Me-mandiri-kan Anak




Source: here

"Mas, ini siapa ya yang habis makan?" tanya saya siang itu.
"Mas...", sahutnya.
"Piringnya taruh dimana ya nak?"
"Di belakang... "
Kemudian si anak kecil berusia 3 tahun 7 bulan itu pun mengambil piring kotor yang dimaksud, membawanya ke dapur dan meletakkannya di samping sink.

Kejam?
Anak umur segitu sudah harus merapikan bekas makannya sendiri?
Well, as it's written by Kahlil Gibran above, we, parents are the bows. 
Sebagai orang tua, kita hanyalah busur dimana anak-anak kita akan pergi mengarah kemana pun tujuan hidup mereka.

Kita adalah hulu sungai tempat anak-anak meneguk mata air pertama mereka. 

Maka, apa salah ketika kita menerapkan kemandirian sejak dini? Menurut saya tidak, bahkan wajib hukumnya.
Apalah jadinya apabila saya tidak berumur panjang? Sedangkan untuk membereskan "bekas makannya" saja, anak saya belum mampu? Belum paham hal apa saja yang wajib ia kerjakan sendiri tanpa membutuhkan bantuan orang lain? Bekal apa yang sudah ia miliki ketika kami, orang tuanya,  telah dipanggil terlebih dahulu oleh Sang Maha Kuasa?

Even if he is just a-3y7m-yo boy? 
Yes, indeed.

Sejak bisa memegang sendok,  #Asaboy telah mulai "dilatih" untuk makan sendiri. Dengan keadaan ekonomi terbatas, kami berinvestasi untuk membelikannya sebuah kursi makan. Di ruang depan rumah kontrakan kami inilah #Asaboy belajar untuk feeding himself.  Berantakan? pastinya! maka setiap sesi makan akan diakhiri dengan sesi mandi. Ya, karena begini penampakannya setiap makan. :D

caught on camera! :D


Sekarang, ketika pergi makan bersama di luar, kami bisa menikmati hidangan di piring kami masing-masing dengan nikmat. Tanpa perlu gantian makan untuk menyuapi si bocah kecil.

Selain perihal makan, kami juga membiarkan #Asaboy untuk memilih baju yang ia ingin kenakan sehabis mandi. Maka habislah lemari pakaian diubek-ubek olehnya, kemudian kami harus membereskan kembali susunan pakaian seperti semula. Lelah, tapi itulah investasi tenaga dan waktu yang kami tanam agar anak kami dapat mandiri.

Seiring berjalannya waktu, saya sering terheran sendiri dengan perkembangan kemandirian si bocah. Seperti kemarin, saya dan #Asaboy berkunjung ke markas ICT Watch di bilangan Tebet. Setelah makan bekalnya siang itu, #Asaboy bangkit dari duduknya kemudian berjalan sendiri ke dapur lalu  mencuci tangannya di wastafel, tanpa saya suruh atau arahkan sebelumnya.
Yang lebih menyenangkan adalah ketika #Asaboy melantunkan surat Al-Fatehah dengan cukup fasih ketika mengikuti saya shalat dzuhur siang itu. Rupaya, rajin ikut tarawih berjamaah saat Ramadan kemarin membantunya untuk menghafal surat tersebut.

tapping his ticket on the gate

Tak terasa, si bocah akan menginjak usia 4 tahun di 2016 ini. Usia yang masih termasuk dalam golden years dalam kehidupannya. Sekaligus menjadi pijakan untuk bekal hidupnya nanti. Semoga, apa yang kini kami tanam dapat dituai dan menjadi berguna di kemudian hari. Amin.

"We will not live forever. But at least, you will have our love forever, boy."

Love, 
"mamoy & papoy" 

-Just my two cents- 











Popular posts from this blog

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) 2015

Meminta Maaf

Balada Stik Es Krim