curhat lagi #eh

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) 2015

Meminta Maaf

Balada Stik Es Krim