Hamil Ektopik (2)

Disclaimer: Posting ini murni berisi kejadian yang saya alami dan tidak bermaksud untuk mendiskreditkan pihak-pihak tertentu. Semoga bermanfaat dan menjadi hikmah bagi para pembaca. 
 


Lanjutan dari posting ini 

Berdasarkan diagnosa sementara itu, akhirnya kami dirujuk untuk menemui dr. subspesialis kandungan di RS. Hermina juga, namun beliau praktek di klinik VIP. Alhasil, kami harus menunggu sampai hari sabtu.

Sabtu, 17 Oktober 2015
Hari yang dinanti tiba juga. Sejak pagi, kami sudah mengantri namun dokternya baru datang sekitar pukul 10. Kami baru masuk ke ruangan kurang lebih pukul 11. Dokter subspesialisnya cukup ramah. Saya pun diperiksa dengan USG transvaginal yang sangat nggak nyaman itu (I hate it!)
Setelah pemeriksaan, beliau menyampaikan dua berita. Satu berita baik dan satu berita buruk.
Berita baiknya, kantong kehamilan saya masih utuh. Berita buruknya, kehamilan tidak bisa dilanjutkan dan harus dikeluarkan secepatnya karena apabila dilanjutkan dan terjadi gangguan (ruptured), maka nyawa saya terancam! :(

 Sedih, takut, khawatir dan panik semua bercampur jadi satu.

It was fixed! Diagnosanya adalah, kehamilan saya ini adalah kehamilan ektopik kornu kiri. Demikian beliau menyatakan. Nggak ngerti, maka saya browsing dan berusaha mencari tahu tentang si hamil ektopik ini. Ternyata kantong kehamilan saya nyangkut di pojok kiri rahim, tepat di sebelah mulut saluran tuba falopii. Entah bagaimana bisa begitu, wallahualam.
image source: here
 Maka kami menanyakan bagaimana kelanjutannya, karena kami sudah pasrah dan memilih jalan yang terbaik. Sang dokter subspesialis menyarankan dua pilihan, yaitu dioperasi atau kemoterapi. Hanya dua pilihan itu yang tersisa karena posisinya tidak memungkinkan untuk diambil dengan tindakan kuretase.

Selasa, 21 Oktober 2015
Kembali ke RS Hermina untuk bertemu dengan dr. Fahmi,  follow up dan menentukan tindakan apa yang harus kami ambil selanjutnya. Setelah menyerahkan hasil USG dari dokter subspesialis, maka beliau menyarankan untuk tindakan kemoterapi mengingat kondisi kehamilan yang masih cukup muda dan belum terjadi ruptur. Terlihat sekali beliau sangat mengkhawatirkan kondisi saya, karena ternyata KEbT (Kehamilan Ektopik belum Terganggu) ini resikonya sangat besar. Jika terjadi ruptur/ pecah kantong kehamilan di dalam rahim dan tidak segera ditangani, saya bisa kehilangan nyawa akibat perdarahan di dalam.
Akhirnya beliau menanyakan sekali lagi apakah saya ingin di-kemoterapi (dengan segala efek negatif kemo) atau ingin dioperasi? Namun karena dua tindakan itu tidak ditanggung BPJS, maka saya dirujuk ke RS pemerintah (faskes 3) di bilangan Jakarta Selatan.
Akhirnya, pulang dari RS Hermina kami pun langsung meluncur ke RS pemerintah tersebut untuk mengetahui prosedur berobat menggunakan BPJS disana.

Rabu, 22 Oktober 2015
Selepas subuh, kami berangkat untuk mengambil nomor antrian. Papoy dengan setia mengantar dan menemani saya walaupun harus izin tidak masuk kerja. Tiba di RS pemerintah pukul 05.30 dan masyaallah antrian sudah mengular sampai parkiran. Akhirnya kami menunggu hingga pukul 08.00 untuk mendaftar secara umum agar diarahkan ke poli kandungan. Kami dipanggil sekitar pukul 9 kemudian dirujuk ke poli kandungan. Sampai disana, kami mengantri lagi hingga dipanggil sekitar pukul 12an.
Ketika masuk ruangan praktek dokter, suasananya demikian ramai dengan para dokter muda yang sedang praktek dan wara wiri dari satu ruang ke ruang praktek lainnya yang dihubungkan oleh pintu paralel antar ruangan. Kami dilayani oleh seorang dokter lelaki muda. Beliau cukup ramah, mendengar keluhan dan membaca catatan kronologis yang saya buat serta mempelajari USG dari dokter subspesialis, beliau menyatakan hal yang sama. Kemudian beliau bilang "periksa dalam ya bu". Suatu hal yang wajar bagi seorang dokter kandungan untuk melakukan "periksa dalam", yang nggak wajar adalah dokternya lebih dari satu.  

So, there I was. Sat awkwardly in a position of a-thanksgiving-turkey with a young male doctor put his hand "in me" while the other doctors paid attention on whatsoever the doctor did to me. 

Penantian sepanjang pagi berharap ada tindakan berarti tapi berakhir menjadi tontonan. What a day!

Setelah insiden periksa dalam, maka selanjutnya adalah penentuan tindakan. Kemo atau Operasi? Saat itu saya memilih operasi, karena saya merasa saya telah berhasil melalui operasi caesar. Kenapa yang ini tidak? Namun sang dokter muda menelepon dokter subspesialis (yang ternyata adalah dokter subspesialis yang juga praktek di RS Hermina). sang dokter subspesialis menyarankan untuk kemoterapi saja. (bersambung...)




Popular posts from this blog

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) 2015

Meminta Maaf

Balada Stik Es Krim