Memilih "Mazhab" Parenting Yang Sesuai

Selamat Hari Keluarga Nasional 2017! ^_^

"Harganas 2017" via www.bkkbn.go.id
Zaman dulu orang bilang, jadi orang tua itu nggak ada sekolahnya.
Tapi sekarang, jadi orang tua itu buanyaaaak sekolahnya.
Walaupun belum ada bentuk sekolah formalnya, tapi dengan kemajuan teknologi yang ada sekarang ini sepertinya sebagai mahmud alias mamah muda, kita disuguhkan dengan beragam pilihan keilmuan parenting. Ya nggak, buibu?

happy family via pexels.com

Setelah menikah, kami berusaha membekali diri dengan buku-buku parenting. Selain buku, banyak juga situs yang kami jadikan bahan bacaan daring. Dengan harapan, nanti ketika punya anak dan menemukan masalah, kami sudah siap. Nyatanya? Kedeerrr... hahaha..

Kenapa jadi keder?
Gini deh.. analoginya sama dengan belanja bulanan di supermarket. Niat awal dari rumah mau belanja A, B dan C. Lah, sampai supermarket malah jadi belanja X, Y dan Z. Keder, kan? karena terlalu banyak pilihan. Terlalu banyak "produk menggoda" sehingga kita terdistraksi dengan godaan-godaan produk yang sebetulnya tidak kita butuhkan.

Nah, menurut saya.. menurut saya, loh ya... memilih mazhab parenting itu ya seperti itu. Di tengah dalam dan luasnya lautan informasi yang demikian mudah diakses dengan ujung jari, kita malah jadi tenggelam di lautan tersebut. Kita malah hanyut dengan berselancar sana sini, mengikuti arus yang tidak jelas tanpa tujuan.

Padahal, memilih metode pengasuhan itu sama dengan berbelanja bulanan. Setiap rumah, beda kebutuhannya. Ada yang butuh beras, ada yang nggak. walaupun mostly penduduk Indonesia makan nasi, tapi ada kan orang-orang yang dilahirkan dengan selera nggak suka nasi? Lalu apa mereka salah? Ya nggak, lah. It's their own choices. Kita nggak bisa memaksa.

Maka ketika ada ibu yang memilih untuk memberikan ASI kepada anaknya, ya monggo... kalaupun memilih untuk memberikan susu formula pun, sah sah aja. Yang penting anaknya diberikan asupan, nggak dibiarkan kehausan dan kelaparan, deal?

Balik lagi ke kebutuhan setiap orang (keluarga) yang berbeda-beda. Maka nggak ada judgmental issue tentang siapa yang salah dan siapa yang benar, karena setiap orang akan berusaha memenuhi kebutuhannya masing-masing sesuai dengan porsinya.

Ada ibu yang cocok dengan metode belajar di Institut Ibu Profesional (IIP), ada yang tidak. Tapi bukan berarti ibu yang tidak belajar/ lulus di IIP adalah ibu yang kurang profesional. It's not our right to judge them. Karena menurut saya, IIP bukan jaminan dan IIP sendiri tidak menggaransi hal tersebut. Karena sejatinya, kualitas profesionalitas seorang ibu bukan dinilai dari berapa tugas yang ia kerjakan, tapi seberapa ridha suami dan anak-anaknya dengan beliau. Indikator setiap keluarga pun berbeda sesuai kebutuhan masing-masing. Maka, standar profesionalitas seorang ibu pun ditentukan oleh standar keluarga masing-masing.

Ada lagi gaya parenting Ayah Edy yang menggadang-gadang program home schooling. Lalu apa setiap keluarga yang menjadi "jamaah Ayah Edy" terjamin kesuksesannya? Belum tentu. Semua kembali ke keluarga tersebut.

Lain lagi dengan gaya parenting Ibu Elly Risman, psikolog yang mendedikasikan diri dan keluarganya ke pengembangan potensi dan cinta keluarga. Lalu apa keluarga yang tergabung dalam Fanpage "Elly Risman and Family" terjamin keharmonisannya? Belum tentu. Semua kembali ke masing-masing keluarga.

"splashing water" via pexels.com

"Harta yang paling berharga adalah keluarga", demikian lirik lagu soundtrack film "Keluarga Cemara",
Sebagaimana Paulo Colhoe menulis dalam buku "The Alchemist",

“Supaya menemukan harta karun itu, kau harus mengikuti pertanda-pertanda yang diberikan. Tuhan telah menyiapkan jalan yang mesti dilalui masing-masing orang. Kau tinggal membaca pertanda-pertanda yang ditinggalkan-Nya untukmu.” 
Maka sesungguhnya harta yang paling berharga, kebahagiaan yang paling kita cari, sejatinya ada di dekat kita sendiri. Tinggal bagaimana kita "pandai membaca" pertanda yang Allah telah tinggalkan untuk kita. :)


-Tulisan ini dibuat untuk memperingati "Hari Keluarga Nasional" yang jatuh pada tanggal 29 Juni 2017-



Comments

Popular posts from this blog

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) 2015

Meminta Maaf

Balada Stik Es Krim